Bandung, 22 Agustus 2026 — Perjalanan kuliah Muhammad Fauzan Adhiima, mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2022, tidak langsung berjalan mulus. Pada semester pertama, ia hanya memperoleh Indeks Prestasi (IP) 2,39 dan sempat merasa minder karena menganggap kemampuan dasar sainsnya tertinggal.
Fauzan merupakan mahasiswa Program Studi Sarjana Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB. Kampus tersebut menjadi pilihan keduanya ketika menentukan perguruan tinggi untuk melanjutkan pendidikan.
Masa Tahap Persiapan Bersama (TPB) menjadi salah satu periode paling sulit baginya. TPB merupakan tahap awal perkuliahan yang dirancang untuk menyamakan dasar ilmu mahasiswa sebelum memasuki program studi masing-masing.
Pada masa tersebut, Fauzan bahkan hampir mengulang mata kuliah karena capaian akademiknya belum memuaskan.
Menemukan Kecintaan pada Fisika di Semester 4
Titik balik perjalanan Fauzan terjadi ketika memasuki semester 4. Ia mengikuti mata kuliah Sistem Instrumentasi & Eksperimen Fisika.
Untuk pertama kalinya, ia merasa menemukan pengalaman belajar yang benar-benar sesuai dengan apa yang selama ini dicari.
“Untuk pertama kalinya, saya merasa hidup di dalam kelas,” ungkap Fauzan, dikutip dari akun Instagram @fmipaitb_official, Sabtu (22/8/2026).
Menurutnya, fisika yang sebelumnya identik dengan rumus di papan tulis ternyata dapat diwujudkan dalam sesuatu yang bisa disentuh, diukur, dan dibangun.
Ia kemudian menemukan kesenangan bukan semata-mata dalam menyelesaikan rumus, tetapi dalam proses eksperimen.
“Kesenangannya bukan pada rumus yang elegan, tetapi pada proses mencoba, gagal, mencoba lagi—sampai solusi ditemukan. Dari situ tumbuh rasa penasaran yang tidak pernah berhenti,” tuturnya.
Pengalaman tersebut membuat Fauzan semakin termotivasi untuk mengembangkan kemampuan akademiknya.
IP Semester 5 Naik Menjadi 3,46
Perubahan semangat belajar tersebut turut terlihat dari capaian akademiknya. Setelah melalui masa sulit pada awal kuliah, IP semester 5 Fauzan meningkat menjadi 3,46.
Kenaikan tersebut menjadi bukti bahwa nilai akademik pada awal perkuliahan tidak selalu menentukan bagaimana perjalanan pendidikan seseorang ke depannya.
Fauzan justru menemukan bidang yang membuatnya tertarik untuk terus belajar dan melakukan penelitian.
Setahun Meneliti hingga Tembus Jurnal Q1
Perjalanan akademik Fauzan kemudian berlanjut ke dunia riset.
Pada Mei 2025, ia mulai melakukan penelitian yang berkaitan dengan unsur kimia besi (Fe) dan seng (Zn). Penelitian tersebut dilakukan bersama dosen pembimbingnya, Prof. Dr. Eng. Muhammad Miftahul Munir, S.Si., M.Si.
Riset tersebut membutuhkan waktu sekitar satu tahun hingga akhirnya menghasilkan karya ilmiah yang berhasil dipublikasikan.
Pada 4 Agustus 2026, penelitian Fauzan berhasil menembus jurnal Q1 Elsevier, salah satu capaian yang menunjukkan perkembangan signifikan dalam perjalanan akademiknya.
Publikasi tersebut berjudul:
“Configuration-dependent in-situ electrical resistivity in Fe–Zn binary powder compacts: Sandwich asymmetry and the role of punch-contact topology.”
Pencapaian itu menjadi titik penting dalam perjalanan Fauzan yang sebelumnya sempat merasa tertinggal dan minder karena memperoleh IP 2,39 pada semester pertama.
IP Rendah Bukan Akhir Perjalanan
Fauzan kini memandang pengalaman sulit di awal kuliah sebagai bagian dari proses menemukan kemampuan dan minatnya.
Ia ingin pengalaman tersebut menjadi pengingat bagi mahasiswa lain bahwa nilai akademik yang kurang memuaskan pada awal kuliah bukan berarti perjalanan pendidikan telah berakhir.
“IP rendah di awal bukan akhir cerita. Itu hanya titik mulai. Anggap semuanya sebagai perjalanan dari ceritamu sendiri,” kata Fauzan.
Kisah Fauzan menunjukkan bahwa perjalanan mahasiswa tidak selalu berjalan lurus. Kegagalan, nilai rendah, rasa minder, hingga kesulitan mengikuti perkuliahan dapat menjadi bagian dari proses menemukan bidang yang benar-benar diminati.
Yang terpenting, mahasiswa memiliki kesempatan untuk bangkit, terus mencoba, dan menemukan alasan untuk kembali bersemangat belajar.









