Jakarta – Penguatan literasi, pendidikan multibahasa, dan pemanfaatan teknologi menjadi perhatian dalam 17th Governing Board Meeting (GBM) SEAMEO QITEP in Language (SEAQIL). Pertemuan tersebut mempertemukan perwakilan negara-negara anggota SEAMEO untuk membahas capaian sekaligus arah pengembangan program pendidikan bahasa di Asia Tenggara.
Pertemuan ke-17 SEAQIL tersebut diselenggarakan secara campuran atau mixed-mode di Jakarta pada 9 September 2026. Forum dihadiri perwakilan Sekretariat SEAMEO serta anggota Governing Board dari sejumlah negara anggota SEAMEO.
Bahasa Berperan Penting dalam Pembelajaran
Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Suharti, dalam sambutannya menekankan pentingnya bahasa dalam mendukung proses pembelajaran di berbagai mata pelajaran.
Menurutnya, peserta didik perlu memahami bahasa yang digunakan dalam pembelajaran sekaligus secara bertahap mengembangkan kemampuan dalam bahasa tambahan. Kemampuan bahasa menjadi salah satu fondasi agar peserta didik dapat memahami materi pembelajaran secara lebih baik.
Indonesia Perkuat Literasi dan Numerasi
Dalam forum tersebut, Suharti juga memaparkan berbagai upaya Indonesia dalam memperkuat kemampuan literasi dan numerasi, terutama melalui pembelajaran di jenjang sekolah dasar.
Penguatan tersebut dilakukan melalui pengembangan kompetensi guru serta pemanfaatan data asesmen diagnostik. Menurut Kemendikdasmen, peningkatan akses terhadap buku juga perlu diikuti dengan pemanfaatan buku secara rutin dalam proses pembelajaran di kelas.
Hal tersebut menunjukkan bahwa penyediaan bahan bacaan perlu berjalan beriringan dengan kebiasaan membaca dan penggunaan sumber belajar secara aktif dalam pembelajaran.
Rumah Pendidikan Dukung Transformasi Digital
Kemendikdasmen juga menyoroti Rumah Pendidikan sebagai salah satu bagian dari transformasi digital pendidikan Indonesia.
Platform tersebut dikembangkan sebagai ekosistem digital terintegrasi yang mendukung guru, peserta didik, dan berbagai pemangku kepentingan pendidikan. Pemanfaatan teknologi diharapkan dapat memperluas akses terhadap sumber belajar sekaligus mendukung proses pembelajaran.
Tiga Tantangan SEAQIL
Dalam pertemuan tersebut, Suharti menyampaikan tiga tantangan yang perlu menjadi perhatian SEAQIL dalam mendukung negara-negara anggota SEAMEO.
Pertama, memperkuat peran guru dalam mengintegrasikan literasi ke dalam pembelajaran sehari-hari. Kedua, mendorong penerapan Southeast Asian Roadmap on Multilingual Education (SEA-MLE Roadmap) melalui dialog kebijakan dan dukungan yang disesuaikan dengan konteks masing-masing negara.
Ketiga, memanfaatkan teknologi, termasuk kecerdasan artifisial (AI), untuk mendukung tujuan pembelajaran.
Pendidikan Multibahasa Perlu Disesuaikan dengan Konteks
Pendidikan multibahasa menjadi salah satu agenda penting dalam pembahasan SEAQIL. Setiap negara di Asia Tenggara memiliki kondisi bahasa, budaya, dan sistem pendidikan yang berbeda.
Karena itu, penerapan pendidikan multibahasa membutuhkan pendekatan yang mempertimbangkan konteks masing-masing negara. SEA-MLE Roadmap menjadi salah satu rujukan yang dibahas untuk mendukung pengembangan kebijakan pendidikan multibahasa di kawasan.
Kemendikdasmen juga menilai kerja SEAQIL dalam mengembangkan SEA-MLE Roadmap relevan dengan kebutuhan negara-negara anggota SEAMEO.
Riset TPACK Guru Bahasa Turut Dibahas
Selain pendidikan multibahasa, forum juga membahas penelitian regional mengenai Technological, Pedagogical, and Content Knowledge (TPACK) pada guru bahasa asing.
Riset tersebut dinilai relevan untuk membantu negara-negara anggota SEAMEO mengembangkan pendekatan pendidikan bahasa yang sesuai dengan kebutuhan dan konteks masing-masing.
TPACK sendiri berkaitan dengan keterpaduan pengetahuan teknologi, pedagogi, dan materi pembelajaran yang dibutuhkan guru dalam merancang pembelajaran.
12 Kertas Kerja Dibahas
Dalam GBM ke-17 SEAQIL, terdapat 12 kertas kerja yang dibahas. Topik yang dibicarakan antara lain literasi, pendidikan multibahasa, teknologi, serta tata kelola kelembagaan.
Forum tersebut juga menjadi ruang untuk mengevaluasi capaian SEAQIL sekaligus memberikan arahan terhadap pengembangan program dan kelembagaan pada masa mendatang.
Susunan Pimpinan GBM Disepakati
Dalam pertemuan tersebut, anggota Governing Board menyepakati susunan pimpinan untuk GBM tahun ini dan tahun berikutnya.
Laos, melalui Asst. Prof. Dr. Latsanyphone Soulignavong, terpilih sebagai Ketua. Indonesia, melalui Iwa Lukmana, menjadi Wakil Ketua, sedangkan Filipina, melalui Michael Joseph P. Cabauatan, dipercaya sebagai Chief Rapporteur.
Arahan dari Governing Board selanjutnya menjadi masukan bagi pengembangan program SEAQIL serta kontribusinya terhadap agenda pendidikan bahasa di kawasan Asia Tenggara.
Perkuat Kerja Sama Pendidikan Asia Tenggara
Direktur SEAQIL, Dr. Brian Arieska Pranata, menyampaikan bahwa pertemuan tersebut menjadi kesempatan untuk mengevaluasi capaian lembaga sekaligus mendapatkan arahan bagi pengembangan SEAQIL ke depan.
SEAQIL juga memiliki peran dalam mendorong pertukaran pengetahuan dan membantu negara-negara anggota SEAMEO menghadapi berbagai tantangan dalam pendidikan bahasa.
Dengan penguatan literasi, pendidikan multibahasa, serta pemanfaatan teknologi dan AI, SEAQIL diharapkan dapat terus mendukung peningkatan kualitas pendidikan bahasa di Asia Tenggara. Kolaborasi antarnegara menjadi salah satu bagian penting untuk mengubah hasil pertukaran pengetahuan menjadi langkah nyata dalam mendukung pembelajaran peserta didik.



