Jakarta – Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan alokasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk sejumlah sekolah yang dinilai masuk kategori elit atau berasal dari kalangan mampu. Kebijakan tersebut diperkirakan turut mengurangi jumlah penerima dan kebutuhan anggaran program MBG tahun ini.
Kepala BGN Sudaryono mengatakan terdapat sekitar 80 sekolah elit di seluruh Indonesia yang tidak lagi mendapatkan alokasi MBG. Beberapa sekolah yang disebut antara lain SMA Taruna Nusantara dan sekolah Kemala Bhayangkari.
Penerima MBG Berkurang 6 Juta
Sudaryono menyebut jumlah penerima MBG tahun ini berkurang sekitar 6 juta orang. Pengurangan tersebut tidak hanya berasal dari penghentian program di sekolah elit.
BGN juga menemukan adanya data penerima ganda, misalnya satu nama tercatat sebagai penerima di pesantren sekaligus di sekolah. Data tersebut kemudian disisir untuk memastikan bantuan diberikan kepada penerima yang tepat.
Dengan berkurangnya jumlah penerima, kebutuhan anggaran MBG juga ikut berubah. BGN telah membahas persoalan tersebut bersama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, termasuk kemungkinan perubahan kebutuhan anggaran negara.
Sekolah Elit Tidak Lagi Mendapat Alokasi
Menurut Sudaryono, sekolah swasta tertentu yang masuk kategori elit dikeluarkan dari daftar penerima MBG karena dinilai sudah memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan makan peserta didiknya sendiri.
Selain Taruna Nusantara dan Kemala Bhayangkari, masyarakat dapat mengecek status sekolah melalui sistem Radar MBG yang dikembangkan BGN. Sistem tersebut memungkinkan masyarakat melihat sekolah yang mendapatkan alokasi program.
BGN Kembalikan Rp311 Miliar ke Kas Negara
Selain melakukan penyisiran data penerima, BGN juga mengevaluasi pengelolaan dana program.
Sudaryono mengatakan pihaknya telah menghentikan alokasi dana untuk 414 dapur MBG yang diketahui belum beroperasi tetapi sebelumnya telah menerima setoran dana.
Dari penertiban tersebut, sekitar Rp311 miliar dikembalikan ke kas negara.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya BGN memastikan anggaran MBG digunakan sesuai kebutuhan dan tidak tersalurkan kepada pihak yang belum memenuhi ketentuan.
Anggaran MBG Masih Dibahas
Terkait perubahan jumlah penerima, BGN masih melakukan koordinasi dengan Kementerian Keuangan mengenai pelaksanaan anggaran tahun berjalan maupun kebutuhan anggaran berikutnya.
Sudaryono menegaskan koordinasi dengan Kementerian Keuangan diperlukan untuk membahas pelaksanaan program, sisa anggaran, serta kemungkinan kebutuhan anggaran ke depan.
Pengurangan penerima MBG bukan semata-mata karena penghentian bantuan di sekolah elit. Penataan data penerima ganda dan evaluasi dapur MBG juga menjadi faktor penting dalam efisiensi program.
















