Jakarta, 4 September 2026 – Genap 170 tahun hadir di Indonesia, Ursulin Indonesia merayakan perjalanan panjangnya di dunia pendidikan melalui Festival Pendidikan 170 Tahun Ursulin Indonesia bertajuk “Tangguh dalam Cinta”.
Perayaan ini tidak sekadar menjadi momentum mengenang sejarah panjang Ursulin dalam mendampingi generasi muda. Festival tersebut juga menjadi ruang bagi siswa untuk berkarya, berkolaborasi, mengembangkan kreativitas, sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.
Puncak acara akan menghadirkan drama musikal kolosal “Mutiara dari Timur: Nyala Perjuangan Martha Christina Tiahahu” yang melibatkan sekitar 520 pemain dari jenjang TK hingga SMA.
Festival Pendidikan 170 Tahun Ursulin Indonesia dijadwalkan berlangsung pada 10–11 September 2026 di Istora Senayan, Jakarta, mulai pukul 09.00 hingga 19.00 WIB.
Lima Sekolah Ursulin Berkolaborasi
Festival ini menjadi momentum istimewa karena melibatkan lima sekolah Ursulin di wilayah DKI Jakarta dan Banten.
Kelima sekolah tersebut adalah Sekolah St. Maria, Sekolah St. Ursula Jakarta, Sekolah St. Theresia, Sekolah St. Vincentius, dan Sekolah St. Ursula BSD.
Kolaborasi tersebut mempertemukan siswa dari berbagai jenjang untuk menampilkan kreativitas dan identitas pendidikan Ursulin dalam satu rangkaian kegiatan.
Selain drama musikal, festival juga menghadirkan berbagai kegiatan pendidikan yang dapat dinikmati masyarakat.
Mengangkat Kisah Pahlawan Martha Christina Tiahahu
Drama musikal kolosal menjadi salah satu daya tarik utama Festival Pendidikan 170 Tahun Ursulin Indonesia.
Pertunjukan berjudul “Mutiara dari Timur: Nyala Perjuangan Martha Christina Tiahahu” mengangkat kisah perjuangan pahlawan perempuan dari Maluku, Martha Christina Tiahahu.
Pemilihan tokoh tersebut memiliki keterkaitan dengan nilai yang diwariskan Ursulin.
Ketua Panitia Festival, Anton Sumardi, menjelaskan bahwa terdapat benang merah antara perjuangan Santa Angela Merici, pendiri Ursulin yang memberikan perhatian pada pendidikan perempuan muda, dengan keberanian Martha Christina Tiahahu yang sejak usia muda telah berjuang untuk bangsanya.
Sementara itu, sutradara drama musikal, Rama Soeprapto, menilai kisah Martha Christina Tiahahu merupakan sejarah kepahlawanan Indonesia Timur yang masih jarang diangkat ke panggung pertunjukan.
Melalui pementasan tersebut, sejarah diharapkan tidak hanya dibaca dalam buku, tetapi juga dapat dirasakan oleh generasi muda melalui seni pertunjukan.
520 Siswa Terlibat dalam Drama Musikal
Drama musikal ini menjadi proyek kolaborasi besar karena melibatkan sekitar 520 pemain dari jenjang TK hingga SMA.
Keterlibatan siswa lintas jenjang memberikan pengalaman tersendiri bagi peserta didik. Mereka tidak hanya belajar mengenai sejarah, tetapi juga bekerja sama dalam sebuah produksi seni yang membutuhkan disiplin, kreativitas, komunikasi, dan tanggung jawab.
Bagi siswa, proses tersebut dapat menjadi pembelajaran di luar ruang kelas.
Setiap peserta memiliki peran yang saling melengkapi sehingga keberhasilan pertunjukan tidak hanya ditentukan oleh pemain utama, tetapi juga oleh kerja sama seluruh tim.
Berakar pada Semangat “Serviam”
Festival Pendidikan 170 Tahun Ursulin Indonesia berakar pada semangat Serviam, yang berarti “Saya mengabdi”.
Nilai tersebut merupakan semangat yang diwariskan oleh Santa Angela Merici dan menjadi salah satu fondasi karya pendidikan Ursulin.
Semangat Serviam tidak hanya diarahkan pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan pribadi yang memiliki kepedulian terhadap orang lain dan lingkungan sekitar.
Karena itu, perayaan 170 tahun Ursulin tidak hanya melihat perjalanan masa lalu, tetapi juga berusaha meneruskan nilai pengabdian melalui kegiatan pendidikan dan sosial.
Tidak Hanya Drama, Ada Edufair hingga Seminar Parenting
Masyarakat yang datang ke Festival Pendidikan 170 Tahun Ursulin Indonesia tidak hanya dapat menyaksikan pertunjukan drama musikal.
Festival juga menghadirkan Edufair atau pameran pendidikan dan perguruan tinggi nasional maupun internasional.
Selain itu, terdapat berbagai lomba edukatif, seminar parenting, panggung ekstrakurikuler, serta bazar yang menghadirkan produk UMKM dan kuliner.
