KLATEN – Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo turun langsung mengecek kondisi MIM Cetan dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kurung, Kecamatan Ceper, Jumat (4/9/2026). Peninjauan dilakukan setelah puluhan siswa dari MIM Srebegan dan MIM Cetan mengalami gangguan kesehatan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dalam perkembangan terbaru, jumlah siswa yang mengalami gejala mencapai 64 orang. Dari jumlah tersebut, 21 siswa sempat mendapatkan pengobatan, sementara tidak ada yang harus menjalani rawat inap. Sebagian siswa dilaporkan mulai membaik dan sudah kembali mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
Bupati Klaten Turun Langsung ke Lokasi
Kunjungan Hamenang dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi siswa sekaligus mengecek fasilitas SPPG yang menyediakan makanan MBG untuk kedua sekolah tersebut.
Peninjauan menjadi bagian dari evaluasi setelah munculnya laporan siswa mengalami mual, pusing, muntah dan gangguan kesehatan lainnya tidak lama setelah mengonsumsi menu MBG pada Kamis (3/9/2026).
Selain memastikan kondisi siswa, pemeriksaan juga diarahkan pada tata kelola dapur dan proses penyediaan makanan. Hal ini penting untuk mengetahui apakah seluruh tahapan pengolahan dan penyimpanan bahan makanan telah sesuai dengan standar yang ditetapkan.
Ada Catatan pada Higienitas dan Penyimpanan
Saat melakukan sidak ke SPPG Kurung, ditemukan sejumlah hal yang perlu menjadi bahan evaluasi.
Salah satunya berkaitan dengan fasilitas pendingin ruangan. Dalam pengecekan, ditemukan penggunaan satu unit AC untuk dua ruangan.
Kondisi tersebut menjadi salah satu catatan dalam pengelolaan fasilitas SPPG, terutama karena penyimpanan bahan makanan membutuhkan pengaturan lingkungan yang sesuai dengan standar keamanan pangan.
Selain persoalan fasilitas pendingin, alur keluar-masuk bahan baku juga dinilai perlu dievaluasi. Pengelolaan bahan makanan harus memiliki alur yang jelas agar bahan yang baru datang, bahan yang akan diolah, serta bahan yang sudah diproses tidak menimbulkan risiko kontaminasi silang.
Temuan tersebut tidak otomatis membuktikan sebagai penyebab gangguan kesehatan siswa. Namun, catatan dalam sidak menjadi bahan penting untuk memperbaiki tata kelola SPPG.
Operasional SPPG Kurung Dihentikan Sementara
Sebagai langkah kehati-hatian, operasional SPPG Kurung dihentikan sementara.
Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Klaten, Yoga Angga Pratama, mengatakan penghentian dilakukan setelah kejadian tersebut dan akan berlangsung hingga hasil pemeriksaan laboratorium tersedia.
Hasil pemeriksaan laboratorium diperkirakan membutuhkan waktu sekitar lima hingga tujuh hari. Setelah hasil keluar, temuan tersebut akan menjadi bahan untuk menentukan langkah selanjutnya terhadap operasional SPPG.
Penghentian sementara juga memberikan kesempatan kepada pengelola untuk melakukan evaluasi dan pembenahan terhadap proses penyediaan makanan.
64 Siswa Mengalami Gejala
Berdasarkan pembaruan data pada Jumat (4/9/2026), terdapat 64 siswa dari MIM Srebegan dan MIM Cetan yang mengalami gejala gangguan kesehatan.
Sebanyak 21 siswa tercatat sempat mendapatkan pengobatan. Kabar baiknya, tidak ada siswa yang harus menjalani rawat inap.
Sebagian besar siswa juga disebut sudah dalam kondisi membaik. Bahkan, sebagian di antaranya telah kembali ke sekolah untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Sebelumnya, data awal mencatat 33 siswa di MIM Srebegan dan 27 siswa di MIM Cetan mengalami keluhan setelah menyantap makanan MBG. Jumlah tersebut kemudian diperbarui setelah dilakukan pendataan lebih lanjut.
Menu Ikan Dori Masih Jadi Sorotan
Menu MBG yang dikonsumsi siswa pada Kamis (3/9/2026) terdiri dari katsu filet ikan, balado tahu, oseng wortel dan buncis, serta buah semangka.
Ikan dori menjadi salah satu menu yang mendapat perhatian setelah pihak pengelola SPPG menyampaikan dugaan adanya masalah pada ikan yang digunakan.
