Kabut asap kiriman dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sumatra berdampak terhadap aktivitas pendidikan di Kepulauan Riau (Kepri). Pemerintah Provinsi Kepri mengalihkan pembelajaran tatap muka menjadi belajar dari rumah untuk menjaga kesehatan siswa dan tenaga pendidik.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepri Andi Agung mengatakan kebijakan tersebut telah disampaikan kepada seluruh satuan pendidikan. Belum ada batas waktu pasti mengenai penerapan belajar dari rumah karena pelaksanaannya akan menyesuaikan perkembangan kualitas udara. Jika kondisi udara membaik, pembelajaran tatap muka dapat kembali dilakukan.
Siswa Diminta Kurangi Aktivitas di Luar Rumah
Melalui kebijakan tersebut, sekolah diminta menyiapkan bahan ajar dan penugasan yang disesuaikan dengan kondisi siswa. Guru dan kepala sekolah juga diminta memantau aktivitas belajar sekaligus kondisi kesehatan peserta didik selama pembelajaran berlangsung dari rumah.
Orang tua turut diminta membatasi aktivitas anak di luar rumah. Apabila anak harus beraktivitas di luar ruangan, penggunaan masker menjadi salah satu langkah yang dianjurkan untuk mengurangi paparan asap.
Distribusi MBG Ikut Terdampak
Perubahan sistem pembelajaran juga berpengaruh terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Koordinator MBG Batam Defri Frenaldi menyampaikan bahwa distribusi makanan menyesuaikan kondisi sekolah.
Ketika kegiatan belajar di sekolah dihentikan dan siswa belajar dari rumah, distribusi MBG ke sekolah juga dihentikan sementara. Penyaluran makanan tidak dilakukan di luar kegiatan sekolah sebagaimana mekanisme normal program tersebut.
Asap Berasal dari Sumatra
Berdasarkan penjelasan BMKG Hang Nadim Batam, kabut asap yang memengaruhi Batam dan wilayah sekitarnya berasal dari sebaran asap kebakaran di Sumatra, termasuk dari arah Jambi. Pergerakan asap dipengaruhi pola angin regional yang membawa massa udara menuju wilayah Kepri.
Pada 15 September 2026 pukul 06.00 WIB, konsentrasi PM2.5 di Batam tercatat 38,7 µg/m³ dan berada dalam kategori sedang. BMKG mengingatkan masyarakat untuk terus memantau perubahan kualitas udara karena konsentrasi partikulat dapat berubah mengikuti arah dan kecepatan angin.
Kelompok rentan, termasuk anak-anak dan lansia, juga diimbau mengurangi aktivitas di ruang terbuka ketika kualitas udara memburuk. Sementara itu, kebijakan belajar dari rumah di Kepri akan dievaluasi berdasarkan perkembangan kondisi udara di masing-masing wilayah.








