JAKARTA – Hewan laut bercangkang keras yang menyerupai kepiting ternyata memiliki hubungan evolusi yang lebih dekat dengan laba-laba dan kalajengking. Hewan tersebut adalah kepiting tapal kuda atau belangkas, yang dikenal dengan bentuk tubuh menyerupai perisai dan ekor panjang meruncing.
Meski disebut kepiting, belangkas bukan termasuk kelompok kepiting sejati. Kepiting biasa tergolong krustasea, sedangkan belangkas termasuk kelompok Chelicerata, kelompok artropoda yang juga mencakup laba-laba, kalajengking, tungau, dan kutu.
Penelitian genetika yang dilakukan oleh ahli biologi evolusi Jesús Ballesteros dan Prashant Sharma dari University of Wisconsin–Madison memperkuat bukti bahwa belangkas memiliki hubungan kekerabatan dekat dengan kelompok araknida. Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal Systematic Biology. <Cite refs={[“turn736931search0″,”turn736931search5”]}/>
1. Mengenal Belangkas, Hewan Laut yang Mirip Kepiting
Belangkas memiliki nama ilmiah Tachypleus gigas. Hewan ini mempunyai cangkang keras berbentuk tapal kuda, bagian tubuh belakang yang lebih kecil, serta ekor panjang menyerupai duri.
Di Indonesia, belangkas juga dikenal dengan sejumlah nama lokal, seperti mimi, blangkas, dan kepiting tapal kuda. Penampilannya membuat hewan ini sering disangka sebagai kepiting biasa.
Namun, bentuk tubuh yang mirip tidak selalu menunjukkan hubungan kekerabatan yang dekat. Dalam klasifikasi ilmiah, belangkas berbeda dari kepiting sejati karena memiliki struktur tubuh dan sejarah evolusi yang berbeda.
Belangkas merupakan bagian dari kelompok hewan laut yang telah memiliki sejarah evolusi sangat panjang. Fosil kelompok ini menunjukkan bahwa kerabat awalnya telah hidup sejak ratusan juta tahun lalu. <Cite refs={[“turn736931search3″,”turn736931search4”]}/>
2. Mengapa Belangkas Berkerabat dengan Laba-laba?
Hubungan kekerabatan belangkas dengan laba-laba diketahui melalui analisis genetik. Para peneliti membandingkan materi genetik dari belangkas dengan berbagai kelompok araknida untuk menyusun pohon evolusi.
Hasil analisis tersebut berulang kali menempatkan belangkas di dalam kelompok evolusi araknida, bukan sebagai kelompok terpisah yang hanya berkerabat jauh dengannya.
Temuan ini menarik karena belangkas hidup di laut, sementara sebagian besar araknida yang dikenal masyarakat, seperti laba-laba dan kalajengking, hidup di daratan.
Penelitian tersebut membantu ilmuwan memahami bahwa klasifikasi hewan perlu mempertimbangkan hubungan evolusi berdasarkan data genetik, bukan hanya berdasarkan kemiripan bentuk tubuh atau habitatnya. <Cite refs={[“turn736931search2″,”turn736931search5”]}/>
3. Sama-sama Memiliki Struktur Tubuh Khas Artropoda
Belangkas, laba-laba, dan kalajengking termasuk kelompok artropoda. Hewan dalam kelompok ini memiliki rangka luar yang keras, tubuh bersegmen, dan kaki berbuku-buku.
Pada belangkas, bagian depan tubuh dilindungi cangkang lebar yang menyerupai tapal kuda. Hewan ini memiliki beberapa pasang anggota gerak di bagian bawah tubuhnya untuk berjalan dan membantu menangani makanan.
Sementara itu, laba-laba memiliki empat pasang kaki berjalan dan struktur tubuh yang disesuaikan dengan kehidupan di darat. Kalajengking juga mempunyai empat pasang kaki berjalan, tetapi dilengkapi capit besar dan ekor berujung sengat.
Perbedaan bentuk tubuh tersebut merupakan hasil adaptasi terhadap lingkungan dan cara hidup masing-masing. Meskipun demikian, sejumlah karakteristik dasar dan bukti genetik menunjukkan adanya hubungan evolusi di antara kelompok-kelompok tersebut. <Cite refs={[“turn736931search5″,”turn736931search6”]}/>
4. Belangkas Memiliki Sistem Pernapasan yang Unik
Salah satu ciri menarik belangkas adalah sistem pernapasannya. Hewan ini menggunakan insang buku yang berada di bagian bawah tubuhnya untuk mengambil oksigen dari air.
