Jakarta – Sebanyak 4.922 sekolah terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah kembali melaksanakan kegiatan pembelajaran. Pemulihan layanan pendidikan terus dilakukan meski proses rehabilitasi dan rekonstruksi sejumlah bangunan sekolah masih berlangsung.
Data hingga 22 September 2026 menunjukkan, dari 4.922 sekolah tersebut, sebanyak 4.821 sekolah sudah kembali melakukan pembelajaran di lokasi masing-masing. Sementara itu, 99 sekolah masih menggunakan Ruang Kelas Darurat (RKD) dan dua sekolah lainnya untuk sementara menumpang di sekolah lain.
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian selaku Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera mengatakan keberlanjutan kegiatan belajar mengajar menjadi salah satu capaian penting dalam proses pemulihan sektor pendidikan.
Kemendikdasmen Siapkan Dukungan Rp5,6 Triliun
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa total dukungan Kemendikdasmen untuk pemulihan layanan pendidikan di tiga provinsi terdampak mencapai Rp5,6 triliun. Dari jumlah tersebut, porsi terbesar sebesar Rp3,03 triliun dialokasikan untuk revitalisasi satuan pendidikan.
Sebanyak 3.132 sekolah telah menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) untuk program revitalisasi dengan total nilai bantuan Rp3,03 triliun. Hingga perkembangan terbaru yang dilaporkan, sekitar Rp2,63 triliun telah disalurkan ke rekening sekolah.
Penyaluran tahap pertama sebesar 70 persen telah diberikan kepada seluruh sekolah penerima. Sementara pencairan tahap kedua sebesar 30 persen dilakukan setelah progres pembangunan fisik mencapai minimal 50 persen. Saat ini terdapat 1.267 sekolah dengan nilai bantuan sekitar Rp400,5 miliar yang masih dalam proses pencairan tahap kedua.
562 Sekolah Selesaikan Pembangunan
Dari sisi pembangunan fisik, sebanyak 562 sekolah telah menyelesaikan pekerjaan hingga 100 persen. Kemudian, 1.954 sekolah mencatat progres pembangunan di atas 50 persen, sedangkan 616 sekolah lainnya masih menuju capaian 50 persen.
Meski pembelajaran telah kembali berlangsung, proses rehabilitasi dan rekonstruksi masih menghadapi sejumlah tantangan. Kondisi geografis, kerusakan akses, ketersediaan material hingga kemungkinan terjadinya bencana susulan dapat memengaruhi kecepatan pembangunan di masing-masing wilayah.
Pemerintah juga memberikan perhatian khusus terhadap sekolah yang progres pembangunan fisiknya masih rendah agar proses pemulihan dapat dipercepat.
97 Sekolah Diusulkan Direlokasi
Selain revitalisasi, pemerintah menyiapkan relokasi bagi sekolah yang berada di lokasi yang dinilai perlu dipindahkan ke tempat lebih aman. Kemendikdasmen mencatat terdapat 97 sekolah yang diusulkan untuk direlokasi.
Dari jumlah tersebut, 34 sekolah telah memasuki tahap pembangunan, sedangkan 63 sekolah lainnya masih menunggu kepastian dan legalitas lahan. Pemerintah daerah diminta membantu mempercepat penyediaan lahan yang aman untuk sekolah yang membutuhkan relokasi.
Pemulihan akses jalan dan jembatan menuju sekolah juga menjadi perhatian karena dapat memengaruhi pembangunan maupun aktivitas pendidikan. Pemerintah pusat dan daerah akan terus berkoordinasi dalam menangani infrastruktur pendukung tersebut.
Kembalinya pembelajaran di 4.922 sekolah menunjukkan layanan pendidikan di wilayah terdampak telah kembali berjalan. Namun, rehabilitasi bangunan, penyelesaian Ruang Kelas Darurat serta relokasi sekolah masih menjadi bagian dari proses pemulihan pendidikan pascabencana di Sumatera.








