Upaya meningkatkan budaya literasi di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus diperkuat melalui kolaborasi berbagai pihak. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kemendikdasmen mendorong gerakan partisipasi semesta yang melibatkan sekolah, keluarga, pemerintah daerah, komunitas, hingga masyarakat untuk membangun ekosistem literasi yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, menegaskan bahwa literasi tidak hanya menjadi tanggung jawab guru di sekolah, tetapi merupakan gerakan bersama yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Menurutnya, penguatan budaya baca dan kemampuan literasi harus dimulai dari lingkungan terdekat anak, termasuk keluarga dan komunitas tempat mereka tumbuh.
Dalam berbagai kegiatan literasi yang digelar di NTT, Badan Bahasa menghadirkan praktik-praktik baik dari daerah yang berhasil meningkatkan minat baca melalui kolaborasi lintas sektor. Pendekatan tersebut dinilai mampu memperkuat pembelajaran yang lebih kontekstual, terutama bagi siswa di wilayah yang memiliki tantangan geografis dan keterbatasan akses pendidikan.
Badan Bahasa juga menyoroti pentingnya peran perempuan dan Bunda Literasi dalam menumbuhkan budaya membaca sejak usia dini. Melalui keterlibatan keluarga, anak-anak diharapkan dapat mengenal kebiasaan membaca sebelum memasuki pendidikan formal di sekolah.
Sebagai bagian dari penguatan literasi, Kemendikdasmen melalui Badan Bahasa menyalurkan ribuan buku bacaan bermutu untuk sekolah dan komunitas literasi di NTT. Pada 2026, NTT bahkan menjadi salah satu daerah prioritas program distribusi buku, dengan lebih dari seribu sekolah dasar direncanakan menerima ratusan eksemplar buku bacaan untuk mendukung pembelajaran dan meningkatkan minat baca siswa.
Selain buku cetak, Badan Bahasa juga menyediakan ribuan judul buku digital yang akan didistribusikan melalui jaringan Bunda Literasi kabupaten dan kota di seluruh NTT. Langkah tersebut dilakukan untuk memperluas akses bahan bacaan hingga ke daerah-daerah yang masih memiliki keterbatasan koleksi perpustakaan dan sumber belajar.
Program penguatan literasi di NTT turut didukung berbagai mitra pendidikan, termasuk program INOVASI yang berfokus pada peningkatan kemampuan membaca dan numerasi siswa sekolah dasar. Melalui pelatihan guru, pengembangan bahan ajar berbasis lokal, hingga penggunaan bahasa ibu di kelas awal, program tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran di berbagai wilayah NTT.
Badan Bahasa menilai literasi merupakan fondasi penting dalam pembangunan sumber daya manusia. Karena itu, gerakan partisipasi semesta terus didorong agar tidak hanya menjadi program pemerintah, tetapi berkembang menjadi budaya bersama yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
Melalui kolaborasi sekolah, keluarga, komunitas, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya, penguatan literasi di NTT diharapkan mampu meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus membuka peluang yang lebih besar bagi generasi muda untuk berkembang dan bersaing di masa depan.









