Jakarta, 3 September 2026 – Prestasi gemilang Luvidi Pranawa Alghari menjadi salah satu bukti bahwa pembinaan talenta secara berkelanjutan dapat membuka jalan bagi murid Indonesia untuk berprestasi di tingkat internasional.
Murid kelas 11 SMAS Pribadi Beji, Depok, Jawa Barat, tersebut berhasil meraih medali emas International Olympiad in Artificial Intelligence (IOAI) 2026 di Astana, Kazakhstan. Prestasi itu melanjutkan perjalanan Luvidi yang sebelumnya telah meraih medali perak IOAI 2025.
Perjalanan prestasinya bahkan telah dimulai sejak mengikuti kompetisi di tingkat pendidikan dasar. Dari matematika hingga informatika dan kecerdasan artifisial, Luvidi terus mengembangkan minat dan kemampuannya melalui berbagai ajang talenta.
Perjalanan Luvidi Dimulai dari OSN
Ketertarikan Luvidi terhadap matematika dan pemrograman sudah tumbuh sejak sekolah dasar.
Pada OSN Jenjang Pendidikan Dasar 2023, Luvidi berhasil meraih medali perak pada cabang matematika. Setahun kemudian, ia kembali menunjukkan kemampuannya dengan meraih medali emas OSN Jenjang Pendidikan Menengah cabang informatika pada 2024.
Prestasi tersebut kemudian membawanya mengikuti proses seleksi untuk menjadi delegasi Indonesia pada IOAI.
Kesempatan itu dimanfaatkan Luvidi untuk memperluas kemampuannya dari matematika dan pemrograman menuju bidang kecerdasan artifisial.
“Saya tertarik pada matematika dan pemrograman, jadi saya mencoba ikut seleksi IOAI. Di sana saya belajar lebih banyak tentang kecerdasan artifisial dan saya tertarik,” ujar Luvidi.
Raih Perak IOAI 2025, Kemudian Emas pada 2026
Perjalanan Luvidi di IOAI tidak langsung berujung pada medali emas.
Pada IOAI 2025 di Beijing, China, ia berhasil membawa pulang medali perak.
Pengalaman tersebut menjadi modal penting untuk menghadapi kompetisi berikutnya. Pada awal 2026, Luvidi kembali mendapatkan kesempatan mengikuti proses seleksi untuk delegasi IOAI.
Hasilnya, ia mampu meningkatkan pencapaiannya dengan meraih medali emas IOAI 2026 di Astana, Kazakhstan.
Prestasi tersebut menjadi bagian dari keberhasilan tim Indonesia di IOAI 2026. Indonesia meraih satu emas, dua perak, dan satu perunggu dalam kompetisi yang diikuti lebih dari 400 peserta dari 106 negara.
Pembinaan Kemendikdasmen Jadi Bagian Penting
Menurut Luvidi, pembinaan yang dilakukan melalui Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kemendikdasmen memberikan pengalaman penting dalam perjalanan prestasinya.
Selama mengikuti pembinaan, ia mendapatkan kesempatan belajar dari para ahli sekaligus bertemu dengan murid dari berbagai daerah yang memiliki ketertarikan serupa.
“Banyak diajarkan oleh para ahli di bidangnya. Saat mengikuti pembinaan, saya juga bertemu banyak teman dengan ketertarikan yang serupa,” ungkap Luvidi.
Pembinaan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan talenta tidak berhenti ketika seorang murid memenangkan kompetisi nasional.
Prestasi pada ajang nasional justru dapat menjadi pintu masuk menuju proses seleksi, pelatihan, dan pembinaan lanjutan untuk kompetisi internasional.
Tak Mudah Menemukan Soal Latihan AI
Perjalanan Luvidi menuju prestasi internasional juga tidak lepas dari tantangan.
Salah satu kendala yang dihadapinya adalah masih terbatasnya soal latihan khusus untuk olimpiade kecerdasan artifisial dibandingkan dengan bidang olimpiade lainnya.
Untuk mengatasinya, Luvidi membangun kebiasaan belajar secara rutin. Ia berusaha belajar hampir setiap hari atau memanfaatkan waktu luang untuk memperdalam kemampuan.
Ia juga bergabung dengan sejumlah komunitas olimpiade kecerdasan artifisial yang anggotanya berasal dari berbagai negara.
Menurutnya, lingkungan tersebut membantunya mendapatkan wawasan dan pengalaman tambahan dalam mempersiapkan diri menghadapi kompetisi.
Dari Matematika ke Kecerdasan Artifisial
Perjalanan Luvidi juga memperlihatkan bagaimana minat terhadap satu bidang dapat berkembang menjadi ketertarikan baru.
