Bandung – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat kompetensi calon pemimpin satuan pendidikan melalui Pelatihan Bakal Calon Kepala Sekolah (BCKS). Program ini diarahkan untuk menyiapkan kepala sekolah yang kompeten, visioner, dan mampu membawa perubahan positif di lingkungan sekolah.
Melalui Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Provinsi Jawa Barat, Kemendikdasmen menyelenggarakan Pelatihan BCKS Gelombang 2 pada 14–30 Agustus 2026. Kegiatan tersebut diikuti 415 peserta dari 10 kabupaten di Jawa Barat, mulai jenjang TK hingga SLB.
5.704 Peserta Telah Ikuti Pelatihan BCKS
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Nunuk Suryani menyampaikan bahwa hingga Agustus 2026 sebanyak 5.704 peserta telah mengikuti Pelatihan BCKS.
Dari jumlah tersebut, 3.033 peserta dibiayai melalui APBN, sedangkan 2.671 peserta melalui APBD. Capaian tersebut menunjukkan adanya kolaborasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam memenuhi kebutuhan calon kepala sekolah.
Nunuk menyebut pemenuhan kebutuhan kepala sekolah saat ini sudah mendekati 80 persen. Jumlah peserta masih berpotensi bertambah karena sejumlah pelatihan yang dibiayai APBD Jawa Barat masih menjalani proses seleksi substansi.
Pelatihan Gabungkan LMS dan Tatap Muka
Pelatihan BCKS Gelombang 2 di Jawa Barat menggunakan kombinasi pembelajaran mandiri melalui Learning Management System (LMS) dan pembelajaran tatap muka.
Peserta juga mendapatkan pendampingan dari widyaiswara UPT GTK serta kepala sekolah mentor dari berbagai jenjang. Khusus BCKS SMK di Jawa Barat, pelatihan turut melibatkan dunia usaha dan industri, yaitu PT Len Industri (Persero) di Bandung.
Model pembelajaran tersebut diharapkan memberikan pengalaman yang lebih kontekstual bagi calon kepala sekolah dalam memahami kepemimpinan dan pengelolaan satuan pendidikan.
Dibekali Kemampuan Memimpin Perubahan
Pelatihan BCKS tidak hanya berfokus pada kemampuan administratif. Peserta juga mendapatkan bekal mengenai pengelolaan sekolah, kepemimpinan, kompetensi sosial, komunikasi, kemitraan, serta pengelolaan sumber daya sekolah.
Guru peserta pelatihan, Hetty Kusmiati dari SMPN 2 Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, mengatakan kegiatan tersebut memberinya berbagai inspirasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran apabila kelak dipercaya menjadi kepala sekolah.
Peserta lainnya, Budiyanto dari Kabupaten Purwakarta, juga menilai pelatihan BCKS memberikan pengetahuan baru mengenai kepemimpinan dan manajemen sekolah. Ia berkomitmen membawa perubahan ke arah yang lebih baik ketika memperoleh amanah memimpin sekolah.
Sekitar 1.300 Peserta Ikuti Pelatihan di UPT Lain
Pelatihan BCKS juga berlangsung secara bersamaan di sejumlah UPT GTK lainnya. Total terdapat sekitar 1.300 peserta yang mengikuti pelatihan tersebut.
Peserta berasal dari berbagai wilayah, termasuk Aceh, Lampung, Gorontalo, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan. Dalam kegiatan di Jawa Barat, peserta dari enam UPT tersebut juga mengikuti rangkaian kegiatan secara daring.
Pelatihan Tendik Juga Diperkuat
Selain calon kepala sekolah, Kemendikdasmen juga memperkuat kompetensi tenaga kependidikan.
Hingga Agustus 2026, Ditjen GTK melalui Direktorat KSPSTK telah memberikan intervensi pelatihan kepada 633 tenaga kependidikan dan 220 fasilitator.
Sepanjang 2026, pelatihan tendik direncanakan melibatkan 1.860 peserta dari 27 UPT GTK dengan pembiayaan APBN dan APBD. Program ini menyasar antara lain operator sekolah, bendahara sekolah, tenaga laboratorium, dan tenaga perpustakaan.
Kepala Sekolah Dituntut Jadi Pemimpin Transformatif
Kemendikdasmen berharap Pelatihan BCKS dapat melahirkan pemimpin pendidikan yang tidak hanya mampu mengelola sekolah, tetapi juga menggerakkan perubahan dan meningkatkan mutu pembelajaran.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti menekankan bahwa kekuatan pendidikan terletak pada kolaborasi. Karena itu, jejaring profesional yang terbentuk selama pelatihan perlu terus dipelihara agar guru dan calon pemimpin sekolah dapat saling berbagi pengalaman dan belajar.
Kepala sekolah bukan sekadar pengelola administrasi. Mereka diharapkan menjadi pemimpin pembelajaran yang mampu menggerakkan guru, membangun budaya belajar, dan membawa sekolah menuju perubahan yang lebih baik.
















