Jakarta – Sebuah tren baru berkembang di China. Sejumlah orang tua memilih mengirim anak-anak mereka ke kamp musim panas di pedesaan untuk menjalani berbagai aktivitas fisik seperti bertani dan melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan petani.
Program tersebut menjadi pilihan orang tua yang ingin anaknya merasakan kehidupan yang berbeda dari keseharian di perkotaan. Mereka berharap pengalaman tersebut membuat anak memahami sulitnya bekerja, menghargai kehidupan yang dimiliki, serta lebih menghargai perjuangan keluarga.
Kamp-kamp tersebut banyak berada di wilayah barat daya China, seperti Sichuan, Guizhou, dan Yunnan. Anak-anak biasanya tinggal di lokasi selama liburan musim panas dan mengikuti berbagai aktivitas yang telah disiapkan penyelenggara.
Menggali Kentang hingga Memberi Makan Babi
Kegiatan yang diberikan cukup berbeda dengan program liburan anak pada umumnya. Peserta diajak melakukan pekerjaan yang menyerupai aktivitas sehari-hari petani, seperti menggali dan menjual kentang, mengupas kulit kayu, hingga memberi makan babi.
Menariknya, anak-anak tidak mendapatkan upah dari pekerjaan tersebut. Justru orang tua yang membayar biaya untuk mengikuti kamp.
Salah satu kamp mematok biaya lebih dari 4.000 yuan atau sekitar Rp10,5 juta untuk program 10 hari. Sementara program yang berlangsung hingga satu bulan dapat menghabiskan biaya lebih dari 10.000 yuan atau sekitar Rp26 juta.
Sejumlah kamp juga menerapkan aturan cukup ketat. Ponsel peserta dapat disita dan kebutuhan tertentu diberikan berdasarkan pekerjaan yang berhasil diselesaikan.
Jika peserta tidak menyelesaikan tugas yang diberikan, mereka bahkan dapat dikenai konsekuensi tertentu, seperti hanya mendapatkan makanan berupa kentang.
Banyak Anak Menangis dan Ingin Pulang
Video yang beredar dari sejumlah kamp memperlihatkan beberapa anak menangis dan meminta untuk pulang. Bahkan, ada anak yang mengaku bersedia mengerjakan tugas sekolah sebagai gantinya.
Meski demikian, sebagian orang tua justru menganggap pengalaman tersebut memberikan pelajaran penting bagi anak.
Salah seorang ayah bermarga Gao dari Sichuan mengirim putrinya yang duduk di tahun pertama sekolah menengah. Ia mengaku sempat terkejut karena meskipun putrinya sering mengeluh, sang anak ternyata menikmati pengalaman melakukan pekerjaan pertanian.
Orang tua lainnya dari Shanghai juga mengirim putrinya yang berusia tujuh tahun selama 10 hari. Ia mengakui kebiasaan anaknya yang malas dan pilih-pilih makanan belum sepenuhnya berubah, tetapi menilai pengalaman keluar dari zona nyaman tetap memberikan manfaat.
Tidak Semua Orang Setuju
Tren tersebut juga memunculkan perdebatan. Sebagian masyarakat menilai menghadapi kesulitan dapat membantu anak memahami nilai kerja keras dan tidak mudah menganggap kenyamanan sebagai sesuatu yang otomatis diperoleh.
Namun, ada pula yang mengingatkan agar kegiatan tersebut tidak dilakukan secara berlebihan. Beban pekerjaan fisik yang terlalu berat dinilai berpotensi memberikan dampak negatif terhadap perkembangan fisik maupun mental anak.
Perdebatan ini menunjukkan bahwa kegiatan pendidikan di luar kelas tetap perlu mempertimbangkan usia, kemampuan fisik, keamanan, kondisi psikologis, serta kebutuhan masing-masing anak.
Pada akhirnya, tujuan memberikan pengalaman hidup kepada anak bukan sekadar membuat mereka merasa susah, tetapi membantu mereka memahami kerja keras, kemandirian, tanggung jawab, dan menghargai orang lain dengan cara yang aman dan sesuai tahap perkembangannya.









