Transformasi digital di dunia pendidikan terus berkembang seiring masuknya berbagai teknologi ke ruang kelas. Namun, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi harus tetap memperhatikan kreativitas, kesehatan mental, dan perkembangan kognitif peserta didik.
Pesan tersebut disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, dalam kegiatan pelatihan digitalisasi pembelajaran di Malang, Jawa Timur. Menurutnya, tujuan digitalisasi pendidikan bukan untuk menggantikan metode belajar yang sudah baik, melainkan memperkaya pengalaman belajar murid melalui pemanfaatan teknologi yang tepat dan seimbang.
Fajar menjelaskan bahwa transformasi digital tidak hanya menghadirkan perangkat canggih ke sekolah. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi digunakan secara bijak agar tidak mengurangi daya kreativitas murid maupun inovasi guru dalam proses pembelajaran. Ia mengingatkan bahwa teknologi seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti peran pedagogis guru.
Di berbagai sekolah, pemerintah telah menghadirkan perangkat pembelajaran modern seperti Interactive Flat Panel (IFP) untuk mendukung proses belajar mengajar. Namun, Kemendikdasmen menekankan bahwa penggunaan teknologi harus tetap mendorong partisipasi aktif siswa dan tidak membuat mereka menjadi pasif dalam menerima informasi.
Selain manfaat yang ditawarkan, perkembangan teknologi juga menghadirkan sejumlah tantangan baru dalam dunia pendidikan. Kemudahan akses informasi melalui perangkat digital dapat berdampak pada menurunnya fokus belajar, meningkatnya kecemasan, hingga munculnya fenomena brain rot akibat penggunaan gawai secara berlebihan. Karena itu, keseimbangan antara aktivitas digital dan pembelajaran konvensional menjadi hal yang sangat penting.
Sebagai langkah antisipatif, Kemendikdasmen mendorong pendekatan pembelajaran berbasis Deep Learning yang menempatkan pengalaman belajar murid sebagai pusat proses pendidikan. Dalam praktiknya, kebiasaan menulis secara manual tetap dipertahankan karena dinilai mampu membantu perkembangan motorik halus, konsentrasi, dan kemampuan berpikir yang lebih mendalam.
Program digitalisasi pembelajaran juga mendapat respons positif dari para guru. Melalui pelatihan yang diberikan, pendidik memperoleh pemahaman baru mengenai pemanfaatan berbagai fitur teknologi yang dapat mendukung pembelajaran lebih interaktif dan efektif. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat disebarluaskan kepada guru lain sehingga manfaat transformasi digital dapat dirasakan secara lebih luas.
Kemendikdasmen menegaskan bahwa masa depan pendidikan tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi, tetapi juga pada kemampuan sekolah menjaga keseimbangan antara inovasi digital, kreativitas, kesehatan mental, serta peran guru sebagai pendamping utama dalam proses belajar. Dengan pendekatan yang tepat, teknologi dapat menjadi sarana untuk memperkuat kualitas pendidikan tanpa menghilangkan nilai-nilai penting dalam pembelajaran.