Festival pendidikan dapat dikunjungi secara gratis. Sementara untuk menyaksikan drama musikal kolosal “Mutiara dari Timur”, pengunjung dapat membeli tiket melalui Loket.com.
Hasil Festival untuk Beasiswa Pendidikan
Salah satu hal penting dalam perayaan 170 tahun ini adalah misi sosial yang menyertainya.
Hasil dari kegiatan festival akan didedikasikan untuk keberlanjutan Ursuline Scholarship Foundation (USF) atau Yayasan Beasiswa Ursulin.
Program tersebut ditujukan untuk membantu memperluas akses pendidikan bagi siswa yang membutuhkan.
Hingga tahun ajaran 2025/2026, USF telah menyalurkan sebanyak 8.095 beasiswa di lebih dari 25 kota di Indonesia dan Timor Leste.
Pada tahun ajaran yang sama, USF menerima 919 pengajuan bantuan pendidikan dan berhasil membantu 709 siswa.
Data tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap dukungan pendidikan masih cukup besar. Jumlah pengajuan yang masuk bahkan masih lebih tinggi dibandingkan kapasitas bantuan yang dapat diberikan.
Perayaan 170 Tahun Sekaligus Menatap Masa Depan
Perjalanan 170 tahun merupakan waktu yang panjang bagi sebuah lembaga pendidikan.
Karena itu, festival ini tidak hanya dimaksudkan sebagai perayaan sejarah, tetapi juga menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana pendidikan dapat terus memberikan kontribusi bagi masyarakat.
Melalui kegiatan yang menggabungkan pendidikan, seni, kreativitas, dan kepedulian sosial, Ursulin Indonesia ingin menunjukkan bahwa pendidikan memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar kegiatan akademik.
Pendidikan juga dapat menjadi sarana membentuk karakter, mengembangkan kepedulian, serta memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk belajar melalui pengalaman nyata.
Sejarah Dihidupkan melalui Kreativitas Siswa
Pengangkatan kisah Martha Christina Tiahahu juga menjadi contoh bagaimana sejarah dapat disampaikan melalui pendekatan yang dekat dengan generasi muda.
Ketika siswa terlibat langsung dalam sebuah pementasan sejarah, mereka tidak hanya menghafalkan nama tokoh dan tanggal peristiwa.
Mereka juga dapat memahami nilai keberanian, pengorbanan, semangat perjuangan, dan kecintaan terhadap bangsa melalui pengalaman berkarya bersama.
Pendekatan semacam ini membuat pembelajaran sejarah menjadi lebih kontekstual dan memberikan ruang bagi siswa untuk mengekspresikan pemahaman mereka melalui seni.
Festival Pendidikan Terbuka untuk Masyarakat
Festival yang berlangsung selama dua hari tersebut juga menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat perjalanan pendidikan Ursulin di Indonesia.
Dengan adanya pameran pendidikan, perguruan tinggi, seminar, kegiatan siswa, hingga pertunjukan seni, acara ini dirancang sebagai ruang perjumpaan berbagai unsur pendidikan.
Kehadiran masyarakat juga memiliki arti penting karena hasil kegiatan nantinya diarahkan untuk mendukung keberlanjutan program beasiswa.
Dengan demikian, partisipasi dalam festival tidak hanya menjadi bentuk apresiasi terhadap karya siswa, tetapi juga dapat ikut mendukung akses pendidikan bagi anak-anak yang membutuhkan.
Kesimpulan
Ursulin Indonesia merayakan 170 tahun perjalanan di dunia pendidikan melalui Festival Pendidikan “Tangguh dalam Cinta” pada 10–11 September 2026 di Istora Senayan, Jakarta.
Festival ini melibatkan lima sekolah Ursulin di DKI Jakarta dan Banten serta menghadirkan berbagai kegiatan, mulai dari Edufair, lomba edukatif, seminar parenting, panggung ekstrakurikuler, hingga bazar UMKM dan kuliner.
Puncak perayaan akan diisi drama musikal kolosal “Mutiara dari Timur: Nyala Perjuangan Martha Christina Tiahahu” yang melibatkan sekitar 520 siswa dari jenjang TK hingga SMA.
Lebih dari sekadar pertunjukan, kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran bagi siswa untuk mengenal sejarah, bekerja sama, mengembangkan kreativitas, dan menumbuhkan karakter.
Yang tidak kalah penting, hasil festival akan didedikasikan untuk keberlanjutan Yayasan Beasiswa Ursulin (USF). Hingga tahun ajaran 2025/2026, USF telah menyalurkan 8.095 beasiswa di lebih dari 25 kota di Indonesia dan Timor Leste.
Perayaan 170 tahun Ursulin akhirnya menjadi perpaduan antara sejarah, pendidikan, seni, kolaborasi, dan kepedulian sosial—sekaligus pengingat bahwa pendidikan yang baik tidak hanya mencetak generasi berprestasi, tetapi juga generasi yang memiliki semangat untuk mengabdi dan membantu sesama.











