JAKARTA – Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 resmi dirilis oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) pada Selasa, 8 September 2026.
Hasil tersebut menunjukkan adanya kenaikan skor siswa Indonesia pada dua bidang yang diujikan, yakni sains dan membaca. Sementara itu, skor matematika justru mengalami penurunan tipis dibandingkan hasil PISA 2022.
PISA merupakan asesmen internasional yang mengukur kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam menggunakan pengetahuan dan keterampilan untuk menghadapi berbagai persoalan kehidupan nyata.
Pada PISA 2025, asesmen diikuti sekitar 760.000 siswa dari 91 negara dan ekonomi, menjadikannya salah satu penyelenggaraan PISA dengan cakupan peserta terbesar.
Skor PISA Indonesia 2025 Dibandingkan 2022
Jika dibandingkan dengan PISA 2022, perubahan skor Indonesia adalah sebagai berikut:
| Bidang | PISA 2022 | PISA 2025 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Sains | 383 | 389 | +6 |
| Membaca | 359 | 365 | +6–7 |
| Matematika | 366 | 364 | -2 |
Data OECD mencatat kenaikan 6 poin dalam sains dan 7 poin dalam membaca, sedangkan matematika turun 2 poin. Namun, OECD menegaskan bahwa perubahan tersebut belum signifikan secara statistik.
Dengan demikian, kenaikan skor tidak dapat langsung diartikan bahwa kemampuan siswa Indonesia telah meningkat secara signifikan.
Meski demikian, hasil tersebut tetap menjadi perkembangan yang perlu diperhatikan, terutama karena terjadi ketika rata-rata performa sejumlah negara OECD mengalami penurunan dalam jangka panjang.
1. Skor Sains Naik Menjadi 389
Bidang sains menjadi fokus utama PISA 2025.
Skor Indonesia meningkat dari 383 pada 2022 menjadi 389 pada 2025, atau bertambah 6 poin.
Namun, capaian tersebut masih berada cukup jauh di bawah rata-rata OECD yang mencapai 482 poin.
OECD mencatat sekitar 63,2 persen siswa Indonesia masih berada di bawah Level 2 dalam sains, sedangkan proporsi siswa dengan kemampuan sangat tinggi atau Level 5 dan 6 tercatat sangat kecil.
Artinya, kenaikan skor perlu diikuti dengan upaya meningkatkan jumlah siswa yang mencapai kompetensi minimum.
Kemampuan Sains Masih Menjadi Tantangan
Kemampuan sains dalam PISA bukan hanya berkaitan dengan mengingat rumus atau fakta ilmiah.
Siswa dituntut mampu menggunakan pengetahuan untuk menjelaskan fenomena, mengevaluasi informasi, serta menarik kesimpulan berdasarkan bukti.
Karena itu, kenaikan skor enam poin menjadi salah satu perkembangan yang patut dicermati, tetapi masih terdapat pekerjaan besar untuk meningkatkan kemampuan siswa secara lebih merata.
2. Skor Membaca Naik Menjadi 365
Kemampuan membaca juga menunjukkan kenaikan.
Pada PISA 2022, siswa Indonesia memperoleh skor 359. Angka tersebut meningkat menjadi 365 pada PISA 2025. OECD mencatat perubahan sebesar 7 poin, dengan perbedaan angka yang dapat muncul akibat pembulatan.
Meski naik, skor tersebut masih berada di bawah rata-rata OECD yang mencapai 461 poin.
Persentase siswa Indonesia yang mencapai kompetensi minimum membaca juga masih menjadi perhatian.
PISA menilai kemampuan membaca bukan sekadar kemampuan mengenali kata atau memahami teks sederhana.
Siswa harus mampu menemukan informasi, memahami makna, mengevaluasi isi, dan menggunakan informasi dari berbagai sumber.
Kemampuan tersebut semakin penting di tengah banyaknya informasi yang beredar melalui internet dan media sosial.
3. Matematika Justru Turun 2 Poin
Berbeda dengan sains dan membaca, skor matematika Indonesia mengalami penurunan.
