Jakarta – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) turut mendukung kolaborasi regional SEAMEO RECFON dalam pengembangan model Early Childhood Care, Nutrition and Education (ECCNE) yang inklusif bagi anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) di Asia Tenggara.
Dukungan tersebut ditunjukkan melalui partisipasi Kemendikdasmen dalam Kick-Off Meeting proyek Transcultural Adaptation of Early Childhood Care, Nutrition and Education (ECCNE) Module for an Inclusive ECCNE Model for Children with Autism Spectrum Disorder (ASD) in Southeast Asia) yang digelar secara daring pada 23 September 2026.
Kolaborasi ini merupakan bagian dari Inter-Centre Collaboration (ICC) yang melibatkan sejumlah pusat SEAMEO. SEAMEO RECFON berperan sebagai Lead Centre, bekerja sama dengan SEAMEO SEN Malaysia dan SEAMEO RETRAC Vietnam sebagai Co-Lead Centre. Proyek ini juga didukung mitra akademik dari Universitas Indonesia, Universiti Putra Malaysia, National Institute of Public Health Cambodia, dan National Institute of Nutrition Vietnam.
Fokus pada Layanan Anak dengan ASD
Kolaborasi tersebut dilatarbelakangi tantangan pemenuhan hak pendidikan dan pengasuhan bagi anak usia dini dengan ASD di sejumlah negara Asia Tenggara. Beberapa tantangan yang dibahas meliputi keterbatasan modul pengasuhan yang adaptif, kebutuhan peningkatan pelatihan tenaga pendidik, serta belum meratanya layanan gizi dan kesehatan.
Proyek ini bertujuan mengembangkan dan memvalidasi modul ECCNE, kemudian melakukan adaptasi lintas budaya dan menerapkannya sebagai proyek percontohan. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu mengatasi kesenjangan layanan pengasuhan bagi anak dengan ASD di kawasan Asia Tenggara.
Dalam sesi Country Perspectives, perwakilan Indonesia, Malaysia, Vietnam, dan Kamboja memaparkan kondisi layanan ECCNE dan ASD di masing-masing negara. Indonesia diwakili oleh Kemendikdasmen bersama Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN).
Tiga Fokus Utama Proyek
Pertemuan juga membahas tiga work package utama. WP1 berfokus pada aspek gizi dan kesehatan di bawah koordinasi SEAMEO RECFON. WP2 menangani pilar pengasuhan dan pendidikan yang dikoordinasikan SEAMEO SEN, sedangkan WP3 berfokus pada penguatan kepemimpinan dan sistem pendidikan di tingkat sekolah agar model ECCNE ASD dapat diterapkan secara efektif melalui koordinasi SEAMEO RETRAC.
Sebagai tindak lanjut, para pihak menyepakati pembentukan Technical Working Group (TWG), penyusunan analisis di masing-masing negara, serta penjadwalan pertemuan koordinasi berikutnya.
Bagi Indonesia, keterlibatan dalam proyek ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kebijakan pendidikan anak usia dini yang inklusif dan responsif terhadap kebutuhan anak dengan autisme. Kemendikdasmen menyatakan komitmennya untuk mendukung penguatan sistem pendidikan anak usia dini yang inklusif, khususnya bagi anak berkebutuhan khusus.








