Konflik antara kelompok Houthi dan Arab Saudi merupakan bagian dari perang berkepanjangan di Yaman yang melibatkan perebutan kekuasaan, persaingan politik regional, serta kepentingan keamanan. Ketegangan semakin meningkat sejak kelompok Houthi menguasai ibu kota Yaman, Sana’a, pada 2014, hingga mendorong keterlibatan militer Arab Saudi pada tahun berikutnya.
Kelompok Houthi, yang juga dikenal sebagai Ansar Allah, muncul di wilayah Saada, Yaman utara, pada 1990-an sebagai gerakan kebangkitan keagamaan dari komunitas Zaidi Syiah. Kelompok ini kemudian berkembang menjadi gerakan bersenjata yang menentang pemerintah Yaman. Sejak 2004, Houthi terlibat dalam sejumlah pertempuran dengan pasukan pemerintah.
Situasi politik Yaman semakin tidak stabil setelah gelombang demonstrasi Arab Spring pada 2011 mendorong Presiden Ali Abdullah Saleh mengundurkan diri. Kekuasaan kemudian beralih kepada Abdrabbuh Mansur Hadi. Namun, proses transisi politik menghadapi berbagai persoalan, termasuk ketidakpuasan terhadap pemerintah dan perselisihan mengenai pembagian kekuasaan serta sumber daya negara.
Pada 2014, kelompok Houthi merebut Sana’a dan memperluas pengaruhnya. Pada Januari 2015, mereka mengambil alih istana kepresidenan, sehingga Presiden Hadi meninggalkan ibu kota dan kemudian mencari perlindungan di Arab Saudi. Peristiwa ini memperdalam krisis politik dan konflik bersenjata di Yaman.
Mengapa Arab Saudi Terlibat?
Pada Maret 2015, Arab Saudi memimpin koalisi militer untuk mendukung pemerintahan Hadi yang diakui secara internasional dan menghadapi kelompok Houthi. Riyadh memandang perluasan pengaruh Houthi di perbatasan selatannya sebagai persoalan keamanan, terlebih karena kelompok tersebut menjalin hubungan dengan Iran, rival regional Arab Saudi.
Sejak itu, konflik berkembang menjadi perang yang melibatkan berbagai kelompok lokal dan kekuatan regional. Houthi melancarkan serangan menggunakan rudal dan drone ke wilayah Arab Saudi, termasuk sejumlah fasilitas strategis. Sebaliknya, koalisi pimpinan Saudi melancarkan operasi militer di Yaman untuk menekan kekuatan Houthi.
Meski Iran memberikan dukungan kepada Houthi, kelompok tersebut juga memiliki basis dukungan, kepentingan, dan agenda politiknya sendiri di Yaman. Karena itu, konflik ini tidak hanya dapat dipahami sebagai persaingan antara Arab Saudi dan Iran, tetapi juga sebagai konflik domestik yang berakar pada persoalan kekuasaan dan transisi politik Yaman.
Dampak Konflik bagi Masyarakat Yaman
Perang berkepanjangan menyebabkan kerusakan infrastruktur, terganggunya layanan kesehatan dan air bersih, serta meningkatnya kebutuhan bantuan kemanusiaan. Jutaan warga Yaman menghadapi kesulitan memperoleh makanan, layanan kesehatan, dan tempat tinggal yang layak. Anak-anak dan kelompok rentan menjadi pihak yang sangat terdampak oleh krisis tersebut.
Pada 2022, upaya diplomatik menghasilkan gencatan senjata yang membantu mengurangi intensitas pertempuran. Namun, kesepakatan itu tidak menyelesaikan seluruh persoalan politik dan keamanan di Yaman. Ketegangan antara Houthi, pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, dan Arab Saudi tetap menjadi tantangan bagi terciptanya perdamaian jangka panjang.
Konflik Houthi dan Arab Saudi menunjukkan bahwa perang di Yaman memiliki banyak lapisan persoalan, mulai dari perebutan kekuasaan di dalam negeri hingga persaingan kepentingan regional. Penyelesaian yang berkelanjutan membutuhkan proses politik, perlindungan warga sipil, serta kesepakatan yang dapat diterima oleh berbagai pihak yang terlibat.








