KLATEN – Puluhan siswa Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Srebegan dan MIM Cetan, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, mengalami sejumlah keluhan kesehatan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Kamis (3/9/2026).
Para siswa dilaporkan mengalami gejala berupa mual, pusing, muntah hingga sakit perut. Kejadian tersebut langsung mendapat penanganan dari petugas kesehatan dan menjadi perhatian karena kedua sekolah menerima makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sama.
Data terbaru dari Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Klaten menyebut jumlah siswa yang mengalami gejala mencapai 64 orang. Sebanyak 21 siswa sempat mendapatkan pengobatan, sementara tidak ada siswa yang harus menjalani rawat inap.
Gejala Muncul Setelah Menyantap MBG
Kejadian pertama diketahui ketika pihak SPPG melaporkan adanya siswa yang mengalami gejala kepada Puskesmas Jambukulon sekitar pukul 10.00 WIB.
Petugas kemudian mendatangi MIM Srebegan dengan membawa ambulans. Pada awalnya, terdapat sekitar 15 siswa yang dilaporkan mengalami keluhan.
Sebanyak 14 siswa sempat dibawa ke puskesmas untuk menjalani observasi. Setelah kondisinya membaik, mereka diperbolehkan pulang.
Namun, setelah dilakukan pendataan dan pemeriksaan lebih lanjut di lingkungan sekolah, jumlah siswa yang mengalami gejala bertambah. Data awal kemudian mencatat 33 siswa di MIM Srebegan mengalami keluhan.
Keluhan yang muncul antara lain mual, muntah dan sakit perut. Petugas kesehatan juga melakukan pemantauan untuk melihat perkembangan kondisi para siswa.
27 Siswa MIM Cetan Ikut Mengalami Keluhan
Kejadian serupa juga terjadi di MIM Cetan.
Dari sekolah tersebut, sebanyak 27 siswa dilaporkan mengalami mual dan pusing setelah mengonsumsi makanan MBG.
Kepala MIM Cetan, Hariyanto, mengatakan sebagian besar siswa mendapatkan penanganan secara rawat jalan dan memperoleh obat dari puskesmas.
Satu siswa kelas 4 sempat dirujuk ke rumah sakit karena kondisinya lemas. Siswa tersebut dilaporkan sudah sadar dan masih menjalani pemantauan medis.
Jika mengacu pada data awal dari kedua sekolah, terdapat sedikitnya 60 siswa yang mengalami gejala. Namun, pendataan terbaru BGN pada Jumat (4/9/2026) mencatat total siswa bergejala mencapai 64 orang.
Ini Menu MBG yang Disantap Siswa
Menu MBG yang dibagikan kepada para siswa pada hari kejadian terdiri dari:
- Katsu filet ikan patin/dori
- Balado tahu
- Oseng-oseng wortel dan buncis
- Buah semangka
Menu ikan kemudian menjadi salah satu bagian yang mendapat perhatian setelah sejumlah siswa mengeluhkan kondisi kesehatan.
Salah seorang siswi MIM Srebegan, Fiona, mengaku hanya mengonsumsi sekitar setengah porsi sebelum merasa mual dan pusing. Ia menyebut lauk yang disantap berupa ikan, tahu dan sayur. Menurut pengakuannya, ikan tersebut terasa agak amis.
Meski demikian, ikan tidak dapat langsung dinyatakan sebagai penyebab sebelum hasil pemeriksaan laboratorium keluar.
Ikan Kemasan Jadi Salah Satu Dugaan
Pihak pengelola SPPG menyampaikan dugaan awal mengenai ikan yang digunakan dalam menu MBG.
Ketua Yayasan Sridaya Amanah Sejahtera, Bambang Sridaya, yang mengelola SPPG, mengatakan ikan dori yang digunakan pada hari tersebut dibeli dalam kondisi kemasan.
Menurutnya, bahan ikan tersebut berbeda dengan bahan yang biasanya digunakan. Ia juga menyebut terdapat bagian ikan yang terasa seperti basi ketika makanan telah disajikan.
