Jakarta – Pemerintah menyiapkan lima program untuk memulihkan layanan pendidikan setelah bencana yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Program tersebut tidak hanya menyasar perbaikan sekolah, tetapi juga kebutuhan siswa, guru, dan tenaga kependidikan yang terdampak.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyampaikan program pemulihan tersebut bersama Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian selaku Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera dalam rapat koordinasi di Jakarta pada 23 September 2026.
1. Pembangunan Kembali Sekolah
Program pertama adalah pembangunan kembali satuan pendidikan yang mengalami kerusakan akibat bencana. Perbaikan mencakup sekolah dengan tingkat kerusakan ringan, berat, hingga bangunan yang mengalami kerusakan total.
Upaya tersebut dilakukan agar siswa dapat kembali memperoleh fasilitas belajar yang layak. Pemerintah juga terus memantau sekolah yang masih menjalankan pembelajaran di lokasi sementara atau menggunakan fasilitas sekolah lain.
2. Pemenuhan Sarana dan Prasarana
Program kedua berupa pemenuhan sarana dan prasarana pembelajaran. Bantuan diarahkan untuk mengganti atau melengkapi fasilitas yang rusak akibat bencana.
Sarana yang menjadi bagian dari pemulihan antara lain meja, kursi, laboratorium, serta buku pelajaran. Ketersediaan fasilitas tersebut diperlukan agar proses pembelajaran dapat berlangsung kembali secara normal setelah sekolah terdampak bencana.
3. Bantuan untuk Guru dan Tenaga Kependidikan
Program ketiga menyasar guru dan tenaga kependidikan yang terdampak bencana. Kemendikdasmen menyiapkan bantuan berupa pelatihan dan insentif bagi tenaga pendidikan yang terdampak.
Guru juga akan mendapatkan pelatihan mengenai kesiapsiagaan dan mitigasi bencana. Selain itu, terdapat pelatihan psikososial agar guru memiliki kemampuan memberikan bimbingan dan konseling kepada siswa yang mengalami dampak akibat bencana.
4. Dukungan Belajar dan Pendampingan Psikososial
Program keempat berupa dukungan bagi satuan pendidikan untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan pemulihan pembelajaran. Kegiatan tersebut tidak hanya berfokus pada kurikulum, tetapi juga mencakup konseling dan kegiatan pendukung lainnya.
Pemerintah juga akan melibatkan organisasi mitra untuk memberikan pendampingan psikososial kepada siswa, orang tua, serta guru yang terdampak bencana. Pendampingan ini menjadi bagian dari upaya memulihkan kondisi sosial dan emosional warga sekolah.
5. Memastikan Pembelajaran Tetap Berjalan
Program kelima berfokus pada keberlanjutan kegiatan belajar mengajar. Perhatian khusus diberikan kepada siswa kelas 12 agar mereka tetap dapat mengikuti tahapan pendidikan dan persiapan tes kemampuan akademik yang dijadwalkan pada Oktober 2026.
Pemerintah telah melakukan pendataan terhadap siswa SMA dan sederajat untuk memastikan mereka dapat mengikuti tes tersebut. Sebagian besar sekolah terdampak juga telah kembali melaksanakan pembelajaran di sekolah masing-masing, meskipun masih terdapat sekolah yang sementara menggunakan lokasi lain.
Pemulihan Pendidikan Dilakukan Bertahap
Pemulihan pendidikan menjadi salah satu bagian dari agenda rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di tiga provinsi tersebut. Pemerintah sebelumnya mencatat ribuan sekolah terdampak telah kembali menyelenggarakan pembelajaran, sementara proses rehabilitasi bangunan dan pemenuhan fasilitas masih berlangsung.
Selain pendidikan, pemerintah juga menjalankan pemulihan di sektor infrastruktur, kesehatan, pertanian, perikanan, dan ekonomi masyarakat. Secara keseluruhan, pemerintah menyiapkan anggaran Rp100,1 triliun untuk tahap rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana Sumatera.
Lima program pendidikan tersebut diharapkan dapat menjaga keberlangsungan pembelajaran sekaligus membantu sekolah, guru, dan siswa beradaptasi kembali setelah bencana. Pelaksanaannya dilakukan secara bertahap sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing wilayah terdampak.



