JAKARTA – Jalan aspal yang cepat berlubang sering dikaitkan dengan kendaraan berat seperti truk dan bus. Namun, menurut pakar infrastruktur jalan dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), kerusakan jalan tidak hanya disebabkan oleh beban kendaraan, tetapi juga kondisi tanah dasar, sistem drainase, dan kualitas konstruksi.
Dosen Departemen Teknik Sipil ITS, Dr Catur Arif Prastyanto, ST, MEng, menjelaskan bahwa kerusakan dini dapat terjadi ketika struktur jalan tidak mampu menahan beban lalu lintas sesuai perencanaan. Air yang masuk dan terperangkap di dalam lapisan perkerasan juga dapat memperlemah struktur jalan.
Karena itu, pembangunan jalan yang tahan lama memerlukan perencanaan yang tepat, penggunaan material sesuai spesifikasi, sistem drainase yang baik, serta pengawasan terhadap kendaraan yang membawa muatan berlebih. <Cite refs={[“turn592356news9″,”turn592356search1”]}/>
1. Tanah Dasar yang Tidak Stabil
Penyebab pertama jalan aspal cepat rusak adalah kondisi badan jalan atau tanah dasar (subgrade) yang tidak stabil. Tanah dasar merupakan fondasi yang menopang seluruh lapisan perkerasan jalan.
Apabila tanah di bawah jalan memiliki daya dukung rendah atau mengalami perubahan kondisi, beban kendaraan dapat membuat permukaan jalan mengalami penurunan, retak, hingga bergelombang.
Masalah tersebut dapat muncul ketika perencanaan fondasi tidak sesuai dengan karakteristik tanah atau proses pemadatan tidak dilakukan secara optimal.
Menurut Catur, kestabilan badan jalan menjadi faktor penting karena beban kendaraan diteruskan dari lapisan aspal ke lapisan fondasi hingga tanah dasar.
Oleh sebab itu, sebelum jalan dibangun, kondisi tanah perlu diperiksa agar struktur fondasi dan ketebalan perkerasan dapat disesuaikan dengan kebutuhan serta beban lalu lintas yang diperkirakan. <Cite refs={[“turn592356search1″,”turn592356search10”]}/>
2. Air yang Terjebak di Dalam Struktur Jalan
Faktor kedua adalah air yang masuk ke dalam lapisan perkerasan. Walaupun aspal tidak larut dalam air, struktur jalan memiliki pori-pori dan sambungan yang memungkinkan air meresap melalui retakan atau celah konstruksi.
Jika sistem drainase tidak berfungsi dengan baik, air dapat tertahan di dalam struktur jalan dan melemahkan ikatan antara aspal dengan agregat atau material penyusunnya.
Ketika kendaraan melintas berulang kali di atas struktur yang melemah, kerusakan dapat berkembang menjadi retakan, permukaan terkelupas, atau lubang.
Inilah salah satu alasan jalan berlubang sering ditemukan setelah hujan deras atau pada musim hujan. Air yang tidak segera dialirkan dapat mempercepat kerusakan, terutama apabila kondisi fondasi jalan juga kurang baik.
Karena itu, pembangunan saluran drainase yang memadai dan pemeliharaan saluran air menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan jalan beraspal. <Cite refs={[“turn592356search3″,”turn592356search5”]}/>
3. Kendaraan ODOL Membebani Jalan Melebihi Kapasitas
Kendaraan berat memang dapat mempercepat kerusakan jalan, terutama jika muatannya melebihi kapasitas yang telah diperhitungkan dalam desain perkerasan.
Salah satu persoalan yang disoroti adalah kendaraan ODOL (Over Dimension Over Load), yaitu kendaraan yang melampaui ketentuan dimensi atau muatan yang berlaku.
Setiap jalan dirancang berdasarkan karakteristik tertentu, termasuk jenis kendaraan yang akan melintas, volume lalu lintas, dan beban sumbu kendaraan. Ketika kendaraan dengan muatan berlebih melintas secara berulang, tekanan pada struktur perkerasan meningkat dan risiko kerusakan dini dapat bertambah.
Namun, kendaraan berat bukan satu-satunya penyebab. Jalan dengan fondasi kuat, konstruksi sesuai standar, dan drainase yang baik memiliki kondisi berbeda dibandingkan jalan yang sejak awal memiliki kelemahan struktural.
