Nepal – Pemerintah Nepal meminta Meta dan TikTok segera menghapus berbagai konten menyesatkan yang beredar setelah bencana banjir bandang di Sungai Bhotekoshi, Nepal. Konten palsu tersebut dinilai berpotensi membingungkan masyarakat dan menghambat penyebaran informasi yang benar mengenai kondisi bencana.
Konten yang menjadi perhatian pemerintah Nepal tidak hanya berupa informasi palsu, tetapi juga mencakup video dan gambar hasil kecerdasan buatan (AI) yang seolah-olah menunjukkan kejadian nyata.
Video AI Diklaim sebagai Kejadian Nyata
Salah satu jenis informasi menyesatkan yang beredar adalah video dan gambar yang dibuat menggunakan teknologi AI.
Konten tersebut kemudian dibagikan dengan narasi seolah-olah merupakan dokumentasi langsung dari banjir bandang terbaru. Padahal, visual yang digunakan bukan berasal dari lokasi maupun waktu kejadian sebenarnya.
Perkembangan teknologi AI membuat masyarakat semakin sulit membedakan antara dokumentasi asli dan konten sintetis. Karena itu, kemampuan memverifikasi informasi menjadi semakin penting, terutama ketika terjadi bencana.
Rekaman Lama Diunggah Kembali
Selain konten buatan AI, pemerintah Nepal juga menemukan rekaman lama yang kembali diunggah dan diklaim sebagai dokumentasi bencana terbaru.
Penggunaan kembali video atau foto lama dengan konteks yang salah dapat membuat masyarakat mendapatkan gambaran keliru mengenai skala maupun kondisi terkini di lokasi bencana.
Informasi semacam ini juga berpotensi mengganggu upaya penyelamatan karena masyarakat dapat mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tidak sesuai keadaan sebenarnya.
Kode QR Donasi Palsu
Hal lain yang menjadi perhatian adalah munculnya kode QR palsu untuk meminta donasi.
Dalam situasi bencana, masyarakat biasanya terdorong membantu korban melalui sumbangan. Kondisi tersebut dapat dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan informasi donasi palsu dan mengarahkan bantuan ke rekening atau akun yang tidak berkaitan dengan korban.
Karena itu, masyarakat diimbau berhati-hati sebelum memberikan donasi melalui informasi yang ditemukan di media sosial.
Pemerintah Nepal Bertemu Meta dan TikTok
Pejabat pemerintah Nepal bertemu dengan perwakilan Meta dan TikTok pada Jumat (28/8/2026).
Dalam pertemuan tersebut, pemerintah meminta kedua platform mempercepat penanganan konten bermasalah yang berkaitan dengan bencana.
Pemerintah juga mendorong kedua perusahaan meningkatkan kemampuan algoritma dalam mendeteksi konten palsu, termasuk materi yang dibuat atau dimanipulasi menggunakan AI.
Tantangan Informasi di Era AI
Bencana alam membutuhkan informasi yang cepat dan akurat. Namun, perkembangan teknologi digital membuat informasi palsu dapat dibuat dan disebarkan dalam waktu singkat.
Kondisi ini menunjukkan bahwa penanganan misinformasi tidak cukup hanya mengandalkan pengguna untuk melakukan pemeriksaan secara manual. Platform digital juga memiliki peran penting dalam mendeteksi, memberi konteks, membatasi penyebaran, dan menghapus konten yang terbukti menyesatkan.
Masyarakat juga perlu membiasakan diri memeriksa sumber informasi sebelum membagikannya, terutama ketika informasi tersebut berkaitan dengan keselamatan dan donasi.
Kasus banjir Nepal menjadi pengingat bahwa di tengah perkembangan AI, masyarakat perlu semakin kritis terhadap foto dan video yang beredar. Konten yang terlihat nyata belum tentu merupakan dokumentasi kejadian sebenarnya.















