Penggunaan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) semakin marak di dunia pendidikan. Teknologi ini membantu siswa menyelesaikan tugas, mencari informasi, merangkum materi, hingga menyusun tulisan akademik. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan mengenai dampaknya terhadap kemampuan berpikir mandiri dan integritas akademik.
Dalam laporan detikEdu yang terbit Jumat (23/10/2026), pengamat pendidikan Ki Darmaningtyas menyoroti dua faktor yang mendorong penggunaan AI secara masif, yakni kepentingan bisnis industri teknologi dan tren sosial yang membuat masyarakat merasa perlu menggunakan AI agar dianggap modern.
Fenomena ini menunjukkan bahwa penggunaan AI di lingkungan pendidikan bukan hanya persoalan teknologi. Budaya belajar, tuntutan efisiensi, persepsi masyarakat, serta kejelasan aturan turut memengaruhi cara siswa dan mahasiswa memanfaatkan teknologi tersebut. <Cite refs={[“turn819074view0”]}/>
1. Industri Teknologi Ikut Mendorong Penggunaan AI
Ki Darmaningtyas menilai kepentingan bisnis menjadi salah satu faktor yang mendorong semakin luasnya penggunaan AI. Perusahaan teknologi memiliki kepentingan untuk memperkenalkan dan memperluas pemanfaatan produk mereka kepada masyarakat.
Promosi teknologi yang terus berkembang dapat membentuk persepsi bahwa AI merupakan alat penting untuk meningkatkan produktivitas dan mengikuti perkembangan zaman.
Dalam konteks pendidikan, AI kemudian dipandang sebagai sarana untuk mempercepat pengerjaan tugas, mempermudah pencarian informasi, dan membantu menyusun materi pembelajaran.
Meski demikian, kemudahan teknologi perlu diimbangi dengan pemahaman mengenai tujuan penggunaannya. AI dapat membantu proses belajar, tetapi tidak seharusnya menghilangkan kesempatan siswa untuk membaca, menganalisis, dan menyusun pemikiran sendiri.
2. Tren Sosial Membuat AI Dianggap sebagai Simbol Modernitas
Selain faktor bisnis, tren sosial juga dinilai berperan dalam meningkatnya penggunaan AI.
Jika sebelumnya kemampuan menggunakan komputer, laptop, dan perangkat presentasi sering dikaitkan dengan kemajuan teknologi, kini penggunaan AI juga dapat dianggap sebagai tanda bahwa seseorang mengikuti perkembangan zaman.
Akibatnya, sebagian orang mungkin terdorong menggunakan AI bukan semata-mata karena kebutuhan belajar, melainkan karena tidak ingin dianggap tertinggal.
Fenomena tersebut memiliki kemiripan dengan fear of missing out (FOMO), yaitu kekhawatiran tertinggal dari tren atau pengalaman yang diikuti orang lain.
Dalam dunia pendidikan, kondisi ini perlu menjadi perhatian. Pemanfaatan AI semestinya didasarkan pada kebutuhan dan manfaatnya bagi pembelajaran, bukan sekadar mengikuti tren atau mengejar penyelesaian tugas dengan cepat.
3. Digitalisasi Pendidikan Membuka Perdebatan tentang Penggunaan AI
Laporan tersebut juga menelusuri perkembangan pemberitaan mengenai AI di Indonesia. Para penulis menganalisis 130 berita dari Kompas.com, Tempo.co, dan detikcom yang terbit selama periode 1 Januari 2022 hingga 31 Desember 2024 dengan kata kunci “Artificial Intelligence Indonesia”.
Pada 2022, kemunculan ChatGPT mulai menarik perhatian publik. Setahun kemudian, penggunaan AI berbasis large language model (LLM) mulai memunculkan kritik dari kalangan akademisi, terutama terkait dampaknya terhadap kegiatan pendidikan.
Pada 2024, pembahasan mengenai regulasi penggunaan AI generatif di perguruan tinggi juga mulai berkembang.
Rangkaian tersebut memperlihatkan bagaimana AI beralih dari teknologi baru menjadi bagian dari perdebatan mengenai proses belajar, tanggung jawab akademik, dan tata kelola pendidikan.
Namun, analisis pemberitaan tersebut merupakan kajian terhadap wacana media pada periode tertentu, bukan gambaran lengkap tentang seluruh praktik penggunaan AI di sekolah dan perguruan tinggi Indonesia. <Cite refs={[“turn819074view0”]}/>
4. Ketergantungan AI Berisiko Mengurangi Latihan Berpikir Mandiri
Salah satu persoalan yang disoroti adalah ketergantungan siswa dan mahasiswa terhadap AI dalam menyelesaikan tugas.
Dalam laporan tersebut, seorang mahasiswa semester empat berinisial Eka mengaku banyak mengandalkan AI untuk mendukung pekerjaan dan perkuliahannya. Ia merasa alur kerjanya akan terganggu jika tidak lagi dapat menggunakan teknologi tersebut.
