Cuaca panas tidak hanya membuat tubuh gerah dan cepat lelah, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi emosional seseorang. Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Alifah Nabilah Masturah, S.Psi., M.A., menjelaskan bahwa rasa tidak nyaman akibat suhu tinggi dapat meningkatkan stres dan membuat seseorang lebih mudah tersulut emosi. <Cite refs={[“turn538323search1″,”turn538323search2”]}/>
Menurut Alifah, kondisi tersebut berkaitan dengan teori beban stimulus, yaitu ketika tubuh menerima rangsangan lingkungan melebihi kapasitas normalnya. Situasi ini dapat meningkatkan hormon kortisol yang berperan dalam respons stres. Akibatnya, seseorang bisa menjadi lebih sensitif saat menerima perkataan atau tindakan orang lain. Hal yang sebenarnya netral pun berpotensi dianggap mengganggu atau bernada negatif. <Cite refs={[“turn538323search2″,”turn538323search3”]}/>
Selain cuaca panas, dehidrasi dan kurang tidur juga dapat memperburuk kondisi fisik serta kemampuan seseorang mengendalikan emosi. Karena itu, menjaga kebutuhan cairan dan kualitas tidur menjadi hal penting agar tubuh dapat beristirahat dan beradaptasi dengan lebih baik.
Alifah menyarankan masyarakat untuk mengurangi paparan panas ketika mulai merasa tidak nyaman, misalnya dengan berteduh, minum air, atau mencuci muka. Mengenali emosi dan memahami hal-hal yang memicu stres juga dapat membantu seseorang mengelola respons emosional saat cuaca panas.











