Malang – Menjadi wali asuh di Sekolah Rakyat Kabupaten Malang, Jawa Timur, membuat Sulaiman Sulang atau yang akrab disapa Sule menemukan pengalaman baru dalam mendampingi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Setelah sekitar 15 tahun bekerja sebagai staf tata usaha di salah satu SMK negeri, Sulaiman memilih mengabdikan diri sebagai wali asuh. Baginya, mendampingi anak-anak di Sekolah Rakyat bukan sekadar menjalankan aturan, tetapi membutuhkan kesabaran, kepedulian, dan keikhlasan.
Anak-anak Bahkan Mencari Ketika Ia Tidak Ada
Kedekatan Sulaiman dengan para siswa terlihat dari perhatian mereka terhadap kehadirannya. Ketika ia tidak berada di sekolah selama beberapa hari karena libur atau tugas dinas, anak-anak kerap menanyakan keberadaannya.
Bagi Sulaiman, hal tersebut menjadi salah satu alasan dirinya semakin betah menjalankan tugas sebagai wali asuh. Ia merasa kehadirannya memang dibutuhkan oleh anak-anak yang didampinginya.
Para siswa Sekolah Rakyat berasal dari keluarga yang masuk kategori Desil 1 dan 2 berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Sebagian di antaranya bahkan tidak lagi memiliki orang tua atau tinggal bersama kakek dan nenek.
Berasal dari Keluarga Petani di Flores
Kepedulian Sulaiman terhadap anak-anak yang hidup dalam keterbatasan tidak terlepas dari pengalaman masa kecilnya.
Ia lahir dan tumbuh di Flores, Nusa Tenggara Timur, dari keluarga petani. Kondisi ekonomi keluarganya membuat Sulaiman memahami bahwa mendapatkan pendidikan bukanlah sesuatu yang mudah.
Namun, keterbatasan tersebut tidak menghentikannya untuk melanjutkan pendidikan ke Malang.
Saat kuliah, ia bahkan tinggal menumpang di rumah bibinya dan bekerja membantu seorang dosen untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hampir empat tahun ia melakukan berbagai pekerjaan seperti mencuci piring, menyiram tanaman, dan menyapu halaman.
Dari Perjuangan Kuliah hingga Menjadi Penulis
Pengalaman bekerja di rumah dosen ternyata memberikan kesempatan lain bagi Sulaiman. Selain membantu pekerjaan sehari-hari, ia dapat membaca buku dan mengembangkan kemampuan menulis.
Kebiasaan tersebut kemudian membawanya menjadi seorang penulis.
Setelah menyelesaikan kuliah, Sulaiman telah menghasilkan 44 judul buku, dan seluruh karyanya diterbitkan dengan ISBN. Pada 2025, ia mendapatkan penghargaan dari Gubernur Jawa Timur sebagai penulis dengan jumlah karya terbanyak di Jawa Timur.
Pengalaman Ingin Dibagikan kepada Siswa
Selain dunia kepenulisan, Sulaiman juga aktif dalam kegiatan konservasi lingkungan, termasuk inovasi pengolahan limbah dan sampah.
Pengalamannya tersebut membawanya mengikuti berbagai pelatihan dan berbagi pengetahuan dengan sejumlah organisasi nonpemerintah (NGO), termasuk ke Malaysia dan berbagai daerah di Indonesia.
Kini, berbagai pengalaman tersebut ingin ia tularkan kepada siswa Sekolah Rakyat agar mereka memiliki wawasan dan keberanian untuk mengembangkan potensi masing-masing.
Pendidikan sebagai Jalan Mengubah Masa Depan
Kisah Sulaiman menunjukkan bahwa seseorang yang pernah merasakan keterbatasan dapat memilih untuk membantu anak-anak dengan kondisi serupa.
Ia tidak hanya mendampingi siswa dalam menjalani aktivitas sekolah, tetapi juga berusaha menjadi sosok yang dapat memberikan contoh, pengalaman, dan motivasi.
Dari keluarga petani di Flores, berjuang membiayai kuliah, menjadi penulis 44 buku, hingga kini mendampingi anak-anak Sekolah Rakyat. Perjalanan Sulaiman menjadi pengingat bahwa pendidikan dapat mengubah kehidupan sekaligus membuka kesempatan untuk membantu orang lain.
