Awalnya, matematika dan pemrograman menjadi bidang yang paling diminatinya. Ketika mengikuti proses seleksi dan pembinaan IOAI, ia mulai mempelajari kecerdasan artifisial secara lebih mendalam.
Dari proses tersebut, Luvidi menemukan ketertarikan baru pada AI.
Pengalaman ini menunjukkan pentingnya memberikan ruang kepada murid untuk mencoba berbagai bidang sehingga mereka dapat menemukan potensi dan minat yang paling sesuai.
Kemendikdasmen Bangun Ekosistem Talenta Berkelanjutan
Kepala Puspresnas Kemendikdasmen Maria Veronica Irene Herdjiono menegaskan bahwa prestasi murid tidak berhenti ketika sebuah kompetisi selesai.
Menurutnya, capaian dalam ajang talenta nasional dapat menjadi pintu masuk menuju proses pembinaan berikutnya sehingga talenta yang telah teridentifikasi dapat terus dikembangkan.
Kemendikdasmen melalui Puspresnas mengembangkan berbagai ajang talenta, seperti OSN, OPSI, FIKSI, LKS, O2SN, GSI, dan FLS3N.
Ajang-ajang tersebut menjadi ruang bagi murid untuk menemukan dan mengembangkan minat serta bakatnya sesuai dengan potensi masing-masing.
Pada 2026, Puspresnas memfasilitasi talenta terbaik Indonesia untuk mengikuti 14 ajang internasional melalui proses seleksi dan pembinaan.
40 Penghargaan Internasional Diraih hingga September 2026
Upaya pembinaan tersebut turut menghasilkan berbagai prestasi internasional.
Hingga September 2026, delegasi Indonesia yang telah mendapatkan pembinaan Puspresnas tercatat meraih 40 penghargaan internasional.
Capaian tersebut terdiri atas:
- 6 medali emas
- 12 medali perak
- 18 medali perunggu
- 1 honorable mention
- 3 penghargaan khusus
Prestasi tersebut menjadi gambaran bahwa pembinaan talenta dilakukan secara berjenjang dan berkelanjutan, mulai dari identifikasi potensi, kompetisi nasional, seleksi internasional, hingga pembinaan untuk menghadapi ajang dunia.
Prestasi Luvidi Jadi Contoh Perjalanan Talenta
Jika dirunut, perjalanan Luvidi memperlihatkan proses yang cukup panjang.
Dimulai dari medali perak OSN Matematika SMP pada 2023, kemudian emas OSN Informatika pada 2024, dilanjutkan perak IOAI 2025, hingga akhirnya meraih emas IOAI 2026.
Rangkaian prestasi tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan di kompetisi internasional dapat dibangun secara bertahap.
Bukan hanya kemampuan akademik yang berperan, tetapi juga konsistensi belajar, kesempatan mengikuti kompetisi, pembinaan, dukungan keluarga, sekolah, guru, pembina, serta lingkungan belajar yang mendukung.
Pesan Luvidi untuk Murid Indonesia
Di balik prestasinya, Luvidi menyampaikan pesan sederhana kepada murid-murid Indonesia yang ingin mengembangkan talenta.
Ia mengajak murid untuk mengisi waktu dengan kegiatan positif dan tidak mudah menyerah dalam mengejar cita-cita.
Pesan tersebut sejalan dengan semangat pembinaan talenta yang dikembangkan Kemendikdasmen, yakni memberikan ruang kepada murid untuk menemukan potensi, mengembangkannya secara konsisten, kemudian mengaktualisasikannya dalam berbagai ajang prestasi.
Kisah Luvidi membuktikan bahwa satu prestasi bukanlah akhir perjalanan. Justru, prestasi dapat menjadi awal untuk mendapatkan kesempatan belajar dan berkembang yang lebih luas.
Kesimpulan
Luvidi Pranawa Alghari menjadi contoh perjalanan talenta muda Indonesia yang berkembang secara bertahap, dari kompetisi matematika di tingkat nasional hingga meraih medali emas IOAI 2026 di Kazakhstan.
Prestasinya tidak datang secara instan. Ia melalui berbagai tahapan, mulai dari OSN, seleksi internasional, pembinaan, latihan mandiri, hingga pengalaman berkompetisi di tingkat dunia.
Kemendikdasmen melalui Puspresnas terus mendorong sistem pembinaan talenta yang berkelanjutan agar prestasi murid tidak berhenti pada satu kompetisi.
Kisah Luvidi sekaligus menunjukkan bahwa dengan minat, ketekunan, pembinaan, dukungan lingkungan, dan kesempatan yang tepat, talenta murid Indonesia dapat berkembang hingga mampu bersaing di panggung internasional.


















