Bandung – Institut Teknologi Bandung (ITB) memperkuat kerja sama pendidikan tinggi dengan Central South University (CSU), China, melalui pengembangan program double degree untuk jenjang magister. Program ini diarahkan untuk menyiapkan calon insinyur dengan kompetensi akademik dan pengalaman industri lintas negara.
Program tersebut merupakan bagian dari pembentukan Joint Graduate Institute for Engineers, yang melibatkan ITB, CSU, GEM Co., Ltd., dan SANY Group. Kerja sama ini menghubungkan pendidikan tinggi dengan kebutuhan industri, khususnya di bidang teknik metalurgi, material energi baru, dan pengembangan teknologi.
Program S2 ITB-CSU Mulai Digencarkan
Wakil Dekan Bidang Sumber Daya Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) ITB, Taufiq Hidayat, mengatakan program S2 tersebut mulai digencarkan pada 2026.
ITB dan CSU telah melakukan penyelarasan kurikulum untuk mempersiapkan program pendidikan bersama. Menurut Taufiq, terdapat beberapa perbedaan dalam kurikulum kedua perguruan tinggi, tetapi hal tersebut masih dapat diakomodasi dalam pelaksanaan program.
Melalui skema ini, mahasiswa akan mendapatkan pembimbing akademik dari ITB dan CSU. Selain mengikuti kegiatan akademik, mahasiswa juga berkesempatan memperoleh pengalaman profesional serta riset industri melalui keterlibatan dengan perusahaan mitra, termasuk GEM dan SANY.
Kolaborasi Pendidikan dan Industri
Joint Graduate Institute for Engineers dibentuk sebagai model kerja sama yang menggabungkan pendidikan tinggi dengan pengalaman industri secara langsung. Kerja sama tersebut ditandatangani ITB, CSU, GEM, dan SANY pada 22 Mei 2026.
Fokus utamanya adalah menyiapkan talenta insinyur Indonesia dan China yang memiliki kemampuan akademik sekaligus pemahaman terhadap kebutuhan industri. Program double degree ITB-CSU menjadi salah satu bentuk utama kerja sama tersebut.
Keterlibatan industri juga memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman yang lebih dekat dengan aktivitas penelitian dan pengembangan teknologi. Dengan demikian, proses pendidikan tidak hanya berlangsung di lingkungan kampus, tetapi juga terhubung dengan kebutuhan industri.
Fokus pada Teknik Metalurgi dan Material Energi Baru
Kerja sama ITB dan CSU telah berlangsung selama beberapa tahun, khususnya dalam bidang teknik metalurgi dan material energi baru.
Sebelumnya, ITB, CSU, dan GEM telah mengembangkan China-Indonesia Joint Research Laboratory for New Energy Materials and Metallurgical Engineering Technology di Kampus ITB Jatinangor. Laboratorium tersebut digunakan untuk mendukung riset dan pendidikan di bidang material energi baru serta rekayasa teknologi metalurgi.
Fasilitas riset bersama tersebut menjadi bagian dari ekosistem kerja sama yang mencakup penelitian, pendidikan, pertukaran mahasiswa, mobilitas dosen, publikasi ilmiah, hingga pengembangan teknologi.
Joint Research Laboratory ITB-CSU-GEM
Pengembangan laboratorium bersama menjadi salah satu fondasi penting dalam kerja sama ITB dengan CSU dan GEM. Fasilitas tersebut dirancang untuk mendukung penelitian mulai dari tahap eksploratif, eksperimen skala kecil, hingga eksperimen semi-industri.
Bidang penelitian yang dikembangkan antara lain ekstraksi sumber daya mineral, sintesis material energi baru, daur ulang sumber daya, serta pengelolaan lingkungan. Laboratorium juga dapat digunakan untuk mendukung penelitian mahasiswa magister dan doktoral.
Pada tahap pertama, fasilitas GEM–ITB–CSU Joint Research Laboratory di Jatinangor disebut memiliki investasi sebesar US$30 juta, dengan dua pusat penelitian dan rekayasa eksperimental serta 12 laboratorium penelitian. Fasilitas tersebut dilengkapi lebih dari 300 set peralatan penelitian dan instrumen pengujian.
Mahasiswa Bisa Mendapat Pengalaman Industri
Salah satu karakteristik program yang dikembangkan adalah keterhubungan antara pembelajaran akademik dan pengalaman industri. Mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk memperoleh pengetahuan teoritis, tetapi juga memahami penerapan teknologi dalam lingkungan profesional.
ITB menyebut mahasiswa dalam program tersebut akan mendapatkan pendampingan dari akademisi ITB dan CSU serta pengalaman riset dan profesional melalui perusahaan mitra. Skema ini diharapkan memperkuat kemampuan mahasiswa dalam menghadapi kebutuhan industri yang berkembang.
Ada Program Beasiswa Indonesia-Tiongkok
Selain program double degree, kerja sama Indonesia-Tiongkok di bidang metalurgi juga didukung program beasiswa. LPDP mencatat adanya Beasiswa Kerja Sama Indonesia–Tiongkok Bidang Metalurgi dan Perdagangan Internasional di Central South University (CSU) untuk jenjang master.
Program beasiswa tersebut berlangsung selama 36 bulan, termasuk satu tahun magang. Bidang studi yang tersedia mencakup Materials and Chemicals di School of Metallurgy and Environment serta Applied Economics – International Economics and Trade.
Pendanaan beasiswa mencakup biaya pendidikan, dana pendaftaran, tunjangan buku, bantuan penelitian tesis, seminar internasional, publikasi jurnal internasional, biaya hidup bulanan, asuransi kesehatan, transportasi, hingga kebutuhan visa dan izin tinggal sesuai ketentuan program.
Kerja Sama ITB dan CSU Terus Berkembang
Kerja sama ITB dan CSU juga telah menghasilkan berbagai kegiatan akademik. Pada Juli 2026, dua mahasiswa ITB menyelesaikan program pertukaran selama lima bulan di School of Metallurgy and Environment, CSU, dan mempresentasikan hasil penelitian mereka di hadapan akademisi CSU.
ITB dan CSU sebelumnya juga telah merencanakan berbagai bentuk kolaborasi, mulai dari joint research, joint supervision mahasiswa magister dan doktor, publikasi bersama, paten bersama, pertukaran mahasiswa, mobilitas dosen, hingga program double degree untuk jenjang magister dan doktor.
Pengembangan program double degree S2 tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas kerja sama pendidikan tinggi Indonesia-China, terutama dalam bidang yang berkaitan dengan metalurgi, mineral, material energi baru, dan teknologi industri.