Pengakuan ini menggambarkan bagaimana AI dapat menjadi bagian penting dari rutinitas akademik seseorang.
Namun, tugas pendidikan bukan sekadar menghasilkan esai, laporan, atau jawaban yang terlihat benar. Tugas juga dirancang untuk melatih pemahaman, kemampuan menganalisis, menyusun argumen, dan memecahkan masalah.
Jika seluruh proses berpikir diserahkan kepada AI, siswa berisiko kehilangan kesempatan untuk melatih keterampilan tersebut secara mandiri.
Karena itu, penggunaan AI perlu dibedakan antara membantu memahami materi dan menggantikan proses belajar. AI dapat digunakan untuk meminta penjelasan, mencari contoh, atau mendapatkan umpan balik, tetapi siswa tetap perlu memeriksa informasi dan memahami jawaban yang dihasilkan.
5. Aturan Penggunaan AI Perlu Memberikan Kepastian
Persoalan lainnya adalah kejelasan aturan penggunaan AI dalam kegiatan akademik.
Laporan detikEdu menyoroti Surat Edaran Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 9 Tahun 2023 tentang Etika Kecerdasan Artifisial yang bersifat sebagai pedoman etika, bukan regulasi yang secara khusus mengikat seluruh kegiatan akademik.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan perlunya aturan yang lebih jelas di lingkungan pendidikan, terutama mengenai penggunaan AI untuk tugas, penilaian, penelitian, dan publikasi ilmiah.
Dalam perkembangan kebijakan berikutnya, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi pada Oktober 2026 menggelar uji publik rancangan framework pemanfaatan kecerdasan artifisial generatif di perguruan tinggi. Kerangka tersebut diarahkan untuk membantu institusi memanfaatkan AI sambil menjaga integritas akademik, keamanan data, dan tanggung jawab manusia.
Kerangka yang diuji publik itu ditujukan sebagai panduan, bukan regulasi yang mengikat. Perguruan tinggi tetap memiliki ruang untuk menyusun pendekatan sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing. <Cite refs={[“turn819074view0″,”turn819074search12”]}/>
6. AI Perlu Digunakan untuk Mendukung, Bukan Menggantikan Pembelajaran
Penggunaan AI tidak harus ditolak sepenuhnya. Teknologi ini dapat membantu siswa memperoleh penjelasan tambahan, menemukan sudut pandang baru, menyusun latihan soal, dan mendapatkan masukan terhadap hasil pekerjaannya.
Agar manfaatnya lebih optimal, sekolah dan perguruan tinggi dapat menerapkan sejumlah langkah berikut:
- Menetapkan aturan yang transparan. Siswa perlu mengetahui kapan AI boleh digunakan, untuk tujuan apa, dan kapan penggunaannya harus diungkapkan.
- Memastikan pemahaman siswa. Penilaian tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga proses berpikir, diskusi, dan kemampuan menjelaskan jawaban.
- Melatih literasi AI. Siswa perlu memahami bahwa hasil AI bisa keliru, tidak lengkap, atau mengandung bias sehingga harus diperiksa kembali.
- Menjaga integritas akademik. Penggunaan AI tidak boleh disamakan dengan menyerahkan seluruh pekerjaan kepada mesin lalu mengakuinya sebagai hasil pemikiran sendiri.
- Memperkuat peran guru dan dosen. Pendidik tetap berperan dalam membimbing, memberikan umpan balik, dan memastikan siswa benar-benar memahami materi.
Pendekatan tersebut sejalan dengan upaya menjaga keseimbangan antara inovasi teknologi dan tujuan pendidikan, yakni membangun pengetahuan serta kemampuan berpikir peserta didik. <Cite refs={[“turn819074search12″,”turn819074search13″,”turn819074search14”]}/>
Kesimpulan
Maraknya penggunaan AI dalam pendidikan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kepentingan industri teknologi, tren sosial, kebutuhan efisiensi, dan perkembangan digitalisasi.
Meski menawarkan kemudahan, penggunaan AI secara berlebihan dapat mengurangi kesempatan siswa untuk berlatih berpikir mandiri apabila teknologi tersebut mengambil alih seluruh proses pengerjaan tugas.
Karena itu, tantangan dunia pendidikan bukan sekadar menentukan apakah AI boleh digunakan atau tidak. Hal yang lebih penting adalah membangun aturan yang jelas, meningkatkan literasi digital, menjaga integritas akademik, dan memastikan AI benar-benar membantu proses belajar.
Dengan pendekatan yang tepat, AI dapat menjadi alat pendukung pendidikan tanpa menggantikan peran siswa sebagai pembelajar aktif maupun peran guru dan dosen sebagai pembimbing.










