Jakarta, 22 Agustus 2026 — Tenaga kependidikan (Tendik) dinilai memiliki peran penting dalam mewujudkan lingkungan perguruan tinggi yang inklusif, khususnya dalam memberikan pelayanan kepada mahasiswa penyandang disabilitas.
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Yarsi, Alabanyo Brebahama, mengatakan edukasi mengenai ragam disabilitas perlu diberikan kepada tenaga kependidikan karena mereka menjadi salah satu pihak yang paling sering berinteraksi langsung dengan mahasiswa dalam urusan administrasi.
Menurut Alabanyo, pendidikan inklusif tidak cukup hanya mengandalkan kesiapan dosen dalam proses pembelajaran. Pelayanan di luar ruang kelas juga harus mampu menyesuaikan kebutuhan mahasiswa disabilitas.
“Kalau dari segi urgensinya, ini penting dan urgent. Kenapa? Karena kalau hanya dosen yang diberikan pelatihan pembelajaran buat mahasiswa disabilitas, itu enggak cukup. Karena kan kalau untuk tenaga kependidikan itu garda terdepan,” ujar Alabanyo usai Pelatihan Strategi Pelayanan Prima yang Ramah Keberagaman Individu bagi Tendik Universitas Yarsi, Kamis (13/8/2026).
Tendik Berhadapan Langsung dengan Mahasiswa
Alabanyo menjelaskan, tenaga kependidikan terlibat dalam berbagai kebutuhan mahasiswa di luar kegiatan belajar mengajar.
Layanan tersebut antara lain pengurusan keuangan dan cicilan SPP, pendaftaran magang, administrasi skripsi, permohonan cuti, hingga pelayanan di perpustakaan.
Karena itu, pemahaman mengenai disabilitas perlu dimiliki tenaga kependidikan agar tidak terjadi kesenjangan pelayanan antara mahasiswa disabilitas dan mahasiswa lainnya.
“Jangan sampai dosennya sudah menyesuaikan proses pembelajaran akomodasi disabilitas, tapi tendiknya masih bingung apa yang perlu dilakukan ketika berhadapan dengan mahasiswa disabilitas,” jelasnya.
Menurut Alabanyo, tenaga kependidikan perlu mengetahui ragam disabilitas sekaligus memahami cara memberikan bantuan yang tepat. Dengan demikian, mahasiswa disabilitas dapat memperoleh pelayanan yang sesuai kebutuhannya tanpa merasa kesulitan atau diperlakukan berbeda secara tidak tepat.
Universitas Yarsi Siapkan Fasilitas dan Metode Pembelajaran
Rektor Universitas Yarsi, Ratna Sitompul, menegaskan komitmen kampus dalam membuka akses pendidikan tinggi bagi penyandang disabilitas.
Menurut Ratna, upaya membangun kampus inklusif tidak hanya dilakukan melalui penyediaan fasilitas fisik. Universitas juga perlu menyiapkan sistem pembelajaran dan tenaga pengajar yang mampu menyesuaikan metode dengan kebutuhan mahasiswa disabilitas.
“Kita melakukan berbagai persiapan untuk memudahkan akses bagi penyandang disabilitas, antara lain fasilitas, bukan hanya fasilitas gedungnya, tapi pembelajaran, kemudian melengkapi para dosen dengan metode pembelajaran yang cocok atau sesuai untuk berbagai disabilitas,” ujar Ratna.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam kegiatan Pelatihan Strategi Pelayanan Prima yang Ramah Keberagaman Individu bagi Tenaga Kependidikan Universitas Yarsi.
Tendik Didorong Mampu Berikan Pelayanan Ramah Disabilitas
Ratna menjelaskan pelatihan tersebut bertujuan membantu tenaga kependidikan memahami persoalan yang mungkin dihadapi mahasiswa disabilitas sekaligus mengetahui cara memberikan pelayanan yang tepat.
“Gelaran acara digunakan untuk para tendik, agar para tendik itu memahami apa masalah-masalah yang ada pada disabilitas dan bagaimana mereka bisa membantu disabilitas itu untuk melayani dengan baik,” tuturnya.
Selain meningkatkan kapasitas tenaga kependidikan, Universitas Yarsi juga mendorong mahasiswa untuk memiliki pemahaman mengenai disabilitas. Mahasiswa diharapkan dapat memberikan dukungan kepada teman sejawat yang memiliki kebutuhan khusus.
Fasilitas Disiapkan Sesuai Kebutuhan Mahasiswa
Ratna mengatakan jumlah mahasiswa disabilitas di Universitas Yarsi saat ini belum terlalu banyak. Karena itu, kampus masih menyesuaikan penyediaan fasilitas dan layanan berdasarkan kebutuhan yang ada.
Namun, apabila terdapat mahasiswa dengan kebutuhan khusus tertentu, pihak kampus akan menyiapkan dukungan yang sesuai.
Menurutnya, pendekatan tersebut diperlukan agar fasilitas yang disediakan benar-benar tepat guna dan sesuai kebutuhan mahasiswa.
“Yang penting adalah komitmen kita untuk betul-betul menyediakan belajar, fasilitas belajar dan tenaga pengajar yang sesuai. Teknologi yang sesuai untuk disabilitas itu. Itu sangat penting,” tegas Ratna.
Membangun Kampus yang Setara dan Inklusif
Penguatan kompetensi tenaga kependidikan menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem perguruan tinggi yang ramah terhadap keberagaman.
Kampus inklusif tidak hanya membutuhkan akses fisik seperti fasilitas gedung, tetapi juga membutuhkan sistem pelayanan, metode pembelajaran, teknologi, serta sumber daya manusia yang memahami kebutuhan mahasiswa disabilitas.
Dengan dukungan tersebut, mahasiswa disabilitas diharapkan dapat menjalani proses pendidikan tinggi secara lebih nyaman, mandiri, dan setara dengan mahasiswa lainnya.









