Jakarta – Hasil asesmen Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 yang dirilis Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 8 September 2026 menunjukkan adanya kesenjangan capaian membaca antara siswa perempuan dan laki-laki.
Dalam rata-rata negara-negara OECD, siswa perempuan memperoleh skor membaca 476 poin, sedangkan siswa laki-laki mencatat 446 poin. Dengan demikian, terdapat selisih 30 poin yang menunjukkan capaian membaca perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki.
PISA Mengukur Kemampuan Siswa Usia 15 Tahun
PISA merupakan asesmen internasional yang mengukur kemampuan siswa berusia sekitar 15 tahun dalam menggunakan pengetahuan dan keterampilan untuk menghadapi persoalan kehidupan nyata. Asesmen mencakup tiga bidang utama, yakni membaca, matematika, dan sains.
PISA 2025 menjadi salah satu asesmen terbesar yang pernah dilakukan OECD dengan melibatkan sekitar 760.000 siswa dari 91 negara dan ekonomi. Fokus utama PISA 2025 adalah kemampuan sains, dengan membaca dan matematika tetap menjadi bagian dari penilaian.
Perempuan Unggul dalam Membaca di Sebagian Besar Sistem Pendidikan
Data PISA 2025 menunjukkan bahwa kesenjangan membaca secara umum berpihak pada siswa perempuan. Rata-rata OECD mencatat selisih 30 poin antara perempuan dan laki-laki.
Salah satu pengecualian adalah Rwanda. Negara tersebut menjadi sistem pendidikan yang tercatat memiliki skor membaca siswa laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan. Siswa laki-laki Rwanda memperoleh rata-rata 304 poin, sedangkan siswa perempuan 298 poin, sehingga terdapat selisih 6 poin.
Sementara itu, Finlandia mencatat salah satu kesenjangan terbesar. Perbedaan skor membaca antara siswa perempuan dan laki-laki mencapai 46 poin dan berada di antara kesenjangan gender terbesar yang menguntungkan siswa perempuan.
Kesenjangan Membaca Melebar Dibandingkan 2022
Kesenjangan kemampuan membaca berdasarkan gender juga mengalami perubahan dibandingkan PISA 2022. OECD mencatat bahwa secara rata-rata, penurunan performa membaca siswa laki-laki lebih besar.
Dalam analisis PISA 2025, performa membaca siswa laki-laki mengalami penurunan rata-rata 17 poin. Penurunan performa membaca laki-laki tercatat di 48 negara dan ekonomi, tidak mengalami perubahan signifikan di 19 sistem, serta meningkat di delapan sistem.
Pada PISA 2022, rata-rata siswa perempuan di negara-negara OECD unggul 24 poin dalam membaca dibandingkan siswa laki-laki. Pada PISA 2025, selisih tersebut menjadi 30 poin.
Banyak Siswa Laki-Laki Belum Mencapai Level 2
Perbedaan capaian juga terlihat pada proporsi siswa yang belum mencapai tingkat kemampuan membaca dasar yang ditetapkan PISA.
Menurut OECD, sekitar 37 persen siswa laki-laki di negara-negara OECD belum mencapai Level 2 dalam kemampuan membaca, sedangkan proporsinya pada siswa perempuan sekitar 25 persen. Level 2 merupakan salah satu batas kecakapan yang digunakan PISA untuk menggambarkan kemampuan dasar siswa dalam menggunakan keterampilan membaca.
Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan kemampuan membaca tidak hanya berkaitan dengan rata-rata skor, tetapi juga dengan jumlah siswa yang masih berada di bawah tingkat kecakapan dasar.
Faktor Minat dan Keterlibatan dalam Membaca
Perbedaan performa membaca juga perlu dilihat bersama faktor keterlibatan siswa terhadap aktivitas membaca. OECD dalam hasil PISA 2025 mencatat adanya perbedaan pada berbagai aspek karakteristik belajar siswa berdasarkan gender.
Dalam laporan tersebut, siswa perempuan secara umum melaporkan tingkat keingintahuan, ketekunan, kemauan meminta bantuan, penetapan tujuan, dan growth mindset yang lebih tinggi. Sementara itu, siswa laki-laki cenderung melaporkan kemampuan adaptasi kognitif yang lebih tinggi.
Temuan tersebut tidak berarti bahwa setiap siswa laki-laki atau perempuan memiliki karakteristik yang sama. Data PISA menggambarkan pola pada populasi siswa yang mengikuti asesmen.
Tantangan Literasi di Era Digital
Hasil PISA 2025 juga menunjukkan bahwa kemampuan dasar membaca tetap penting ketika siswa semakin banyak berinteraksi dengan teknologi digital dan kecerdasan artifisial (AI).
OECD menekankan bahwa teknologi dan AI dapat mendukung pembelajaran apabila digunakan secara tepat, tetapi teknologi tidak dapat menggantikan perhatian, usaha, dan pemahaman siswa. PISA 2025 juga menemukan bahwa siswa yang menggunakan AI untuk membantu belajar dan mendapatkan pembelajaran mengenai cara menilai kualitas informasi yang dihasilkan AI cenderung memiliki performa lebih baik dibandingkan mereka yang menggunakan AI tanpa panduan tersebut.
Penguatan Literasi Perlu Menjangkau Semua Siswa
Temuan mengenai kesenjangan membaca antara siswa perempuan dan laki-laki menjadi salah satu informasi penting dalam melihat kondisi literasi peserta didik. Data tersebut dapat menjadi bahan bagi sistem pendidikan untuk memahami kelompok siswa yang membutuhkan dukungan lebih dalam pengembangan kemampuan membaca.
Di tingkat OECD, rata-rata kemampuan membaca pada 2025 juga berada pada titik terendah yang pernah tercatat. Dibandingkan 2015, skor membaca rata-rata OECD turun 28 poin, atau setara dengan sekitar satu setengah tahun pembelajaran.
Karena itu, penguatan literasi perlu mencakup kemampuan memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi, sekaligus mendorong keterlibatan siswa dalam aktivitas membaca.
PISA 2025 Jadi Bahan Evaluasi Pendidikan
Hasil PISA bukan sekadar menunjukkan perbedaan skor antarkelompok siswa atau antarnegara. Data tersebut dapat digunakan sebagai bahan untuk memahami perkembangan kemampuan peserta didik serta faktor-faktor yang berkaitan dengan proses pembelajaran.
Temuan tentang kesenjangan membaca berdasarkan gender menunjukkan bahwa perhatian terhadap literasi perlu diberikan secara menyeluruh. Dukungan pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa, tanpa menggeneralisasi kemampuan berdasarkan gender.
Dengan demikian, hasil PISA 2025 memberikan gambaran bahwa peningkatan kemampuan membaca masih menjadi tantangan penting, termasuk dalam memastikan siswa laki-laki maupun perempuan memiliki kesempatan untuk mencapai tingkat kecakapan literasi yang memadai.



