Jakarta – Sejumlah sekolah di Indonesia memiliki sejarah panjang yang bermula sejak masa Hindia Belanda. Beberapa di antaranya bahkan masih digunakan sebagai tempat belajar hingga sekarang, meski nama, jenjang, maupun pengelolaannya telah mengalami perubahan.
Menentukan sekolah tertua di Indonesia tidak selalu sederhana. Sebab, usia sebuah sekolah dapat merujuk pada tahun berdirinya lembaga pendidikan, cikal bakal sekolah, atau bangunan yang saat ini masih digunakan. Karena itu, sekolah yang memiliki sejarah sejak abad ke-19 belum tentu memiliki bentuk kelembagaan yang sama dengan sekolah yang berdiri sekarang.
Berikut enam sekolah yang memiliki jejak sejarah panjang di Indonesia.
1. Santa Ursula Jakarta, Jejak Pendidikan Sejak 1859
Sejarah pendidikan Santa Ursula di Jakarta dapat ditelusuri hingga 18 Januari 1859. Pada saat itu, para suster Ursulin membuka kegiatan pendidikan di kawasan Weltevreden, Batavia, untuk anak-anak perempuan.
Namun, tahun 1859 bukan berarti sekolah Santa Ursula dalam bentuk yang sekarang berdiri pada tahun tersebut. Dalam perkembangan berikutnya, HBS Princess Juliana berdiri pada 1906 dan menjadi bagian dari sejarah SMA Santa Ursula.
SMA Santa Ursula mulai menyelenggarakan pendidikan pada tahun ajaran 1931/1932, sedangkan SMP Santa Ursula berdiri pada 28 Juli 1947.
2. SMAN 1 Semarang, Berakar dari HBS 1877
SMAN 1 Semarang memiliki sejarah yang berkaitan dengan Hoogere Burgerschool (HBS) Semarang yang telah berdiri sejak 1877.
Meski demikian, gedung yang sekarang digunakan SMAN 1 Semarang bukan bangunan yang berdiri pada 1877. Bangunan tersebut dibangun pada 1936–1938 dan diresmikan pada 1939.
Bangunan ini juga mengalami perubahan fungsi sepanjang sejarahnya. Pada masa pendudukan Jepang, misalnya, bangunan tersebut pernah digunakan untuk kepentingan militer. Setelah Indonesia merdeka, fungsi pendidikan kembali berjalan hingga kemudian dikenal sebagai SMAN 1 Semarang.
3. SDN Merdeka Bandung, Berdiri Sejak 1884
SDN Merdeka Bandung termasuk salah satu bangunan sekolah bersejarah yang masih digunakan untuk pendidikan.
Sejarahnya bermula pada 1884, ketika pemerintah Hindia Belanda membangun sekolah di kawasan yang sekarang dikenal sebagai Jalan Merdeka, Bandung.
Pada masa kolonial, sekolah tersebut digunakan oleh kelompok masyarakat yang berbeda pada waktu berbeda. Anak-anak keturunan Belanda menggunakannya pada pagi hari, sementara anak-anak pribumi dari kalangan priyayi menggunakannya pada sore hari.
Sejarah panjang tersebut menjadikan SDN Merdeka Bandung tidak hanya memiliki nilai pendidikan, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah perkembangan Kota Bandung.
4. SMPN 1 Jakarta, Bangunan Sejak 1907
SMP Negeri 1 Jakarta juga memiliki hubungan dengan bangunan sekolah yang berasal dari masa Hindia Belanda.
Bangunan yang sekarang digunakan sekolah tersebut berkaitan dengan Eerste School, yakni sekolah pemerintah kolonial yang diperuntukkan bagi anak-anak pribumi. Gedungnya selesai dibangun pada 1907 di kawasan Cikini, Jakarta.
Namun, perlu dibedakan antara usia bangunan dan usia lembaga SMPN 1 Jakarta. Setelah Indonesia merdeka, pengelolaan pendidikan beralih kepada pemerintah Indonesia dan sekolah tersebut kemudian menjadi SMP Negeri 1 Jakarta pada 1947.
5. SMAN 1 Yogyakarta, Berawal dari AMS 1930
Sejarah SMAN 1 Yogyakarta sebagai sekolah menengah dapat ditelusuri hingga 1930. Sekolah ini pada awalnya merupakan Algemeene Middelbare School (AMS) A Afdeling Yogyakarta.
AMS merupakan jenjang pendidikan menengah pada masa Hindia Belanda. Ketika Jepang menduduki Indonesia, sistem pendidikan mengalami perubahan dan sejumlah sekolah peninggalan Belanda ditutup atau diubah pengelolaannya.
AMS A dan AMS B Yogyakarta kemudian disatukan dan dikenal sebagai Sekolah Menengah Tinggi (SMT). Dalam perkembangan berikutnya, sekolah ini sempat dikenal sebagai SMA Teladan dan berdasarkan keputusan pada 1962 menggunakan nama SMA Negeri 1 Yogyakarta.
6. SMK Negeri 2 Yogyakarta atau STM Jetis
SMK Negeri 2 Yogyakarta yang berada di Jalan A.M. Sangaji Nomor 47 dikenal pula dengan nama STM Jetis atau STM 1 Yogyakarta.
Menurut sejarah sekolah, bangunan tersebut didirikan pada 1919 dan pada masa kolonial digunakan sebagai Princess Juliana School (PJS). Sekolah tersebut merupakan sekolah teknik tingkat pertama pada masa Hindia Belanda.
Bangunan utamanya memiliki karakter arsitektur Indis, seperti atap dengan kemiringan tinggi, dinding tebal, serta pintu dan jendela berukuran besar. Bangunan tersebut mengalami sejumlah renovasi dan penambahan ruang, antara lain pada 1929, 1950, dan 1954.
Pemerintah kemudian menetapkan bangunan tersebut sebagai bangunan cagar budaya melalui Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.25/PW.007/MKP/2007. Status cagar budaya tersebut juga tercatat dalam basis data cagar budaya Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sejarah Sekolah Tidak Hanya Dilihat dari Tahun Berdiri
Enam sekolah tersebut menunjukkan bahwa sejarah pendidikan di Indonesia memiliki perjalanan yang panjang. Beberapa lembaga berakar dari sekolah pada masa kolonial, sementara bangunannya kemudian digunakan oleh sistem pendidikan Indonesia setelah kemerdekaan.
Karena itu, istilah sekolah tertua perlu dilihat berdasarkan konteksnya. Tahun berdirinya cikal bakal lembaga, tahun pembangunan gedung, dan tahun berdirinya sekolah dengan nama serta struktur kelembagaan saat ini bisa berbeda.
Keberadaan sekolah-sekolah bersejarah tersebut juga memperlihatkan bahwa bangunan pendidikan dapat menjadi bagian dari warisan sejarah dan budaya yang masih memiliki fungsi hingga sekarang.