Pada PISA 2022, skor matematika Indonesia mencapai 366 poin.
Pada PISA 2025, angkanya menjadi 364 poin, turun 2 poin.
Rata-rata OECD pada bidang matematika mencapai 463 poin.
Data PISA 2025 juga menunjukkan hanya sebagian kecil siswa Indonesia yang mencapai kompetensi minimum matematika. Data Kemendikdasmen mencatat proporsinya sebesar 16,93 persen, turun dari 18,40 persen pada 2022.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa numerasi masih menjadi salah satu pekerjaan rumah utama dalam pendidikan Indonesia.
Peringkat Indonesia pada PISA 2025
Jika dilihat dari peringkat yang tercantum dalam hasil PISA 2025, Indonesia berada di:
- Matematika: peringkat 78 dari 90 negara yang memiliki data peringkat.
- Membaca: peringkat 74 dari 90 negara.
- Sains: peringkat 73 dari 91 negara.
Namun, peringkat bukan satu-satunya ukuran yang perlu diperhatikan.
Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikdasmen Toni Toharudin menekankan bahwa keberhasilan pendidikan tidak semata-mata ditentukan oleh naik atau turunnya posisi Indonesia dalam peringkat PISA.
Yang lebih penting adalah peningkatan kemampuan siswa dalam bernalar, memecahkan masalah, dan belajar sepanjang hayat.
Indonesia Berhasil Memperluas Akses Pendidikan
Salah satu aspek penting dalam membaca hasil PISA Indonesia adalah perubahan jumlah anak usia 15 tahun yang berada dalam sistem pendidikan.
Kemendikdasmen mencatat Coverage Index Indonesia mencapai 0,90 pada PISA 2025, meningkat jauh dibandingkan 0,46 pada awal keikutsertaan yang menjadi pembanding dalam data pemerintah.
Coverage Index menggambarkan proporsi anak usia 15 tahun yang berada dalam sistem pendidikan formal.
Artinya, semakin banyak anak Indonesia yang mengikuti pendidikan hingga usia tersebut.
Perluasan akses ini menjadi tantangan tersendiri karena peningkatan jumlah siswa yang berada dalam sistem pendidikan harus berjalan bersama dengan peningkatan kualitas pembelajaran.
Rasa Ingin Tahu Siswa Indonesia Menjadi Modal
Di tengah berbagai tantangan tersebut, PISA 2025 juga menemukan sisi positif dari siswa Indonesia.
Sekitar 84,6 persen siswa Indonesia mengatakan mereka menyukai belajar hal-hal baru di sekolah.
Selain itu, 83,1 persen siswa menyatakan tertarik mengetahui bagaimana sesuatu bekerja. Angka tersebut menunjukkan adanya rasa ingin tahu yang dapat menjadi modal penting dalam proses pembelajaran.
Rasa ingin tahu tersebut dapat dikembangkan melalui pembelajaran yang mendorong siswa bertanya, melakukan penyelidikan, memecahkan masalah, dan menghubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari.
Dengan pendekatan tersebut, siswa tidak hanya mengejar jawaban benar, tetapi juga memahami proses menemukan jawaban.
Kemampuan Pemecahan Masalah Komputasional
PISA 2025 juga mengukur kemampuan computational problem solving.
Rata-rata skor siswa Indonesia dalam kemampuan tersebut mencapai 427 poin, sedangkan rata-rata OECD adalah 500 poin.
Menariknya, 59,1 persen siswa Indonesia tercatat memiliki performa pemecahan masalah komputasional yang lebih baik daripada yang diperkirakan berdasarkan performa sains mereka.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa perkembangan kemampuan digital dan pemecahan masalah dapat menjadi salah satu potensi yang perlu terus dikembangkan.
Siswa Indonesia Juga Belajar Menilai Informasi dari AI
Perkembangan kecerdasan buatan atau AI turut menjadi bagian penting dalam konteks PISA 2025.