Karena itu, pengendalian kendaraan ODOL perlu berjalan bersama peningkatan kualitas pembangunan dan pemeliharaan jalan. <Cite refs={[“turn592356news9″,”turn592356search10”]}/>
4. Material dan Proses Konstruksi Juga Menentukan
Selain kondisi tanah, air, dan beban kendaraan, kualitas material serta pelaksanaan konstruksi ikut menentukan usia layanan jalan.
Penggunaan material yang tidak sesuai spesifikasi, komposisi campuran yang tidak tepat, atau pekerjaan pemadatan yang kurang optimal dapat menyebabkan lapisan perkerasan tidak memiliki kekuatan yang dibutuhkan.
Jika kualitas konstruksi tidak sesuai dengan perencanaan, jalan berpotensi mengalami retakan, deformasi, atau kerusakan permukaan lebih cepat daripada yang diharapkan.
Oleh karena itu, pembangunan jalan perlu mengikuti standar teknis, mulai dari pemeriksaan tanah, pemilihan material, pelaksanaan pekerjaan, hingga pengujian hasil konstruksi.
Pengawasan selama proses pembangunan juga penting untuk memastikan setiap lapisan jalan memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan. <Cite refs={[“turn592356news9″,”turn592356search1”]}/>
5. Tiga Langkah agar Jalan Aspal Lebih Awet
Menurut Catur, ada tiga aspek utama yang perlu diperhatikan untuk menjaga ketahanan jalan dalam jangka panjang.
Pertama, memastikan badan jalan dan tanah dasar stabil. Pemeriksaan kondisi tanah, perencanaan fondasi, serta pemadatan yang sesuai diperlukan agar struktur jalan mampu menahan beban lalu lintas.
Kedua, menyediakan sistem drainase yang baik. Air hujan harus dialirkan dengan benar agar tidak menggenang atau masuk ke dalam lapisan perkerasan dan merusak struktur dari dalam.
Ketiga, menegakkan aturan kendaraan ODOL. Kendaraan perlu beroperasi sesuai ketentuan dimensi dan muatan agar beban yang diterima jalan tidak melampaui batas perencanaan.
Ketiga aspek tersebut perlu diterapkan sejak tahap perencanaan dan pembangunan hingga pemeliharaan jalan. Dengan begitu, risiko kerusakan dini dapat ditekan dan kebutuhan perbaikan berulang berpotensi berkurang. <Cite refs={[“turn592356search1”]}/>
6. Mengapa Perbaikan Jalan Tidak Cukup dengan Menambal Lubang?
Menambal lubang dapat menjadi solusi untuk menangani kerusakan lokal. Namun, apabila penyebab utama kerusakan belum diperbaiki, lubang yang sama atau kerusakan baru dapat muncul kembali.
Sebagai contoh, jika air terus masuk ke lapisan jalan akibat drainase yang buruk, penambalan permukaan saja belum tentu menyelesaikan masalah. Demikian pula jika tanah dasar mengalami penurunan atau kendaraan bermuatan berlebih terus melintas.
Penanganan jalan perlu diawali dengan pemeriksaan kondisi perkerasan untuk mengetahui tingkat dan penyebab kerusakan. Setelah itu, metode perbaikan dapat dipilih sesuai kebutuhan, mulai dari penambalan, pelapisan ulang, perbaikan fondasi, hingga rekonstruksi pada bagian yang mengalami kerusakan berat.
Pendekatan tersebut membantu memastikan bahwa perbaikan tidak hanya memperbaiki tampilan permukaan, tetapi juga menangani masalah struktural yang mendasarinya. <Cite refs={[“turn592356search6″,”turn592356search7”]}/>
Kesimpulan
Jalan aspal dapat cepat rusak akibat beberapa faktor yang saling berkaitan, yaitu tanah dasar yang tidak stabil, air yang terperangkap dalam struktur perkerasan, serta kendaraan ODOL yang memberikan beban berlebih.
Kualitas material dan pelaksanaan konstruksi juga berpengaruh terhadap ketahanan jalan. Karena itu, kerusakan jalan tidak bisa selalu disalahkan pada kendaraan berat saja.
Pakar ITS menekankan pentingnya fondasi yang stabil, drainase yang baik, dan penegakan aturan muatan kendaraan. Ketiga langkah tersebut, disertai konstruksi sesuai standar dan pemeliharaan berkala, diperlukan untuk menjaga kualitas infrastruktur jalan dalam jangka panjang.










