Jakarta – Makna literasi terus berkembang seiring derasnya arus informasi dan semakin mudahnya pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Di era digital, kemampuan literasi tidak lagi cukup hanya dengan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan memahami, mengevaluasi, memverifikasi, dan menerapkan informasi dalam kehidupan sehari-hari.
Hal tersebut menjadi salah satu perhatian Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Dalam pemberitaan resmi yang diterbitkan pada 28 September 2026, Kemendikdasmen menekankan pentingnya menjadikan pengetahuan sebagai bagian dari kehidupan, bukan berhenti setelah seseorang selesai membaca sebuah buku atau informasi.
Literasi Harus Sampai pada Pemahaman dan Tindakan
Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen, Ganjar Harimansyah, menjelaskan bahwa membaca merupakan proses untuk menyusun berbagai informasi menjadi makna yang dapat dipahami.
Menurutnya, kemampuan membaca kemudian berkembang menjadi kemampuan menghubungkan pengetahuan dengan pengalaman. Pengetahuan tersebut pada akhirnya diharapkan dapat mendorong seseorang mengambil tindakan dalam kehidupan nyata.
Dengan demikian, literasi tidak berhenti pada aktivitas membaca. Informasi yang diperoleh perlu dipahami, dibicarakan, kemudian diterapkan sehingga memberikan manfaat dalam kehidupan sehari-hari.
Masyarakat Perlu Mampu Mengevaluasi Informasi
Di tengah arus informasi yang semakin cepat, kemampuan memahami isi bacaan menjadi semakin penting. Kepala Pusat Asesmen Pendidikan, Rahmawati, menyampaikan bahwa pembaca perlu memiliki kemampuan untuk melampaui informasi yang tertulis secara langsung.
Pembaca perlu mampu menginterpretasikan, mengintegrasikan, mengevaluasi, dan merefleksikan informasi sebelum menggunakannya. Kemampuan tersebut membantu seseorang memahami informasi secara lebih utuh, baik makna yang tersurat maupun tersirat.
Artinya, literasi juga berkaitan dengan kemampuan berpikir kritis. Seseorang tidak cukup hanya mengetahui isi sebuah informasi, tetapi perlu memahami konteks dan mempertimbangkan bagaimana informasi tersebut dapat digunakan dalam kehidupan.
Era AI Membutuhkan Kemampuan Verifikasi
Perkembangan AI membuat informasi dapat dibuat dan disebarkan dengan sangat cepat. Kondisi tersebut memberikan kemudahan, tetapi sekaligus membuat kemampuan memeriksa kebenaran informasi menjadi semakin penting.
Wakil Delegasi Tetap Indonesia untuk UNESCO, Gusti Agung Ketut Satrya Wibawa, menilai masyarakat perlu membiasakan diri mempertanyakan asal-usul informasi. Beberapa pertanyaan penting antara lain siapa yang membuat informasi, dari mana sumbernya, apa bukti yang mendukungnya, dan apakah informasi tersebut dapat diverifikasi.
Kemampuan tersebut menjadi bagian penting dari literasi digital. Masyarakat perlu memahami bahwa informasi yang muncul di internet atau dihasilkan dengan bantuan teknologi AI tidak otomatis dapat dianggap benar.
Literasi Membantu Pengambilan Keputusan
Kemampuan literasi juga berkaitan dengan cara seseorang memahami lingkungan dan mengambil keputusan. Ketika masyarakat mampu membaca informasi secara kritis, pengetahuan yang diperoleh dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan tindakan.
Kemendikdasmen menekankan bahwa literasi pada akhirnya perlu hadir dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan yang diperoleh melalui buku, media digital, maupun berbagai sumber informasi perlu diolah sehingga dapat membantu seseorang memahami dunia di sekitarnya.
Membaca di Era AI Tetap Membutuhkan Peran Manusia
Kemajuan AI memungkinkan informasi dihasilkan dalam hitungan detik. Namun, proses memahami makna, menentukan konteks, serta menilai apakah sebuah informasi dapat dipercaya tetap membutuhkan kemampuan manusia.
Karena itu, budaya literasi di era AI tidak hanya diarahkan agar masyarakat semakin banyak membaca. Literasi juga perlu membentuk kebiasaan untuk terus belajar, mempertanyakan informasi, memeriksa sumber, dan menghubungkan pengetahuan dengan pengalaman.
Dengan kemampuan tersebut, literasi dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Masyarakat tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu memahami, menyaring, dan menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab.