Kemendikdasmen menyebut siswa Indonesia relatif sering terlibat dalam pembelajaran untuk menilai kredibilitas konten yang dihasilkan AI dibandingkan siswa di banyak negara lain.
Hal tersebut penting karena kemampuan menggunakan AI tidak cukup hanya dengan mengetahui cara membuat perintah atau mendapatkan jawaban.
Siswa juga perlu mampu mempertanyakan informasi, memeriksa sumber, menemukan kesalahan, dan menilai apakah informasi yang diberikan AI dapat dipercaya.
Dengan kata lain, literasi digital perlu berjalan bersama dengan kemampuan berpikir kritis.
Pemerintah Siapkan Empat Strategi
Menindaklanjuti hasil PISA 2025, Kemendikdasmen menetapkan empat strategi utama.
1. Memperkuat Kompetensi Guru
Pemerintah mendorong peningkatan kualifikasi akademik, Pendidikan Profesi Guru atau PPG, serta kemampuan pedagogik dan digital guru, termasuk dalam bidang koding dan AI.
2. Meningkatkan Kualitas Pembelajaran
Pembelajaran mendalam, digitalisasi pendidikan, penguatan literasi-numerasi, serta pembentukan karakter menjadi bagian dari strategi peningkatan kualitas pembelajaran.
3. Menyelaraskan Asesmen
Kerangka Asesmen Nasional dan Tes Kemampuan Akademik diarahkan agar semakin selaras dengan kompetensi bernalar yang menjadi perhatian dalam PISA.
4. Memperkuat Peran Keluarga
Pemerintah juga menempatkan keluarga sebagai bagian penting dalam mendukung proses belajar anak, termasuk melalui penguatan kebiasaan belajar dan kemitraan antara sekolah dengan orang tua.
Naik Skor, tetapi Bukan Berarti Masalah Selesai
Hasil PISA 2025 memberikan gambaran yang cukup beragam.
Di satu sisi, skor sains dan membaca meningkat dibandingkan 2022. Di sisi lain, matematika turun dan kemampuan minimum siswa Indonesia masih relatif rendah.
OECD juga mencatat bahwa hasil rata-rata Indonesia pada 2025 secara keseluruhan masih berada di bawah capaian 2015. Bahkan, proporsi siswa berperforma rendah dibandingkan 2015 meningkat pada matematika, membaca, dan sains.
Karena itu, hasil PISA 2025 sebaiknya tidak hanya dirayakan karena adanya kenaikan skor.
Hasil tersebut juga perlu menjadi bahan evaluasi untuk mengetahui bagian mana yang sudah menunjukkan kemajuan dan bagian mana yang membutuhkan perhatian lebih besar.
Kesimpulan
Skor PISA siswa Indonesia 2025 memang meningkat dibandingkan 2022 pada bidang sains dan membaca. Skor sains naik dari 383 menjadi 389, sedangkan membaca meningkat dari 359 menjadi 365. Namun, skor matematika justru turun dari 366 menjadi 364.
OECD menegaskan bahwa perubahan skor tersebut belum signifikan secara statistik. Jadi, kenaikan enam atau tujuh poin tidak dapat langsung dianggap sebagai peningkatan kemampuan yang signifikan.
Meski demikian, hasil PISA 2025 memberikan sejumlah sinyal positif, termasuk tingginya rasa ingin tahu siswa Indonesia, meningkatnya kemampuan membaca dan sains dibandingkan 2022, serta adanya potensi dalam pemecahan masalah komputasional.
Tantangan berikutnya adalah memastikan peningkatan tersebut tidak berhenti pada angka PISA.
Yang jauh lebih penting adalah bagaimana sekolah, guru, keluarga, dan pemerintah memastikan setiap siswa semakin mampu bernalar, memahami informasi, memecahkan masalah, dan belajar secara mandiri.
Dengan demikian, keberhasilan pendidikan Indonesia tidak hanya terlihat dari posisi dalam tabel peringkat, tetapi dari kemampuan nyata siswa menghadapi persoalan di kehidupan sehari-hari.