Namun, dugaan tersebut masih harus dibuktikan melalui pemeriksaan laboratorium. Koordinator Wilayah BGN Kabupaten Klaten Yoga Angga Pratama menegaskan penyebab kejadian belum dapat dipastikan dan pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan sampel.
Semua Sampel Makanan Diperiksa
Untuk mengetahui penyebab kejadian, tim Dinas Kesehatan bersama petugas terkait mengambil berbagai sampel makanan.
Sampel yang diperiksa meliputi nasi, ikan dori tepung, sayuran wortel dan kacang panjang, serta tahu dengan bumbu saus.
Selain makanan, petugas juga mengambil sampel air untuk diperiksa di laboratorium. Pemeriksaan ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya kontaminasi yang menyebabkan munculnya keluhan pada siswa.
Dengan pemeriksaan menyeluruh, penyebab kejadian diharapkan dapat diketahui berdasarkan bukti laboratorium, bukan hanya dugaan terhadap salah satu jenis makanan.
Operasional SPPG Kurung Dihentikan Sementara
Perkembangan kasus tersebut membuat operasional SPPG Kurung, Kecamatan Ceper, dihentikan sementara.
Koordinator Wilayah BGN Kabupaten Klaten Yoga Angga Pratama mengatakan penghentian dilakukan setelah kejadian dan investigasi lapangan.
Penghentian operasional tersebut belum ditentukan sampai kapan. Pihak terkait masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium yang diperkirakan membutuhkan waktu sekitar lima hingga tujuh hari.
Langkah ini dilakukan sebagai bentuk kehati-hatian sekaligus memberikan kesempatan kepada tim terkait untuk melakukan evaluasi terhadap seluruh proses penyediaan makanan.
Siswa Dipantau Selama 72 Jam
Selain pemeriksaan sampel makanan dan air, petugas kesehatan juga melakukan pemantauan terhadap kondisi para siswa.
Pemantauan dilakukan hingga 72 jam untuk mengantisipasi munculnya gejala lanjutan, seperti diare atau gangguan kesehatan lainnya.
Prioritas utama saat ini adalah memastikan seluruh siswa yang mengalami gejala mendapatkan penanganan dan kondisinya terus membaik.
Penyebab Keracunan Masih Menunggu Hasil Lab
Kasus ini belum dapat disebut sebagai keracunan akibat ikan dori secara pasti.
Ikan kemasan memang menjadi salah satu dugaan yang disampaikan pihak pengelola SPPG. Namun, penentuan penyebab harus menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
Pemeriksaan juga penting untuk memastikan apakah gangguan kesehatan berkaitan dengan makanan, air, proses pengolahan, penyimpanan, maupun faktor lain.
Dengan demikian, masyarakat diharapkan tidak terburu-buru menarik kesimpulan sebelum seluruh hasil pemeriksaan selesai.
Kesimpulan
Puluhan siswa MIM Srebegan dan MIM Cetan di Kecamatan Ceper, Klaten, mengalami mual, pusing, muntah dan keluhan kesehatan lainnya setelah menyantap menu MBG pada Kamis (3/9/2026).
Data terbaru BGN Kabupaten Klaten mencatat 64 siswa mengalami gejala, dengan 21 siswa sempat mendapatkan pengobatan dan tidak ada yang menjalani rawat inap.
Menu yang disantap terdiri dari katsu filet ikan, balado tahu, oseng wortel dan buncis, serta buah semangka. Ikan dori kemasan menjadi salah satu dugaan yang mendapat perhatian, tetapi belum dapat dipastikan sebagai penyebab sebelum hasil laboratorium keluar.
Untuk sementara, operasional SPPG Kurung dihentikan. Sampel makanan dan air telah diperiksa untuk mencari sumber masalah, sementara kondisi siswa terus dipantau oleh petugas kesehatan.
Kasus ini kembali menegaskan pentingnya standar keamanan pangan, kualitas bahan baku, kebersihan proses pengolahan, serta pengawasan ketat dalam pelaksanaan program MBG agar makanan yang diterima siswa benar-benar aman dikonsumsi.











