Bandung – Bandung selama ini dikenal sebagai salah satu kota pendidikan dan memiliki banyak komunitas yang bergerak di bidang literasi. Namun, di balik berbagai kegiatan tersebut, kondisi literasi masyarakat masih menghadapi tantangan.
Pemerintah Kota Bandung bahkan meluncurkan aplikasi perpustakaan digital MACA (Membaca Cerdas) pada Festival Literasi Kota Bandung 2026. Aplikasi tersebut menyediakan sekitar 1.800 buku digital yang dapat diakses masyarakat melalui telepon seluler.
Di sisi lain, terdapat persoalan mengenai tingkat literasi yang menjadi perhatian. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas berbagai program literasi dan akses masyarakat terhadap bahan bacaan.
Akses buku belum otomatis meningkatkan budaya baca
Kehadiran fasilitas dan layanan digital memang dapat memperluas akses masyarakat terhadap buku. Namun, akses tersebut tidak selalu berarti masyarakat secara otomatis memiliki kebiasaan membaca.
Sebuah laporan mengenai kondisi literasi Bandung menemukan masih ada warga yang bahkan belum mengetahui keberadaan perpustakaan maupun taman bacaan di sekitar tempat tinggalnya. Faktor jarak, keterbatasan perangkat digital, hingga kurangnya informasi mengenai fasilitas literasi menjadi sejumlah hambatan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pembangunan ekosistem literasi tidak cukup hanya dengan menyediakan buku atau aplikasi. Masyarakat juga perlu mengetahui, menjangkau, dan menggunakan fasilitas tersebut secara berkelanjutan.
Target indeks literasi Bandung
Dalam Rencana Strategis Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Bandung 2024–2026, pemerintah daerah menetapkan target Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat sebesar 81,38 pada 2024, 81,50 pada 2025, dan 81,70 pada 2026.
Dokumen yang sama juga menetapkan target Tingkat Kegemaran Membaca masyarakat sebesar 46,67 pada 2024, meningkat menjadi 47 pada 2025 dan 47,20 pada 2026.
Target tersebut menjadi salah satu indikator untuk melihat perkembangan budaya baca masyarakat di Kota Bandung.
Literasi tidak hanya soal membaca buku
Persoalan literasi juga tidak dapat dilihat hanya dari seberapa banyak buku yang dibaca masyarakat.
Kepala Perpustakaan Nasional E. Aminudin Aziz menjelaskan bahwa literasi mencakup kemampuan memahami informasi tekstual dan nontekstual, membedakan informasi, berpikir kritis, menganalisis, mengevaluasi, hingga menghasilkan gagasan baru.
Dengan demikian, masyarakat yang literat bukan sekadar masyarakat yang mampu membaca, tetapi juga mampu menggunakan informasi secara kritis dan bertanggung jawab.
Tantangan di era digital
Perubahan pola konsumsi informasi menjadi tantangan tersendiri bagi gerakan literasi di Bandung. Masyarakat kini tidak hanya memperoleh informasi dari buku, tetapi juga melalui media sosial, mesin pencari, video, aplikasi, dan berbagai platform digital.
Karena itu, penguatan literasi perlu berjalan beriringan dengan kemampuan memilah informasi. Pemanfaatan teknologi seperti aplikasi MACA dapat menjadi salah satu sarana untuk memperluas akses bacaan, tetapi tetap membutuhkan strategi agar masyarakat terdorong untuk membaca dan memahami informasi yang diperoleh.
Komunitas literasi tetap bergerak
Di tengah berbagai tantangan tersebut, kegiatan literasi di Bandung tetap berlangsung melalui komunitas, sekolah, perpustakaan, dan berbagai kegiatan publik.
Festival Literasi Kota Bandung 2026, misalnya, melibatkan pemerintah, akademisi, komunitas literasi, pelajar, serta sektor swasta. Kegiatan tersebut mengusung tema “Membaca Bandung, Menulis Masa Depan.”
Keterlibatan berbagai pihak menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem literasi yang tidak hanya berpusat pada pemerintah.
Literasi perlu menjangkau masyarakat
Tantangan berikutnya adalah memastikan program literasi menjangkau kelompok masyarakat yang belum tersentuh fasilitas perpustakaan maupun teknologi digital.
Pengalaman warga yang tidak mengetahui keberadaan perpustakaan atau taman bacaan menunjukkan bahwa persoalan literasi juga berkaitan dengan distribusi informasi dan akses.
Karena itu, penguatan literasi membutuhkan pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat, termasuk melalui sekolah, keluarga, komunitas, ruang publik, taman bacaan, serta layanan perpustakaan yang mudah dijangkau.
Menjembatani akses dan kebiasaan membaca
Bandung memiliki modal berupa komunitas literasi, lembaga pendidikan, perpustakaan, serta berbagai inovasi digital. Tantangannya adalah menghubungkan seluruh sumber daya tersebut dengan kebutuhan masyarakat.
Program digital seperti MACA dapat menjadi salah satu sarana memperluas akses buku. Namun, peningkatan budaya baca tetap membutuhkan kebiasaan, lingkungan yang mendukung, serta kemampuan masyarakat dalam memahami dan mengolah informasi.
Dengan demikian, ironi literasi Bandung bukan semata-mata mengenai ada atau tidaknya buku dan fasilitas membaca. Persoalan yang lebih luas adalah bagaimana akses terhadap sumber pengetahuan dapat berubah menjadi kebiasaan membaca, kemampuan berpikir kritis, dan pemanfaatan informasi dalam kehidupan sehari-hari.



