Mahasiswa dan pekerja perlu mewaspadai functional burnout, yaitu kondisi ketika seseorang masih mampu menjalankan aktivitas dan menyelesaikan tanggung jawab sehari-hari, tetapi energi serta kesehatan mentalnya terus terkuras. Kondisi ini kerap tidak disadari karena penderitanya masih terlihat produktif dari luar.
Wakil Dekan II Fakultas Psikologi Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Onny Fransinata Anggara, menjelaskan bahwa budaya yang menuntut seseorang untuk selalu produktif atau hustle culture dapat membuat kelelahan berkepanjangan dianggap sebagai hal biasa. Padahal, jika tidak ditangani, kondisi tersebut berisiko mengganggu fungsi diri secara perlahan.
5 Ciri Functional Burnout yang Perlu Diwaspadai
1. Produktivitas mulai menurun
Seseorang mungkin masih bekerja atau kuliah seperti biasa, tetapi jumlah pekerjaan yang dapat diselesaikan semakin sedikit. Misalnya, pekerjaan yang sebelumnya dapat dituntaskan sebanyak lima laporan sehari perlahan berkurang menjadi tiga atau dua laporan.
2. Sulit berkonsentrasi
Kelelahan mental dapat membuat seseorang kesulitan mempertahankan fokus. Pekerjaan sederhana terasa lebih berat, membutuhkan waktu lebih lama, dan lebih sulit diselesaikan dibandingkan sebelumnya.
3. Kehilangan minat terhadap aktivitas yang disukai
Kegiatan yang dahulu terasa menyenangkan mulai kehilangan daya tarik. Seseorang juga dapat merasa kurang bersemangat menjalani pekerjaan, perkuliahan, atau aktivitas sosial.
4. Energi mental terus terkuras
Meskipun masih menjalankan tanggung jawab, seseorang dapat merasa kelelahan berkepanjangan. Istirahat yang tidak memadai dan tekanan yang terus menumpuk bisa membuat aktivitas sehari-hari terasa semakin membebani.
5. Mulai menarik diri dari lingkungan sosial
Seseorang mungkin mengurangi interaksi dengan teman, rekan kerja, atau keluarga karena merasa kehabisan energi untuk berkomunikasi. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat mengurangi dukungan sosial yang sebenarnya dibutuhkan.
Apa Penyebab Functional Burnout?
Menurut Onny, burnout tidak selalu disebabkan oleh banyaknya pekerjaan fisik. Pola pikir, cara menghadapi tekanan, dan kebiasaan menghabiskan energi untuk memikirkan hal-hal di luar kendali juga dapat berperan.
Kebiasaan membandingkan pencapaian diri dengan kehidupan orang lain turut memperbesar tekanan. Ketika istirahat dianggap sebagai kemalasan dan mengambil jeda dipandang sebagai kegagalan, seseorang cenderung terus memaksakan diri meskipun sudah kelelahan.
Cara Mengatasi Functional Burnout
Ketika kelelahan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, seseorang disarankan mengambil jeda dari sumber tekanan. Langkah awal yang dapat dilakukan antara lain beristirahat, mengambil cuti jika memungkinkan, bercerita kepada orang tepercaya, dan melakukan aktivitas fisik yang sehat.
Jika kondisi berlanjut, mengganggu kepercayaan diri, atau membuat tanggung jawab sehari-hari semakin sulit dijalankan, berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental dapat menjadi pilihan. Dukungan dari keluarga, kampus, dan tempat kerja juga penting untuk menciptakan lingkungan yang tidak hanya menuntut produktivitas, tetapi turut memperhatikan kesejahteraan mental.
Functional burnout menjadi pengingat bahwa tetap produktif tidak selalu berarti seseorang berada dalam kondisi baik. Mengenali tanda-tandanya sejak dini dan memberikan waktu untuk memulihkan diri dapat membantu menjaga keseimbangan antara tanggung jawab dan kesehatan mental.








