Jakarta – Kisah inspiratif datang dari Clarissa Aurelia Nahid Saputra, mahasiswa asal Jakarta yang kini menempuh pendidikan di University of California (UC) San Diego, Amerika Serikat. Clarissa merupakan penerima Beasiswa Garuda dan berhasil mengembangkan startup saat baru memasuki tahun pertama kuliah.
Sebelum memilih UC San Diego, Clarissa mengaku mendapat kesempatan diterima di 14 perguruan tinggi luar negeri, di antaranya NUS, NTU, UIUC, UC Davis, University of Edinburgh, dan King’s College London. Ia kemudian memilih UC San Diego karena tertarik dengan ekosistem robotika dan lingkungan startup di California.
Prestasi Clarissa tidak terlepas dari berbagai pengalaman selama sekolah. Saat bersekolah di SMA MH Thamrin, ia mengikuti kompetisi fisika, termasuk International Physics Olympiad, serta pernah menjadi wakil ketua OSIS. Pengalaman tersebut turut mendukung prosesnya dalam memperoleh penerimaan dari berbagai kampus luar negeri.
Bangun Startup di Silicon Valley
Pada tahun pertama kuliah di Amerika Serikat, Clarissa bersama rekan-rekannya membangun startup Clean AI Labs. Startup tersebut bergerak di bidang B2B dan membantu perusahaan mengoptimalkan proses penjualan melalui analisis berbagai sinyal data dari internet.
Perjalanan startup tersebut bermula dari keikutsertaan Clarissa dan tim dalam berbagai hackathon. Dari pengalaman tersebut, mereka memperoleh pendanaan sebesar US$50.000 dari salah satu akselerator startup di San Francisco. Startup mereka kemudian mendapat dukungan dari Y Combinator, salah satu akselerator startup yang dikenal secara global.
Buat Platform untuk Pelajar Indonesia
Selain mengembangkan startup di Amerika Serikat, Clarissa juga merintis StudiLanjut, sebuah platform yang ditujukan untuk membantu pelajar Indonesia mendapatkan informasi dan panduan untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri serta memperoleh beasiswa.
Dalam pengembangannya, Clarissa berkolaborasi dengan sejumlah teman dari berbagai perguruan tinggi, termasuk Berkeley dan Kyoto. Platform tersebut diarahkan untuk memberikan panduan kepada pelajar yang ingin mempersiapkan diri masuk perguruan tinggi luar negeri.
Kisah Clarissa menunjukkan bagaimana kesempatan pendidikan, pengalaman berorganisasi, kompetisi, serta lingkungan akademik dapat menjadi bagian dari perjalanan seorang mahasiswa dalam mengembangkan berbagai proyek dan inovasi sejak usia muda.








