Lima – Seorang siswa laki-laki berusia 16 tahun di Peru melaporkan dugaan kekerasan seksual yang dilakukan sejumlah teman sekolahnya di dalam bus setelah mengikuti pertandingan olahraga. Kasus tersebut kini tengah diselidiki oleh otoritas Peru.
Peristiwa tersebut dilaporkan terjadi pada 15 September 2026 ketika rombongan siswa dari Liceo Naval Almirante Guise, San Borja, Lima, dalam perjalanan pulang setelah mengikuti turnamen olahraga.
Sejumlah Siswa Diamankan
Kasus tersebut kemudian ditangani aparat dan kejaksaan. Pada tahap awal, 10 siswa dari sekolah tersebut diamankan untuk menjalani proses pemeriksaan.
Pengadilan di Lima kemudian memerintahkan enam remaja untuk menjalani penahanan selama empat bulan di lembaga khusus anak sambil menunggu proses hukum lebih lanjut.
Karena seluruh pihak yang diperiksa masih berusia remaja, proses hukum dilakukan melalui sistem peradilan anak sesuai ketentuan yang berlaku di Peru.
Sekolah Dikelola Angkatan Laut Peru
Liceo Naval Almirante Guise merupakan sekolah menengah yang dikelola oleh Angkatan Laut Peru. Sekolah tersebut berada di San Borja dan sebagian siswanya berasal dari keluarga anggota angkatan laut.
Angkatan Laut Peru menyatakan telah menonaktifkan sementara sejumlah pegawai dan pengelola sekolah selama proses penyelidikan. Institusi tersebut juga menyatakan menolak segala bentuk kekerasan, pelecehan, maupun tindakan yang melanggar integritas siswa.
Dugaan Terjadi di Dalam Bus
Berdasarkan laporan keluarga korban, dugaan kekerasan seksual terjadi ketika bus membawa tim sepak bola sekolah pulang setelah mengikuti pertandingan.
Laporan media Peru menyebutkan bahwa aparat kemudian mendatangi sekolah untuk melakukan penyelidikan dan mengamankan sejumlah siswa yang diduga terlibat. Fiscalía atau kejaksaan keluarga juga melakukan sejumlah pemeriksaan sebagai bagian dari proses penyidikan.
Pihak berwenang masih harus memastikan fakta dan tanggung jawab masing-masing pihak melalui proses hukum. Karena itu, para siswa yang ditahan tetap berstatus sebagai pihak yang sedang menjalani proses hukum sampai terdapat keputusan sesuai ketentuan peradilan.
Kementerian Perempuan Beri Pendampingan
Kementerian Perempuan dan Kelompok Rentan Peru menyatakan telah berkomunikasi dengan keluarga siswa yang menjadi korban untuk memberikan pendampingan hukum dan bantuan psikologis.
Defensoría del Pueblo atau Ombudsman Peru juga meminta kejaksaan segera melakukan penyelidikan serta mendorong otoritas pendidikan mengambil langkah untuk mencegah kejadian serupa di lingkungan sekolah.
Polisi dan Kejaksaan Lakukan Penyelidikan
Proses penyelidikan dilakukan untuk mengungkap kronologi kejadian dan menentukan tanggung jawab pihak-pihak yang terkait.
Menurut laporan Infobae, Fiscalía de Familia telah mengumpulkan keterangan dan melakukan pemeriksaan terhadap pihak yang berkaitan dengan kasus tersebut. Aparat juga mengevaluasi tindakan orang dewasa yang bertanggung jawab selama perjalanan siswa.
Aspek pengawasan menjadi perhatian karena sejumlah laporan menyebut perjalanan tersebut melibatkan pendamping dari pihak sekolah. Namun, tanggung jawab masing-masing pihak masih menjadi bagian dari proses penyelidikan.
Laporan Kekerasan Seksual di Sekolah Meningkat
Kasus tersebut muncul di tengah laporan mengenai meningkatnya kekerasan seksual yang melibatkan pelajar di Peru.
Menurut data Kementerian Pendidikan Peru yang dikutip Liputan6, terdapat 1.198 laporan kekerasan seksual antarpelajar dalam delapan bulan pertama 2026, meningkat 35 persen dibandingkan 885 kasus pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kategori tersebut mencakup berbagai bentuk kekerasan dan pelecehan seksual, termasuk dugaan pemerkosaan.
Sejumlah ahli yang dikutip dalam laporan tersebut menilai peningkatan laporan ini perlu mendapat perhatian melalui pencegahan kekerasan, pengawasan sekolah, serta pendidikan mengenai relasi yang sehat dan penghormatan terhadap orang lain.
Perdebatan tentang Pendidikan Seks
Kasus tersebut juga memunculkan kembali perdebatan mengenai pendidikan seks di sekolah Peru.
Liputan6 melaporkan bahwa pada Mei 2026, Kementerian Pendidikan Peru memperkenalkan pedoman baru pendidikan seks berdasarkan prinsip yang disebut pemerintah sebagai ilmiah, biologis, dan etis. Kebijakan tersebut mendapat kritik karena sejumlah topik seperti hak seksual, orientasi seksual, identitas gender, dan kesetaraan tidak lagi tercantum dalam pedoman baru.
Sejumlah ahli berpendapat bahwa pendidikan mengenai batasan tubuh, persetujuan, empati, dan pencegahan kekerasan tetap diperlukan sebagai bagian dari upaya perlindungan anak. Pandangan tersebut merupakan pendapat para ahli yang dikutip media dan bukan kesimpulan hukum mengenai kasus yang sedang diperiksa.
Sekolah Janjikan Tindakan Disipliner
Pihak Liceo Naval Almirante Guise menyatakan akan bekerja sama dengan proses penyelidikan. Sekolah juga menyampaikan bahwa apabila terdapat pihak yang terbukti bertanggung jawab, tindakan disipliner akan diterapkan sesuai aturan yang berlaku.
Sementara itu, keluarga korban melalui kuasa hukumnya menyatakan akan menempuh langkah hukum terhadap pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab. Proses tersebut dapat mencakup pemeriksaan terhadap pihak sekolah maupun orang dewasa yang memiliki tanggung jawab dalam perjalanan siswa.
Perlindungan Siswa Jadi Perhatian
Kasus di Peru tersebut kembali menunjukkan pentingnya sistem perlindungan siswa dalam kegiatan sekolah, termasuk ketika peserta didik mengikuti kegiatan olahraga atau perjalanan menggunakan transportasi sekolah.
Pengawasan orang dewasa, mekanisme pelaporan, pendampingan korban, serta penanganan cepat ketika terjadi dugaan kekerasan menjadi bagian yang diperiksa dalam kasus tersebut.
Proses hukum masih berlangsung. Fakta lengkap mengenai kejadian dan tanggung jawab masing-masing pihak akan ditentukan berdasarkan hasil penyelidikan dan proses peradilan yang berlaku di Peru.








