Dedikasi seorang guru sering kali terlihat dari pengorbanan yang dilakukan demi memastikan peserta didiknya tetap mendapatkan pendidikan terbaik. Hal itulah yang tercermin dari kisah Sutimah, guru SDN 7 Getassrabi, Kabupaten Kudus, yang selama 15 tahun rela menempuh perjalanan pulang-pergi dari Boyolali setiap hari untuk mengajar.
Setelah menunaikan salat subuh, Sutimah berangkat menggunakan sepeda motor menuju sekolah. Perjalanan yang cukup jauh baru berakhir saat ia kembali ke rumah menjelang sore hari. Rutinitas tersebut dijalani dengan penuh komitmen demi menjalankan tugas sebagai pendidik.
Perjalanan panjang yang ditempuh tidak selalu berjalan mulus. Sutimah pernah mengalami kecelakaan hingga harus mendapatkan jahitan di kepala. Ia juga nyaris menjadi korban begal ketika melintasi kawasan hutan. Meski demikian, berbagai rintangan tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk terus mengabdikan diri kepada dunia pendidikan.
Sebelum diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), Sutimah lebih dahulu mengabdi sebagai guru honorer tanpa menerima gaji. Setelah memperoleh honor, jumlah yang diterimanya pun masih sangat terbatas. Di tengah keterbatasan ekonomi sebagai anak dari keluarga petani sederhana, ia tetap berjuang melanjutkan pendidikan di Universitas Terbuka demi meningkatkan kompetensinya sebagai guru.
Kini, dengan dukungan penuh dari suami dan anak, Sutimah berharap dapat memperoleh mutasi ke Boyolali agar bisa mengajar lebih dekat dengan kampung halamannya. Kisahnya menjadi inspirasi bahwa pengabdian seorang guru tidak hanya diukur dari profesinya, tetapi juga dari ketulusan, ketekunan, dan semangat untuk terus mencerdaskan generasi bangsa.









