JAKARTA – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) diperkirakan akan mengubah lanskap dunia kerja dalam beberapa tahun ke depan. Sebuah laporan nasional di Australia mengungkapkan bahwa AI berpotensi menggantikan sejumlah pekerjaan yang banyak diisi oleh lulusan perguruan tinggi, dengan perempuan lulusan kampus disebut sebagai kelompok yang paling rentan terdampak.
Temuan tersebut tertuang dalam laporan AI and Employment in Australia yang diterbitkan Jobs and Skills Australia (JSA). Laporan itu menunjukkan bahwa sejumlah profesi dengan tingkat paparan AI yang tinggi berpotensi mengalami otomatisasi lebih cepat dibanding pekerjaan lain.
Menteri Ketenagakerjaan Australia, Amanda Rishworth, mengatakan pemerintah menyadari AI akan membawa perubahan besar terhadap pasar tenaga kerja sehingga diperlukan langkah antisipasi melalui peningkatan keterampilan tenaga kerja.
“Pemerintah bertekad memastikan AI dimanfaatkan untuk menciptakan lapangan kerja yang baik, bukan mengancamnya. Kami akan terus mendukung masyarakat Australia melalui perubahan ini dengan keterampilan, pelatihan, dan jalur yang dibutuhkan agar mampu beradaptasi dan memperoleh manfaat,” ujarnya, dikutip dari The Guardian.
Profesi yang Paling Rentan Digantikan AI
Berdasarkan laporan tersebut, pekerjaan yang paling berisiko terdampak AI umumnya merupakan profesi yang banyak diisi lulusan perguruan tinggi dengan tugas administratif maupun pekerjaan yang mudah diotomatisasi.
Daftar profesi yang dinilai paling rentan meliputi:
- Pegawai administrasi
- Manajer ritel
- Programmer perangkat lunak
- Akuntan
- Resepsionis
- Profesional periklanan dan pemasaran
Menurut JSA, AI memiliki kemampuan untuk mengambil alih berbagai pekerjaan rutin, mulai dari pengolahan data, penyusunan laporan, analisis informasi, hingga pelayanan pelanggan berbasis digital.
Profesi yang Dinilai Lebih Aman
Sebaliknya, sejumlah pekerjaan yang membutuhkan keterampilan fisik, interaksi langsung dengan manusia, maupun pengambilan keputusan di lapangan dinilai masih relatif aman dari otomatisasi AI.
Profesi tersebut antara lain:
- Perawat
- Tukang atau pekerja konstruksi
- Pengemudi truk
- Petugas kebersihan
- Tukang kebun
Pekerjaan-pekerjaan tersebut dinilai masih memerlukan kemampuan manual, empati, serta adaptasi terhadap situasi nyata yang hingga kini sulit sepenuhnya digantikan oleh teknologi AI.
Pertumbuhan Lapangan Kerja Berbeda
Laporan JSA juga mencatat adanya perbedaan pertumbuhan lapangan kerja berdasarkan tingkat paparan AI.
Sepanjang periode akhir 2022 hingga awal 2026, lapangan kerja pada profesi yang paling sedikit terdampak AI tumbuh sekitar 9,5 persen. Sementara itu, pekerjaan yang memiliki tingkat paparan AI tinggi hanya mengalami pertumbuhan sekitar 5,6 persen.
Peneliti menyimpulkan terdapat hubungan negatif, meskipun relatif kecil, antara tingkat paparan AI dengan pertumbuhan kesempatan kerja.
“Kami menemukan hubungan negatif kecil antara paparan AI dan pertumbuhan lapangan kerja,” tulis laporan tersebut.
AI Dinilai Perlu Disikapi dengan Peningkatan Kompetensi
Meski demikian, laporan tersebut tidak menyebut AI sebagai penyebab utama berkurangnya lapangan kerja. Sebaliknya, AI dipandang sebagai teknologi yang akan mengubah cara bekerja sehingga pekerja dituntut memiliki keterampilan baru agar tetap relevan di pasar kerja.
Karena itu, peningkatan kompetensi digital, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, serta keterampilan yang sulit diotomatisasi menjadi bekal penting bagi lulusan perguruan tinggi dalam menghadapi perubahan dunia kerja di era kecerdasan buatan.









