Jakarta – Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) ternyata tidak hanya membutuhkan listrik dan daya komputasi. Infrastruktur yang menjalankan layanan AI, terutama pusat data atau data center, juga membutuhkan air untuk membantu menjaga suhu perangkat tetap aman selama beroperasi.
Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI), Prof. Agustino Zulys, menjelaskan bahwa kebutuhan air tersebut berkaitan dengan proses pendinginan ribuan hingga jutaan chip yang menjalankan komputasi AI.
Chip AI Menghasilkan Panas
Ketika pengguna memberikan perintah atau prompt kepada AI, permintaan tersebut diproses oleh komputer yang berada di pusat data. Proses komputasi yang berlangsung pada chip menghasilkan panas sehingga temperatur perangkat harus dikendalikan.
Menurut Prof. Agustino, air memiliki kemampuan menyerap panas yang tinggi sehingga dapat dimanfaatkan dalam sistem pendinginan pusat data. Air yang digunakan dalam proses tersebut bukan untuk dikonsumsi manusia, melainkan untuk membantu menjaga perangkat agar tidak mengalami panas berlebih.
Ia menggambarkan proses tersebut secara sederhana dengan membandingkan AI dengan seseorang yang sedang berpikir. Semakin berat komputasi yang dilakukan, semakin besar pula panas yang dihasilkan perangkat.
Mengapa Data Center Membutuhkan Air Bersih?
Sistem pendingin pusat data memiliki berbagai teknologi. Pada sistem tertentu, air digunakan untuk membawa panas keluar dari perangkat melalui proses pendinginan.
Namun, kebutuhan air tersebut tidak berarti setiap pertanyaan kepada chatbot secara otomatis menggunakan jumlah air yang sama. Konsumsi air dapat berbeda-beda tergantung pada model AI, kapasitas komputasi, desain pusat data, sistem pendinginan, lokasi, hingga sumber energi yang digunakan.
Karena itu, angka konsumsi air AI perlu dipahami sebagai perkiraan yang bergantung pada kondisi teknologi dan infrastruktur yang digunakan.
Satu Data Center 100 MW Bisa Gunakan Jutaan Liter Air
Prof. Agustino menyebut sebuah pusat data dengan kapasitas 100 megawatt dapat menggunakan sekitar 2 juta liter air per hari untuk kebutuhan pendinginan.
Jumlah tersebut menunjukkan bahwa persoalan konsumsi air AI menjadi signifikan ketika teknologi digunakan dalam skala besar. Kebutuhan air tidak hanya berasal dari satu pengguna, tetapi dari operasi pusat data yang melayani banyak pengguna secara bersamaan.
Sebagai gambaran, Prof. Agustino mengibaratkan volume tersebut setara dengan kebutuhan air sekitar 6.500 rumah tangga.
Setiap Pertanyaan AI Tidak Bisa Disamakan
Pembahasan mengenai jejak air AI juga perlu memperhatikan konteks. Sebuah studi yang dikutip Prof. Agustino memperkirakan model AI tertentu dapat menggunakan sekitar setengah liter air untuk 50 respons, atau sekitar 50 mililiter per respons dalam kondisi yang diteliti.
Namun, angka tersebut bukan ukuran universal untuk setiap chatbot atau setiap pertanyaan AI. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa jejak air AI dapat berbeda berdasarkan lokasi pusat data, jenis sistem pendinginan, efisiensi perangkat, model AI, dan sumber listrik yang digunakan.
Artinya, tidak tepat menyimpulkan bahwa setiap kali seseorang menggunakan AI, jumlah air tertentu pasti habis.
Penggunaan AI Terus Meningkat
Kebutuhan sumber daya menjadi semakin penting karena penggunaan AI berkembang pesat. AI kini digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari mencari informasi, membuat tulisan, menganalisis data, membuat gambar, hingga membantu pekerjaan profesional.
Semakin banyak pengguna dan semakin kompleks tugas yang diberikan kepada sistem AI, semakin besar pula kebutuhan komputasi. Hal tersebut pada akhirnya meningkatkan kebutuhan listrik dan sistem pendinginan pada infrastruktur pusat data.
ANTARA juga mencatat bahwa penggunaan chatbot AI membutuhkan infrastruktur pusat data yang menggunakan listrik dan sistem pendingin, dengan kebutuhan air yang berbeda-beda tergantung pada teknologi dan lokasi pusat data.
AI Juga Memiliki Jejak Energi
Selain air, pusat data AI membutuhkan energi dalam jumlah besar. Chip yang menjalankan model AI membutuhkan listrik untuk melakukan miliaran operasi komputasi.
Kebutuhan listrik dan air tersebut saling berkaitan. Semakin besar kapasitas komputasi, semakin besar pula panas yang harus dikelola oleh sistem pendingin.
Karena itu, pembahasan mengenai dampak lingkungan AI tidak hanya berkaitan dengan penggunaan air, tetapi juga konsumsi energi, emisi, pembangunan pusat data, serta pengelolaan perangkat dan infrastrukturnya.
Teknologi Pendinginan Perlu Dibuat Lebih Efisien
Untuk mengurangi penggunaan air, efisiensi sistem pendinginan menjadi salah satu bagian penting yang dapat dikembangkan. Prof. Agustino menyebut sejumlah pendekatan seperti pendinginan dengan sistem siklus tertutup dan penggunaan kembali air dapat membantu mengurangi kebutuhan air baru.
Selain meningkatkan teknologi pusat data, efisiensi juga dapat dilakukan melalui pengurangan penggunaan komputasi yang tidak diperlukan. Pengguna dapat mempertimbangkan kebutuhan sebelum memberikan perintah kepada AI, terutama untuk aktivitas yang tidak membutuhkan pemrosesan kompleks.
Krisis Air dan Pertumbuhan AI Perlu Diperhatikan
Persoalan penggunaan air oleh pusat data AI menjadi semakin relevan di tengah meningkatnya tekanan terhadap sumber daya air. Guru Besar UI Prof. Firdaus Ali sebelumnya juga menekankan bahwa air merupakan sumber daya penting bagi keberlanjutan kehidupan dan menghadapi tekanan akibat perubahan iklim serta pertumbuhan populasi.
Kondisi tersebut membuat pengembangan infrastruktur AI perlu mempertimbangkan ketersediaan sumber daya lokal. Pembangunan pusat data di wilayah yang mengalami tekanan air dapat menimbulkan tantangan berbeda dibandingkan wilayah dengan ketersediaan air yang lebih baik.
Penggunaan AI Perlu Diiringi Efisiensi
AI memberikan berbagai manfaat dalam pendidikan, penelitian, bisnis, dan kehidupan sehari-hari. Namun, teknologi tersebut juga memiliki kebutuhan sumber daya yang tidak selalu terlihat oleh pengguna.
Jejak air menjadi salah satu contoh bahwa aktivitas digital tetap memiliki dampak fisik di dunia nyata. Di balik jawaban yang muncul dalam hitungan detik, terdapat pusat data, chip, listrik, sistem pendinginan, serta sumber daya lainnya yang membuat layanan AI dapat beroperasi.
Karena itu, perkembangan AI tidak hanya membutuhkan inovasi pada model dan perangkat lunak, tetapi juga teknologi pusat data yang lebih hemat energi dan air. Dengan efisiensi tersebut, pemanfaatan AI dapat terus berkembang dengan mempertimbangkan keberlanjutan sumber daya.








