Praktik Baik Gerakan Literasi di Daerah Jadi Inspirasi Nasional, Libatkan Pemda hingga Masyarakat
Upaya meningkatkan budaya literasi di berbagai daerah Indonesia terus menunjukkan hasil positif melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, sekolah, keluarga, komunitas, dan masyarakat. Berbagai praktik baik yang berkembang di sejumlah wilayah kini menjadi contoh nasional dalam mendukung Gerakan Literasi Nasional (GLN) dan penguatan kualitas pendidikan.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menilai keberhasilan gerakan literasi tidak hanya bergantung pada sekolah, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat. Pendekatan kolaboratif tersebut dinilai mampu menciptakan budaya membaca yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Salah satu contoh praktik baik datang dari Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Meski berada di wilayah perbatasan dengan tantangan geografis yang cukup berat, masyarakat setempat berhasil membangun gerakan literasi melalui kerja sama pemerintah daerah, keluarga, komunitas, dan sekolah. Program tersebut bahkan turut berkontribusi terhadap tingginya Indeks Kegemaran Membaca Kalimantan Utara yang berada di atas rata-rata nasional.
Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, menyebut literasi merupakan fondasi utama dalam pembangunan sumber daya manusia dan peningkatan kualitas pendidikan. Menurutnya, pengalaman dari daerah seperti Malinau membuktikan bahwa keterbatasan akses bukan penghalang untuk menghadirkan inovasi dan budaya literasi yang kuat.
Selain Malinau, praktik baik literasi juga berkembang melalui berbagai kampung literasi dan taman bacaan masyarakat di sejumlah daerah. Salah satunya Kampung Literasi Pekijing di Banten yang menghadirkan ruang baca terbuka, kegiatan mendongeng, permainan tradisional, seni, hingga aktivitas lintas generasi yang melibatkan anak-anak dan lansia. Program tersebut berhasil menciptakan lingkungan belajar yang dekat dengan masyarakat dan mendorong minat baca secara alami.
Badan Bahasa menilai keberadaan komunitas literasi, perpustakaan desa, dan taman bacaan masyarakat memiliki peran penting dalam memperluas akses bahan bacaan. Kehadiran ruang literasi yang dekat dengan kehidupan warga dinilai lebih efektif dalam membangun kebiasaan membaca dibanding hanya mengandalkan program formal di sekolah.
Di Nusa Tenggara Timur (NTT), penguatan literasi juga dilakukan melalui Gerakan Jam Belajar yang melibatkan keluarga sebagai pusat pembelajaran. Program ini mendorong anak-anak untuk belajar, membaca, mengerjakan tugas sekolah, hingga mengenal budaya lokal di luar jam sekolah. Kegiatan tersebut disesuaikan dengan kondisi keluarga dan lingkungan masyarakat setempat sehingga lebih mudah diterapkan secara berkelanjutan.
Kemendikdasmen bersama berbagai mitra pembangunan seperti Program INOVASI, UNICEF, Tanoto Foundation, serta pemerintah daerah juga terus memperkuat kolaborasi untuk meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi siswa. Fokus utama program diarahkan pada penguatan pembelajaran kelas awal sekolah dasar, peningkatan kapasitas guru, serta pemanfaatan data asesmen untuk mendukung pembelajaran yang lebih efektif.
Selain itu, distribusi buku bacaan bermutu ke sekolah-sekolah dan komunitas literasi terus diperluas. Sejumlah sekolah yang berhasil memanfaatkan bantuan buku secara optimal menunjukkan peningkatan minat baca siswa serta capaian literasi yang lebih baik. Praktik tersebut menjadi bukti bahwa akses terhadap bahan bacaan berkualitas dapat memberikan dampak nyata terhadap kualitas pembelajaran.
Kemendikdasmen berharap berbagai praktik baik yang telah berkembang di daerah dapat menjadi inspirasi bagi wilayah lain di Indonesia. Dengan dukungan pemerintah daerah, sekolah, keluarga, komunitas, dan masyarakat, gerakan literasi diharapkan tidak hanya menjadi program pendidikan, tetapi tumbuh menjadi budaya bersama yang memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.









