JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali menjadi perhatian setelah citra satelit NASA memperlihatkan sebaran kebakaran dan asap di sejumlah wilayah. Pemantauan dari luar angkasa membantu peneliti melihat perkembangan kebakaran, termasuk di kawasan lahan gambut yang sulit dipadamkan.
NASA melalui instrumen satelitnya terus mengamati aktivitas kebakaran di berbagai wilayah Indonesia. Salah satu citra yang dipublikasikan pada Oktober 2026 menunjukkan kebakaran gambut dan polusi asap yang masih berlangsung di Indonesia serta Papua Nugini.
Citra tersebut diambil oleh instrumen Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) pada satelit Aqua milik NASA pada 9 Oktober 2026. Hasil pengamatan ini memberikan gambaran mengenai sebaran kebakaran dan asap yang menyelimuti sebagian kawasan. <Cite refs={[“turn324874search2”]}/>
Citra Satelit NASA Perlihatkan Kebakaran dan Asap
Pengamatan dari satelit menjadi salah satu cara untuk memantau kebakaran hutan dan lahan di wilayah yang luas. Melalui citra satelit, peneliti dapat mengidentifikasi indikasi titik panas, melihat sebaran asap, serta membandingkan kondisi suatu wilayah dari waktu ke waktu.
NASA menggunakan instrumen MODIS dan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS) untuk membantu mendeteksi aktivitas kebakaran dan anomali termal di permukaan bumi.
Data tersebut juga dimanfaatkan dalam sistem pemantauan kebakaran di Indonesia. Kementerian Kehutanan, misalnya, menggunakan pengamatan satelit NASA dan NOAA sebagai salah satu sumber data untuk memantau titik panas melalui Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan atau SiPongi.
Meski demikian, citra satelit perlu dibaca secara cermat. Warna putih pada citra warna alami dapat menunjukkan awan, sedangkan warna abu-abu dapat berkaitan dengan asap atau kondisi atmosfer lainnya. Karena itu, penentuan sumber dan tingkat keparahan kebakaran membutuhkan analisis tambahan. <Cite refs={[“turn324874search0″,”turn324874search8”]}/>
Kebakaran Gambut Sulit Dipadamkan
Salah satu tantangan dalam penanganan karhutla di Indonesia adalah kebakaran pada lahan gambut. Ketika gambut mengering akibat minimnya curah hujan, api dapat merambat ke lapisan tanah dan membara di bawah permukaan.
Kondisi tersebut membuat kebakaran gambut sulit dideteksi dan dipadamkan sepenuhnya. Api yang terlihat di permukaan mungkin sudah padam, tetapi bara di dalam tanah dapat tetap bertahan dan kembali memicu kebakaran ketika kondisi mendukung.
NASA menjelaskan bahwa kekeringan yang meluas pada musim kemarau 2026 turut menciptakan kondisi yang mendukung penyebaran api di sejumlah wilayah Indonesia. Kebakaran gambut dapat terus berlangsung hingga hujan yang cukup membantu membasahi kembali lahan. <Cite refs={[“turn324874search1″,”turn324874search3”]}/>
Indonesia memiliki kawasan gambut tropis yang luas, terutama di Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Ekosistem ini menyimpan karbon dalam jumlah besar sehingga kebakaran tidak hanya mengancam vegetasi dan satwa, tetapi juga dapat melepaskan emisi ke atmosfer.
Asap Karhutla Berdampak pada Kualitas Udara
Kebakaran hutan dan lahan menghasilkan asap yang mengandung partikel halus dan berbagai polutan. Jika konsentrasinya tinggi, asap dapat menurunkan kualitas udara dan mengganggu aktivitas masyarakat.
Dampak yang perlu diwaspadai antara lain iritasi mata, batuk, serta gangguan pernapasan. Anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang yang memiliki penyakit pernapasan termasuk kelompok yang perlu memberikan perhatian lebih terhadap paparan asap.