Ketua Yayasan Sridaya Amanah Sejahtera, Bambang Sridaya, sebelumnya menyebut ikan dori yang digunakan dibeli dalam kondisi kemasan. Ia menduga bahan tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperiksa karena terdapat bagian ikan yang dinilai memiliki rasa kurang baik ketika disajikan.
Namun, hingga saat ini belum ada hasil laboratorium yang memastikan ikan dori sebagai penyebab munculnya gangguan kesehatan siswa.
Sampel Makanan dan Air Diperiksa
Dinas Kesehatan bersama petugas terkait telah mengambil sampel makanan untuk diperiksa di laboratorium.
Sampel yang diperiksa mencakup beberapa komponen menu, seperti nasi, ikan dori tepung, sayuran wortel dan kacang panjang, serta tahu berbumbu saus. Selain makanan, pemeriksaan juga dilakukan terhadap sampel air.
Pemeriksaan laboratorium menjadi bagian penting dalam investigasi karena gangguan kesehatan setelah makan tidak dapat langsung dikaitkan dengan satu jenis makanan tanpa bukti pemeriksaan.
Hasil tersebut nantinya diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kemungkinan adanya kontaminasi atau masalah lain dalam proses penyediaan makanan.
Siswa Mulai Kembali Bersekolah
Di tengah proses investigasi, kondisi kesehatan siswa dilaporkan semakin membaik.
Sebagian siswa yang sebelumnya mengalami mual, pusing atau muntah telah kembali beraktivitas di sekolah. Tidak adanya siswa yang harus menjalani rawat inap juga menjadi perkembangan positif dalam penanganan kasus tersebut.
Meski demikian, kondisi kesehatan siswa tetap menjadi perhatian. Pemantauan diperlukan untuk memastikan tidak muncul gejala lanjutan.
Bupati Minta Pengelolaan MBG Lebih Disiplin
Evaluasi terhadap SPPG menjadi penting karena program MBG melibatkan penyediaan makanan dalam jumlah besar setiap hari.
Setiap tahapan, mulai dari penerimaan bahan baku, penyimpanan, persiapan, pengolahan, pengemasan hingga distribusi, harus dilakukan sesuai prosedur.
Pemerintah Kabupaten Klaten sebelumnya juga telah menekankan pentingnya penerapan SOP secara konsisten dalam pengelolaan SPPG. Bupati Hamenang menilai persoalan dalam pelaksanaan MBG perlu dilihat sebagai bahan perbaikan agar program tersebut dapat berjalan aman dan memberikan manfaat maksimal bagi siswa.
Hasil Laboratorium Jadi Penentu
Saat ini, penyebab pasti gangguan kesehatan siswa masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
Hal tersebut penting untuk ditekankan karena adanya catatan mengenai fasilitas SPPG maupun dugaan terhadap bahan makanan tertentu belum dapat dijadikan bukti sebagai penyebab utama.
Pemeriksaan laboratorium akan membantu memastikan apakah terdapat kontaminasi pada makanan atau air yang digunakan.
Sembari menunggu hasil tersebut, penghentian sementara operasional SPPG menjadi langkah antisipasi untuk mencegah kemungkinan terjadinya kejadian serupa.
Kesimpulan
Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo melakukan pengecekan langsung ke MIM Cetan dan SPPG Kurung, Kecamatan Ceper, pada Jumat (4/9/2026), setelah puluhan siswa diduga mengalami gangguan kesehatan usai menyantap MBG.
Dalam sidak SPPG ditemukan sejumlah catatan terkait higienitas, fasilitas penyimpanan, penggunaan satu AC untuk dua ruangan, serta alur bahan baku yang perlu dievaluasi.
Sementara itu, data terbaru mencatat 64 siswa mengalami gejala, dengan 21 siswa sempat mendapatkan pengobatan dan tidak ada yang menjalani rawat inap. Sebagian siswa bahkan sudah mulai kembali bersekolah.
Operasional SPPG Kurung untuk sementara dihentikan sembari menunggu hasil pemeriksaan laboratorium yang diperkirakan membutuhkan waktu lima hingga tujuh hari.
Dengan demikian, penyebab pasti kejadian belum dapat disimpulkan. Dugaan terhadap ikan dori maupun persoalan fasilitas SPPG masih menjadi bagian dari proses investigasi.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa pelaksanaan MBG membutuhkan pengawasan ketat terhadap kualitas bahan makanan, kebersihan dapur, penyimpanan, serta seluruh alur distribusi. Keamanan dan kesehatan siswa harus menjadi prioritas utama dalam setiap penyajian makanan program MBG.