Struktur tersebut tersusun atas lembaran-lembaran tipis yang membantu pertukaran gas. Sementara itu, sejumlah araknida darat, seperti laba-laba dan kalajengking, memiliki organ pernapasan yang dikenal sebagai paru-paru buku atau menggunakan sistem trakea, bergantung pada kelompoknya.
Kemiripan istilah “buku” pada kedua struktur tersebut berkaitan dengan susunan lembaran tipis yang membantu pertukaran gas. Namun, insang buku dan paru-paru buku memiliki fungsi sesuai dengan lingkungan tempat hewan hidup.
Perbedaan sistem pernapasan ini menunjukkan bahwa hubungan kekerabatan tidak berarti dua hewan harus memiliki cara hidup atau organ yang sepenuhnya sama. <Cite refs={[“turn736931search0″,”turn736931search6”]}/>
5. Mengapa Darah Belangkas Berwarna Biru?
Selain hubungan kekerabatannya dengan laba-laba, belangkas juga dikenal karena darahnya berwarna biru.
Warna tersebut berasal dari hemocyanin, protein pengangkut oksigen yang menggunakan unsur tembaga. Ketika berikatan dengan oksigen, hemocyanin menghasilkan warna biru.
Hal ini berbeda dari hemoglobin pada manusia yang menggunakan unsur besi dan membuat darah tampak merah.
Darah belangkas memiliki komponen yang dimanfaatkan dalam pengujian kontaminasi bakteri pada produk medis. Karena itu, hewan ini memiliki nilai penting bagi penelitian dan bidang kesehatan. Pemanfaatannya perlu dilakukan dengan memperhatikan kelestarian populasi dan kesejahteraan hewan. <Cite refs={[“turn736931search4″,”turn736931search3”]}/>
6. Sudah Ada Sejak Ratusan Juta Tahun Lalu
Belangkas kerap dijuluki living fossil atau fosil hidup karena kelompoknya memiliki sejarah evolusi yang sangat panjang dan mempertahankan sejumlah ciri bentuk tubuh selama jutaan tahun.
Catatan fosil menunjukkan bahwa kerabat awal kelompok belangkas telah hidup sejak ratusan juta tahun lalu, jauh sebelum kemunculan manusia modern.
Meski demikian, istilah fosil hidup tidak berarti belangkas sama sekali tidak mengalami evolusi. Populasinya tetap mengalami perubahan genetik dan adaptasi dari generasi ke generasi.
Keberadaan belangkas menjadi sumber informasi penting bagi ilmuwan untuk mempelajari sejarah evolusi artropoda, perubahan lingkungan laut, serta hubungan kekerabatan antarhewan. <Cite refs={[“turn736931search3″,”turn736931search4”]}/>
7. Apa Arti Penemuan Ini bagi Ilmu Pengetahuan?
Penelitian tentang hubungan belangkas dengan araknida memperlihatkan pentingnya analisis genetik dalam mengungkap sejarah evolusi.
Selama bertahun-tahun, bentuk tubuh dan habitat belangkas membuat posisinya dalam pohon kekerabatan sulit dipastikan. Kemajuan teknologi analisis genom membantu peneliti menguji berbagai hipotesis dan membandingkan hubungan antarkelompok hewan secara lebih terperinci.
Temuan tersebut juga menjadi pengingat bahwa kemiripan penampilan tidak selalu mencerminkan kedekatan evolusi. Sebaliknya, hewan yang hidup di lingkungan berbeda dapat memiliki nenek moyang bersama yang lebih dekat daripada perkiraan berdasarkan penampilan luarnya.
Dengan memahami hubungan tersebut, ilmuwan dapat menyusun klasifikasi yang lebih sesuai dengan sejarah evolusi dan mempelajari bagaimana artropoda beradaptasi dengan lingkungan laut maupun daratan.
Kesimpulan
Belangkas atau kepiting tapal kuda bukanlah kepiting sejati. Hewan ini termasuk kelompok Chelicerata dan memiliki hubungan evolusi yang dekat dengan laba-laba serta kalajengking.
Bukti genetik membantu ilmuwan menempatkan belangkas dalam pohon kekerabatan araknida. Meskipun hidup di laut dan memiliki insang buku, hewan ini berbagi sejarah evolusi dengan kelompok araknida yang banyak hidup di darat.
Penemuan ini menunjukkan bahwa untuk memahami kekerabatan hewan, ilmuwan perlu menggabungkan bukti genetika, anatomi, dan fosil, bukan hanya mengandalkan kemiripan bentuk tubuh.





