Kisah Ivon, Mahasiswa Non-Muslim yang Berhasil Lulus S3 di UIN Jakarta
JAKARTA – Menempuh pendidikan doktoral di perguruan tinggi yang identik dengan pendidikan Islam menjadi pengalaman tersendiri bagi Dr. Ivon Rahmani, S.Th., M.Th. Perempuan berlatar belakang non-Muslim tersebut berhasil menyelesaikan pendidikan S3 Program Studi Pengkajian Islam Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Kisah Ivon menjadi perhatian karena perjalanan akademiknya memperlihatkan bagaimana ruang pendidikan dapat menjadi tempat bertemunya mahasiswa dari latar belakang agama yang berbeda.
Ivon merupakan salah satu lulusan dalam Wisuda ke-141 UIN Jakarta. Dalam perjalanan studinya, ia mengaku sempat memiliki kekhawatiran karena memilih berkuliah di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) sebagai mahasiswa non-Muslim. Namun, kekhawatiran tersebut perlahan hilang setelah mendapatkan pengalaman positif selama berada di lingkungan kampus.
Tertarik UIN Jakarta karena Terbuka terhadap Keberagaman
Keputusan Ivon melanjutkan pendidikan doktoral di UIN Jakarta bukan tanpa alasan.
Ia melihat UIN Jakarta sebagai institusi pendidikan yang memiliki ruang cukup luas untuk dialog dan pembelajaran mengenai keberagaman agama. Lingkungan akademik tersebut membuatnya tertarik untuk mendalami ilmu sekaligus berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda.
Menurut Ivon, sejarah panjang UIN Jakarta juga menjadi salah satu pertimbangannya. Kampus tersebut memiliki akar sejarah sejak Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) pada 1957, sehingga ia percaya UIN Jakarta memiliki tenaga pengajar dengan pengalaman dan kompetensi akademik yang kuat.
Bagi Ivon, keberagaman bukan menjadi penghalang dalam memperoleh pendidikan. Sebaliknya, perbedaan latar belakang justru dapat menjadi sumber pengalaman dan pengetahuan baru.
Sempat Cemas sebagai Mahasiswa Non-Muslim
Menjadi mahasiswa non-Muslim di lingkungan PTKIN tentu menghadirkan tantangan tersendiri.
Ivon mengaku sempat merasa cemas sebelum benar-benar menjalani perkuliahan. Kekhawatiran tersebut terutama berkaitan dengan pertanyaan apakah dirinya dapat diterima dengan baik oleh lingkungan kampus.
Namun, pengalaman yang dijalaninya ternyata berbeda dari kekhawatiran awal.
Seiring berjalannya waktu, Ivon merasakan penerimaan yang baik dari civitas akademika UIN Jakarta. Ia tidak hanya mendapatkan kesempatan untuk belajar, tetapi juga memperoleh fasilitas yang mendukung proses pendidikannya.
Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan akademiknya. Interaksi dengan dosen, para pakar, serta mahasiswa lain membuat wawasan Ivon semakin berkembang.
Disertasi Bahas Otoritas Keagamaan di Media Sosial
Selama menjalani pendidikan doktoral, Ivon mengangkat isu yang sangat relevan dengan perkembangan kehidupan keagamaan di era digital.
Disertasinya berjudul “Konstruksi Otoritas Keagamaan di Media Sosial: Studi Konsep Komunikasi Husein Ja’far Al Hadar dan Adi Hidayat.”
Penelitian tersebut mengkaji bagaimana otoritas keagamaan dibentuk dan dikomunikasikan melalui media sosial, termasuk melalui figur-figur yang memiliki pengaruh di ruang digital.
Topik tersebut menunjukkan bahwa studi Islam di lingkungan akademik tidak hanya berkaitan dengan kajian keagamaan secara konvensional. Perkembangan teknologi dan media sosial juga menjadi bagian penting dari dinamika kehidupan beragama masyarakat modern.
Bagi Ivon, proses belajar di UIN Jakarta memberikan perspektif baru. Diskusi bersama para ahli dan mahasiswa dari berbagai latar belakang membuatnya memperoleh pemahaman yang lebih luas mengenai keberagaman dan kehidupan bersama.
Tiga Kata untuk Menggambarkan Perjalanan Kuliah
Ketika diminta menggambarkan pengalaman selama menjalani pendidikan doktoral di UIN Jakarta, Ivon memilih tiga kata, yaitu inklusif, transformatif, dan memperkaya.
