Padang, 22 Agustus 2026 — Video sejumlah mahasiswa baru (maba) Universitas Negeri Padang (UNP) yang berjalan jongkok saat hendak memasuki lingkungan kampus viral di media sosial. Dalam video tersebut, para maba terlihat mengenakan seragam hitam putih dan berjalan jongkok sambil diawasi mahasiswa senior.
Para mahasiswa baru juga tampak mengenakan sejumlah atribut, seperti topi dan kertas karton yang dikalungkan menyerupai tanda pengenal.
Berdasarkan keterangan pihak kampus, mahasiswa baru yang terlihat dalam video tersebut berasal dari Fakultas Teknik UNP.
UNP Sebut Bukan Perpeloncoan
Sekretaris UNP Erianjoni membantah bahwa kegiatan berjalan jongkok tersebut merupakan bentuk perpeloncoan.
Menurutnya, aksi tersebut hanya dilakukan sebagai pemanasan atau peregangan sebelum mahasiswa baru memasuki kampus.
“Bukan perpeloncoan, hanya semacam pemanasan, peregangan otot. Biar maba lebih fresh,” kata Erianjoni saat dihubungi kumparan, Rabu (19/8).
Erianjoni menjelaskan, UNP tidak memiliki aturan yang mewajibkan mahasiswa baru berjalan jongkok. Aksi tersebut disebut sebagai kegiatan spontan yang dilakukan oleh sejumlah mahasiswa senior di beberapa program studi.
“Tidak ada kita model gitu, tapi beberapa di prodi. Tujuannya untuk mendidik adik-adik agar disiplin,” ujarnya.
Menurutnya, pihak kampus tetap melakukan pemantauan terhadap kegiatan mahasiswa baru. Selama tidak terdapat unsur kekerasan, tindakan tersebut dinilai masih dalam batas yang dapat ditoleransi.
“Selagi tidak ada kekerasan, masih kita pantau saja. Cuma berjalan jongkok, itu ada hubungan keakraban dan disiplin,” kata Erianjoni.
Ia menambahkan hingga saat ini pihak kampus belum menerima laporan mengenai adanya mahasiswa baru yang mengalami kekerasan dalam kegiatan tersebut.
“Selagi tujuan positif, tidak masalah. Sampai sekarang tidak ada laporan, tidak ada unsur kekerasan. Kalau enjoy, tidak masalah,” sambungnya.
DPRD Sumbar Minta Kegiatan Maba Dievaluasi
Meski pihak kampus menyebut aksi tersebut bukan perpeloncoan, kegiatan itu mendapat sorotan dari anggota DPRD Sumatera Barat.
Anggota DPRD Sumbar dari Fraksi PDIP, Albert Hendra Lukman, meminta UNP melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB).
Menurut Albert, kegiatan pengenalan kampus seharusnya memiliki tujuan yang jelas dan memberikan manfaat bagi mahasiswa baru. Kegiatan yang berpotensi menimbulkan kritik publik perlu dievaluasi agar tidak menjadi persoalan.
“Kalau manfaatnya itu tidak terlalu signifikan dalam istilah ospek tersebut, lebih bagus ditiadakan. Daripada mengundang kritikan dari masyarakat,” tegas Albert.
Ia menilai sejumlah kegiatan yang mungkin dianggap wajar atau relevan pada masa lalu belum tentu sesuai dengan kondisi saat ini.
Perkembangan teknologi dan media sosial membuat aktivitas di lingkungan kampus dapat dengan cepat direkam dan menyebar ke masyarakat luas.
“Kalau dulu mungkin masih relevan dilaksanakan, tetapi sekarang dengan kondisi kemajuan teknologi dan sebagainya, hal seperti itu dengan cepat menyebar,” ujarnya.
Spontanitas Senior Tidak Bisa Jadi Alasan
Albert juga menyoroti alasan bahwa kegiatan tersebut dilakukan secara spontan oleh mahasiswa senior.
Menurutnya, status sebagai kegiatan spontan tidak seharusnya membuat aktivitas tersebut luput dari evaluasi kampus. Setiap kegiatan yang melibatkan mahasiswa baru tetap perlu memiliki aturan dan tujuan yang jelas.
“Namanya kampus harus ada aturan. Mahasiswa-mahasiswa yang menerima mahasiswa baru ini harus direspons dan dievaluasi. Manfaatnya apa, mudaratnya apa,” ungkapnya.
Ia meminta pihak kampus mempertimbangkan kembali pola interaksi antara mahasiswa senior dan mahasiswa baru, terutama dalam kegiatan pengenalan kehidupan kampus.
PKKMB Diminta Lebih Relevan dengan Kondisi Saat Ini
Albert berharap kejadian mahasiswa baru berjalan jongkok dapat menjadi momentum bagi UNP untuk mengevaluasi pelaksanaan PKKMB secara menyeluruh.
Menurutnya, kegiatan penyambutan mahasiswa baru seharusnya diarahkan pada pengenalan lingkungan akademik, pembentukan karakter, pengembangan kemampuan mahasiswa, serta membangun hubungan positif antara mahasiswa baru dan sivitas akademika.
Perubahan zaman juga perlu menjadi pertimbangan. Kegiatan yang dahulu dianggap sebagai bentuk spontanitas atau tradisi penyambutan belum tentu masih relevan diterapkan saat ini.
“Kalau dulu spontanitas itu dianggap masih relevan. Kemudian dulu teknologi tidak semaju sekarang. Sekarang kemajuan teknologi tidak bisa terbendung,” jelas Albert.
Dengan demikian, pihak kampus diharapkan dapat memastikan setiap aktivitas dalam PKKMB memiliki manfaat yang jelas, tidak mengandung kekerasan, tidak merendahkan mahasiswa baru, serta tetap sejalan dengan prinsip pendidikan dan lingkungan akademik yang aman.









