Pernah memperhatikan peta dunia dan merasa ukuran Afrika tidak terlalu besar? Gambaran tersebut ternyata tidak sepenuhnya mencerminkan ukuran sebenarnya. Salah satu penyebabnya adalah penggunaan proyeksi Mercator, sistem pemetaan yang selama berabad-abad banyak digunakan untuk menggambarkan permukaan Bumi pada bidang datar.
Dalam peta Mercator, wilayah yang berada jauh dari garis khatulistiwa mengalami distorsi ukuran. Akibatnya, daerah yang mendekati kutub terlihat jauh lebih besar daripada ukuran sebenarnya. Salah satu contoh paling terkenal adalah Greenland yang tampak hampir sebesar Afrika, padahal luas Afrika sekitar 14 kali lebih besar daripada Greenland.
Gerardus Mercator, Sosok di Balik Proyeksi Mercator
Proyeksi tersebut dikembangkan oleh Gerardus Mercator, seorang kartografer asal Flanders yang lahir pada 1512. Ia dikenal sebagai ahli peta yang memiliki ketertarikan besar pada matematika, geografi, astronomi, dan pembuatan globe.
Mercator mempublikasikan peta dunia dengan proyeksinya pada 1569. Tujuan utamanya bukan untuk menunjukkan perbandingan luas setiap benua secara akurat, melainkan membantu pelaut menentukan arah ketika melakukan perjalanan di laut. Garis lintang dan bujur pada proyeksi tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga jalur dengan arah kompas yang konstan dapat digambarkan sebagai garis lurus.
Karena permukaan Bumi sebenarnya berbentuk bulat, pemindahannya ke bidang datar tidak mungkin dilakukan tanpa distorsi. Pada proyeksi Mercator, distorsi luas semakin besar ketika suatu wilayah semakin jauh dari khatulistiwa. Karena itu, wilayah di sekitar kutub tampak membesar, sedangkan wilayah di sekitar khatulistiwa terlihat lebih kecil dibandingkan luas sebenarnya.
Mercator Bukan Sekadar Pembuat Peta
Perjalanan Mercator dalam dunia kartografi cukup panjang. Ia mempelajari matematika di Louvain dan kemudian mengembangkan kemampuannya dalam membuat globe serta berbagai peta. Salah satu peta dunia pertamanya dibuat pada 1538, sedangkan peta Flanders yang dibuatnya pada 1540 menggunakan data survei untuk menghasilkan gambaran wilayah yang lebih akurat.
Mercator juga dikenal sebagai tokoh yang mempopulerkan istilah “atlas” untuk menyebut kumpulan peta. Karyanya kemudian memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan kartografi selama berabad-abad.
Mengapa Peta Dunia Mulai Dikoreksi?
Penggunaan peta yang mempertahankan bentuk atau arah tertentu memang memiliki manfaat, terutama untuk navigasi. Namun, proyeksi tersebut kurang tepat jika digunakan untuk membandingkan luas benua.
Karena itu, berbagai proyeksi alternatif dikembangkan. Pada 2026, Perserikatan Bangsa-Bangsa juga mendorong penggunaan Equal Earth, sebuah proyeksi yang dirancang agar luas wilayah di peta lebih proporsional dengan ukuran sebenarnya. Namun, penggunaan Mercator tidak dilarang karena setiap jenis proyeksi memiliki fungsi dan kebutuhan yang berbeda.
Dengan demikian, ketika melihat peta dunia, penting untuk memahami bahwa ukuran suatu negara atau benua yang terlihat di peta belum tentu sama dengan ukuran sebenarnya. Peta merupakan hasil representasi permukaan Bumi yang memiliki tujuan tertentu, sehingga setiap proyeksi mempunyai kelebihan sekaligus keterbatasan.