Pada Oktober 2026, laporan Reuters menyebutkan bahwa kabut asap akibat kebakaran hutan dan gambut di Indonesia juga berdampak pada sejumlah wilayah Asia Tenggara. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa asap dapat terbawa angin melintasi batas wilayah dan memengaruhi kualitas udara di negara tetangga. <Cite refs={[“turn324874news9″,”turn324874news10”]}/>
Masyarakat di wilayah terdampak disarankan memantau informasi kualitas udara dari otoritas setempat. Ketika kualitas udara memburuk, penggunaan masker yang sesuai, mengurangi aktivitas berat di luar ruangan, dan menutup jendela saat asap pekat dapat membantu mengurangi paparan.
Titik Panas Tidak Selalu Berarti Kebakaran Besar
Data satelit kerap menampilkan titik panas atau hotspot sebagai penanda lokasi yang terdeteksi memiliki anomali termal. Informasi ini berguna untuk membantu petugas menentukan wilayah yang perlu diperiksa lebih lanjut.
Namun, satu titik panas tidak otomatis berarti seluruh area di sekitarnya terbakar. Deteksi satelit dapat dipengaruhi oleh ukuran api, intensitas panas, resolusi instrumen, kondisi awan, dan waktu pengamatan.
NASA melalui Fire Information for Resource Management System (FIRMS) mengingatkan bahwa deteksi aktivitas kebakaran dari satelit memiliki keterbatasan akurasi. Informasi tersebut perlu dipadukan dengan pemeriksaan lapangan dan sumber data lain sebelum digunakan untuk memastikan kondisi di suatu lokasi. <Cite refs={[“turn324874search8”]}/>
Di Indonesia, pemantauan titik panas melalui SiPongi digunakan untuk mendukung respons penanganan karhutla. Data tersebut dapat membantu petugas memprioritaskan patroli, melakukan verifikasi, dan menentukan langkah pemadaman.
Upaya Penanganan Karhutla di Indonesia
Pemerintah terus melakukan pemantauan dan penanganan kebakaran hutan serta lahan melalui operasi darat dan udara. Langkah yang dapat dilakukan meliputi patroli, pemadaman langsung, pembasahan lahan gambut, pendinginan lokasi yang telah terbakar, serta operasi modifikasi cuaca jika kondisi meteorologis memungkinkan.
Kementerian Kehutanan melaporkan pada 9 Oktober 2026 bahwa jumlah titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi secara nasional menurun dibandingkan hari sebelumnya. Meski demikian, sejumlah wilayah, termasuk Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah, masih menjadi perhatian dalam pengendalian karhutla. <Cite refs={[“turn324874search4”]}/>
Penanganan karhutla juga membutuhkan dukungan masyarakat dan pelaku usaha. Pembukaan lahan dengan cara membakar perlu dihindari, terutama saat kondisi cuaca kering dan risiko penyebaran api meningkat.
Selain pemadaman, pencegahan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko kebakaran berulang. Pemantauan kondisi lahan, pengelolaan air di kawasan gambut, serta penegakan aturan terhadap pembakaran lahan dapat membantu menekan dampak karhutla.
Pentingnya Pemantauan dari Luar Angkasa
Citra satelit NASA memberikan gambaran yang lebih luas mengenai aktivitas kebakaran dan sebaran asap yang sulit dipantau hanya dari permukaan bumi. Data tersebut dapat membantu ilmuwan dan petugas memahami perkembangan kebakaran serta menentukan lokasi yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Namun, citra satelit bukan satu-satunya dasar untuk menilai tingkat keparahan karhutla. Informasi dari satelit perlu dipadukan dengan pengamatan lapangan, data cuaca, kondisi kualitas udara, dan laporan petugas.
Dengan pemantauan yang berkelanjutan serta upaya pencegahan yang konsisten, pemerintah dan masyarakat diharapkan dapat mengurangi dampak kebakaran hutan dan lahan terhadap lingkungan, kesehatan, serta aktivitas ekonomi.










