Jakarta – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali terjadi di sejumlah wilayah Indonesia menimbulkan pertanyaan mengenai penyebabnya. Apakah kebakaran tersebut terjadi karena faktor alam atau justru aktivitas manusia?
Berdasarkan berbagai data dan penelitian yang dikutip detikEdu, aktivitas manusia menjadi penyebab utama karhutla di Indonesia. Mantan Kepala BNPB Doni Monardo bahkan pernah menyebut sekitar 99 persen karhutla disebabkan oleh ulah manusia, baik karena kesengajaan maupun kelalaian.
Manusia Jadi Penyebab Utama
Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal UGM pada 2017 juga menunjukkan bahwa sekitar 90 persen kebakaran hutan disebabkan oleh aktivitas manusia atau pembakaran yang disengaja.
Aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar menjadi salah satu faktor yang membuat kebakaran mudah meluas. Kondisi tersebut semakin berbahaya ketika api mencapai lahan gambut.
Karakteristik gambut membuat api tidak hanya membakar permukaan, tetapi dapat merambat hingga ke lapisan bawah tanah. Bara yang berada di dalam gambut bahkan dapat bertahan dalam waktu yang sangat lama sehingga proses pemadaman menjadi lebih sulit.
Faktor Alam Juga Bisa Memicu Kebakaran
Meski aktivitas manusia menjadi faktor dominan, kondisi alam dapat memperbesar risiko terjadinya kebakaran.
Cuaca panas dan kering, rendahnya kelembapan, serta kondisi lahan yang mudah terbakar membuat api lebih cepat menyebar. Karena itu, musim kemarau menjadi periode yang perlu diwaspadai dalam pencegahan karhutla.
Dengan demikian, faktor alam lebih tepat dipandang sebagai kondisi yang memperbesar risiko dan mempercepat penyebaran api, sementara sebagian besar kasus kebakaran berkaitan dengan aktivitas manusia.
Karhutla Berdampak Panjang
Dampak kebakaran hutan dan lahan tidak hanya dirasakan ketika api masih berkobar. Karhutla dapat menyebabkan kerusakan ekosistem, hilangnya habitat flora dan fauna, serta menghasilkan asap yang mencemari udara.
Asap karhutla juga dapat mengganggu aktivitas masyarakat dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak, bayi, ibu hamil, dan lansia.
Kerusakan lahan akibat kebakaran juga dapat berlangsung dalam jangka panjang. Pada kawasan gambut, api yang masuk ke bawah permukaan membuat proses pemulihan lingkungan menjadi jauh lebih sulit.
Karena itu, pencegahan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman ketika api sudah muncul. Kesadaran masyarakat, pengawasan pembukaan lahan, pencegahan pembakaran, serta penegakan hukum menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan.