Inklusif karena ia merasakan adanya kesempatan bagi mahasiswa dari latar belakang berbeda untuk belajar bersama.
Transformatif karena proses pendidikan memberikan perspektif baru yang turut mengubah cara pandangnya dalam memahami berbagai persoalan.
Sementara itu, pengalaman tersebut disebut memperkaya karena Ivon tidak hanya mendapatkan pengetahuan akademik, tetapi juga pengalaman berdiskusi dan berinteraksi dengan para pakar serta mahasiswa lainnya.
Ketiga hal tersebut menjadi bagian dari perjalanan Ivon hingga akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan doktoralnya.
UIN Jakarta dan Ruang Pendidikan Lintas Agama
Kisah Ivon bukan satu-satunya pengalaman mahasiswa non-Muslim di Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta.
UIN Jakarta juga mencatat adanya lulusan doktor dari latar belakang agama non-Muslim lainnya. Salah satunya adalah Dr. Bara Izzat Wiwah Handaru, S.Th., M.Th., yang menyelesaikan pendidikan doktoral di SPs UIN Jakarta.
Sebelumnya, ada pula Dr. Gregorius Soetomo, SJ, seorang pastor Katolik, yang menyelesaikan pendidikan doktoral di SPs UIN Jakarta pada 2017. Pengalaman para lulusan tersebut memperlihatkan adanya ruang akademik yang mempertemukan berbagai latar belakang agama.
Bagi Ivon, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa proses belajar tidak harus selalu berlangsung di lingkungan yang memiliki latar belakang sama.
Perbedaan justru dapat membuka kesempatan untuk memahami perspektif lain dan membangun komunikasi yang lebih baik.
Berharap Kesempatan bagi Mahasiswa Non-Muslim Terus Dibuka
Setelah berhasil menyelesaikan pendidikan doktoralnya, Ivon berharap UIN Jakarta terus memberikan kesempatan yang luas kepada mahasiswa non-Muslim untuk menempuh pendidikan.
Ia juga berharap kerja sama antara UIN Jakarta dengan institusi pendidikan non-Muslim maupun perguruan tinggi berbasis agama lain dapat semakin diperluas.
Menurutnya, semakin banyak ruang perjumpaan antarkelompok, semakin besar pula kesempatan untuk saling belajar dan memahami perbedaan.
Harapan tersebut sejalan dengan pengalaman yang ia rasakan selama menempuh pendidikan doktoral. Kampus tidak hanya menjadi tempat untuk memperoleh gelar akademik, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun dialog dan memperluas wawasan tentang kehidupan masyarakat yang beragam.
Wisuda ke-141 UIN Jakarta Kukuhkan 3.154 Lulusan
Ivon menjadi bagian dari Wisuda ke-141 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang mengukuhkan ribuan lulusan dari berbagai jenjang pendidikan.
UIN Jakarta mencatat sebanyak 3.154 lulusan dikukuhkan dalam rangkaian wisuda tersebut. Pelaksanaan wisuda dilakukan dalam dua gelombang di Kampus I UIN Jakarta.
Di tengah ribuan lulusan tersebut, perjalanan Ivon menjadi salah satu kisah yang menarik perhatian karena menunjukkan pengalaman akademik lintas agama.
Keberhasilannya menyelesaikan S3 di UIN Jakarta sekaligus memperlihatkan bahwa pendidikan dapat menjadi ruang untuk mempertemukan perbedaan, membangun dialog, dan memperluas pemahaman.
Kesimpulan
Kisah Dr. Ivon Rahmani menyelesaikan pendidikan S3 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menunjukkan bahwa perbedaan latar belakang agama tidak harus menjadi batas dalam menuntut ilmu.
Meski sempat merasa cemas sebagai mahasiswa non-Muslim di PTKIN, Ivon justru menemukan lingkungan akademik yang menurutnya terbuka dan menerima keberagaman.
Disertasinya tentang konstruksi otoritas keagamaan di media sosial juga memperlihatkan bagaimana kajian akademik dapat mengikuti perkembangan kehidupan masyarakat di era digital.
Bagi Ivon, pengalaman di UIN Jakarta dapat dirangkum dalam tiga kata: inklusif, transformatif, dan memperkaya.
Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa kampus bukan hanya tempat mengejar gelar, tetapi juga ruang untuk bertemu dengan perbedaan, berdialog, dan belajar memahami satu sama lain.









