Semarang/NTT – Tim medis dari Universitas Diponegoro (Undip) turut memberikan layanan kesehatan dan pendampingan psikososial bagi masyarakat yang terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kehadiran tim medis perguruan tinggi menjadi bagian dari upaya membantu korban tidak hanya dari sisi kesehatan fisik, tetapi juga menghadapi dampak psikologis setelah bencana. Sejumlah perguruan tinggi memang turut mengirimkan relawan untuk membantu pemulihan psikososial masyarakat terdampak gempa NTT.
Layanan Kesehatan dan Pendampingan Psikososial
Gempa yang melanda wilayah NTT meninggalkan dampak cukup besar bagi masyarakat. Selain korban luka dan kerusakan tempat tinggal maupun fasilitas umum, bencana juga dapat menimbulkan kecemasan, ketakutan, gangguan tidur, hingga kesulitan berkonsentrasi.
Kondisi tersebut terutama dirasakan anak-anak yang mengalami langsung guncangan maupun gempa susulan. Dalam asesmen di Kabupaten Ngada dan Nagekeo, misalnya, masih ditemukan murid yang merasa takut berada di dalam rumah, sulit tidur, dan mengalami kecemasan akibat gempa susulan.
Karena itu, layanan kesehatan psikososial menjadi bagian penting dalam proses pemulihan pascabencana.
Anak-anak Menjadi Salah Satu Kelompok yang Diprioritaskan
Pendampingan psikososial diperlukan agar anak-anak dapat kembali merasa aman dan secara bertahap melanjutkan aktivitas sehari-hari.
Pendekatan kepada anak dapat dilakukan melalui aktivitas yang menyenangkan, permainan terstruktur, hingga teknik sederhana untuk membantu mereka mengelola rasa takut dan kecemasan.
Kemendikdasmen sebelumnya juga menggandeng Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) dalam memberikan dukungan psikososial kepada murid dan guru terdampak gempa di Ngada dan Nagekeo.
Pemulihan Tidak Hanya Soal Fisik
Penanganan korban bencana pada tahap awal memang memprioritaskan keselamatan dan kondisi kesehatan fisik. Namun, aspek psikologis juga perlu mendapat perhatian seiring proses pemulihan berjalan.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menyebut kesehatan mental korban gempa menjadi bagian dari penanganan terintegrasi. Pemerintah juga menggandeng berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi, untuk memberikan dukungan psikologis kepada masyarakat terdampak.
Pendekatan tersebut penting karena pengalaman bencana dapat meninggalkan trauma yang tidak selalu terlihat secara langsung.
Perguruan Tinggi Turut Bergerak
Keterlibatan tim medis Undip menunjukkan peran perguruan tinggi tidak hanya berada di lingkungan akademik.
Melalui tenaga medis, relawan, dosen, mahasiswa, dan jejaring institusinya, perguruan tinggi dapat berkontribusi langsung dalam penanganan keadaan darurat serta proses pemulihan masyarakat.
Kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, perguruan tinggi, organisasi profesi, dan masyarakat menjadi penting agar kebutuhan korban dapat ditangani secara lebih menyeluruh.
Dukungan Psikososial Bantu Korban Bangkit
Pemulihan pascabencana membutuhkan waktu. Karena itu, korban perlu mendapatkan dukungan secara berkelanjutan agar dapat kembali menjalani kehidupan sehari-hari.
Bagi anak-anak, pemulihan psikososial juga berkaitan erat dengan kemampuan mereka untuk kembali belajar dan beraktivitas di sekolah. Pendampingan yang tepat dapat membantu mereka merasa lebih aman dan mampu menceritakan pengalaman bencana tanpa rasa takut berlebihan.
Penanganan gempa bukan hanya tentang menyelamatkan korban dan memperbaiki bangunan yang rusak. Memulihkan rasa aman dan kesehatan mental masyarakat juga menjadi bagian penting dari proses bangkit setelah bencana.















