“Bu, setelah lulus saya kerja apa?”
Pertanyaan ini mungkin terdengar sepele, tetapi bagi Vivi Sukmawati, Kepala SLB Kembar Karya Pembangunan III di Bekasi, kalimat itu adalah pengingat paling menyentuh tentang beratnya kegelisahan yang dipikul siswa-siswanya. Beberapa lulusan datang kembali hanya untuk menyampaikan kebingungan mereka: sekolah sudah selesai, tapi pintu menuju pekerjaan masih terasa tertutup rapat.
Dari sanalah Vivi merasa, sekolah tidak cukup hanya mengantar siswa menerima ijazah. Ia ingin ketika anak-anak itu melangkah keluar gerbang sekolah, mereka membawa keterampilan yang bisa diandalkan untuk berdiri di atas kaki sendiri. Karena masih banyak perusahaan dan lembaga yang belum benar-benar membuka ruang bagi penyandang disabilitas, ia memilih jalur lain: membekali murid dengan kemampuan berwirausaha.
Momentum Ramadhan kemudian dijadikan sarana belajar. Di bawah tenda sederhana di Jalan Komodo Raya, Bekasi Selatan, siswa-siswa SLB berjualan takjil hasil olahan mereka. Menjelang waktu berbuka, mereka berdiri di balik meja, menyusun makanan dan minuman, menyambut pembeli dengan senyum lebar. Di sana mereka belajar menghitung uang, melayani pelanggan, dan mengalahkan rasa canggung saat berhadapan dengan orang asing.
Yang membuatnya istimewa, seluruh interaksi dilakukan dengan bahasa isyarat. Siswa menunjuk menu, memberi tanda harga, lalu memastikan pesanan sebelum transaksi selesai. Gerakan tangan mereka menjadi jembatan hangat antara dunia tuli dan pembeli yang baru pertama kali berkomunikasi dengan cara seperti itu. Vivi berharap, kehadiran siswa di ruang publik ini bisa mematahkan stigma sekaligus menunjukkan bahwa mereka mampu mandiri, selama masyarakat mau menerima dengan tangan terbuka dan memberi kesempatan, bukan sekadar rasa iba.








































