Jakarta – Pemerintah Malaysia menutup sementara sekitar 600 sekolah di Sarawak akibat kabut asap yang mengganggu kualitas udara. Kebijakan tersebut berdampak pada sekitar 200.000 siswa yang harus mengikuti pembelajaran dari luar sekolah.
Wilayah Serian, yang berada dekat perbatasan Malaysia dengan Kalimantan, Indonesia, menjadi salah satu daerah dengan kondisi udara terburuk. Indeks polusi udara di wilayah tersebut mencapai 239, masuk kategori sangat tidak sehat.
Kabut asap mengandung particulate matter (PM2,5), yakni partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Paparan asap dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, termasuk batuk, asma, dan sesak napas. Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang lebih rentan terhadap dampak polusi udara.
Asap Diduga Berkaitan dengan Karhutla di Kalimantan
Data satelit dari NASA Fire Information for Resource Management System (FIRMS) menunjukkan adanya aktivitas kebakaran yang meluas di wilayah Kalimantan, Indonesia.
Kondisi lahan gambut menjadi salah satu faktor yang membuat kebakaran sulit dipadamkan. Api dapat bertahan dan menyebar sehingga menghasilkan asap dalam jumlah besar.
Pemerintah Malaysia juga terus memantau kondisi kabut asap yang terjadi sejak awal Agustus. Menteri Sumber Daya Alam dan Kelestarian Lingkungan Malaysia Arthur Joseph Kurup mengatakan koordinasi dengan Indonesia dilakukan untuk menangani titik api dan mengantisipasi dampak kabut asap lintas batas.
Anak-Anak Diminta Hindari Aktivitas di Luar Ruangan
Ahli kesehatan masyarakat dan asisten profesor Duke-NUS Medical School, Khoo Yoong Khen, mengingatkan pentingnya membatasi aktivitas luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.
Menurutnya, anak-anak dengan alergi maupun asma dapat mengalami kondisi yang lebih buruk akibat paparan kabut asap.
Penutupan sekolah menjadi salah satu langkah untuk melindungi siswa dan tenaga pendidik dari paparan udara yang tidak sehat. Pembelajaran dapat dialihkan ke rumah selama kondisi udara belum memungkinkan untuk kegiatan belajar secara aman.
Fenomena kabut asap lintas batas ini kembali menunjukkan bahwa karhutla tidak hanya berdampak pada wilayah tempat kebakaran terjadi, tetapi juga dapat memengaruhi negara-negara tetangga.
Kondisi cuaca panas, musim kemarau berkepanjangan, minimnya hujan, serta pembukaan lahan dengan cara membakar dapat memperbesar risiko kebakaran dan memperburuk kualitas udara di kawasan ASEAN.









