Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sempat menjadi sorotan warganet setelah menampilkan sejumlah hasil inovasi seperti sepatu, genteng, dan keripik di hadapan Presiden Prabowo Subianto. Sebagian warganet menilai produk tersebut belum menggambarkan teknologi tinggi yang diharapkan dari lembaga riset.
BRIN kemudian menjelaskan bahwa riset yang dikembangkan tidak hanya berupa produk yang terlihat sederhana. Salah satunya adalah penelitian baterai kuantum (quantum battery) dan quantum magnetometry yang dikembangkan Pusat Riset Fisika Kuantum BRIN.
Baterai kuantum berbeda dari baterai biasa karena menyimpan energi pada keadaan kuantum, seperti atom, molekul, spin, atau sistem cahaya-materi. Teknologi ini secara teori dapat memungkinkan pengisian energi secara kolektif dengan daya pengisian yang lebih tinggi.
Namun, pengembangan baterai kuantum masih menghadapi berbagai tantangan, terutama menjaga keadaan kuantum, mengurangi decoherence dan disipasi, serta menghasilkan baterai yang cepat diisi, mampu menyimpan energi dalam waktu lama, dan dapat mengekstraksi energi secara optimal.
Selain itu, BRIN mengembangkan quantum magnetometry, yakni sensor kuantum berbasis berlian dengan NV Center yang dirancang untuk mengukur medan magnet dengan sensitivitas sangat tinggi.
BRIN juga menegaskan bahwa anggaran sekitar Rp6 triliun bukan digunakan hanya untuk membuat sepatu, genteng, atau keripik. Anggaran tersebut mencakup berbagai kebutuhan BRIN selama satu tahun.
Sepatu yang dipamerkan menggunakan teknologi Smart Rubber, yang dikembangkan melalui riset BRIN dan berpotensi digunakan dalam industri otomotif, penerbangan, hingga keamanan. Sementara inovasi pada keripik ubi berkaitan dengan pengembangan varietas unggul ubi ungu hasil riset BRIN.
Dengan demikian, BRIN berharap masyarakat tidak hanya melihat bentuk akhir produknya, tetapi juga memahami teknologi dan riset di balik inovasi tersebut.









