Bogor – Murid Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) 7 Bogor mulai menerapkan pembelajaran berbasis Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Melalui pendekatan tersebut, murid tidak hanya mempelajari teori dari berbagai mata pelajaran, tetapi juga menggunakannya untuk menganalisis masalah, menguji gagasan, melakukan pengukuran, hingga menghasilkan sebuah solusi atau prototipe. Program STEM menjadi salah satu kekhasan SNT 7 Bogor dalam menerapkan pembelajaran interdisipliner.
Proyek STEM Dimulai pada Tahun Ajaran 2026/2027
Kepala SNT 7 Bogor, Fitriyani, mengatakan pengembangan STEM dan pembelajaran interdisipliner merupakan bagian penting dari visi SNT. Program tersebut mulai diterapkan setelah pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dan masa prastudi selesai, yakni pada awal pembelajaran September 2026.
Pada jenjang SMP, salah satu proyek yang dikembangkan adalah “Misi Kurir Kemerdekaan”. Proyek ini menggabungkan Pendidikan Pancasila, Bahasa Indonesia, dan Matematika.
Dalam proyek tersebut, murid mempelajari informasi mengenai kabar kemerdekaan dan Proklamasi Indonesia yang dibawa oleh seorang kurir. Mereka kemudian menggunakan perhitungan matematika untuk menentukan kebutuhan bahan yang dapat digunakan melindungi teks Proklamasi dari air dan tekanan selama perjalanan.
Dari persoalan tersebut, murid kemudian membuat wadah pelindung menggunakan perhitungan matematis. Dengan demikian, berbagai mata pelajaran dapat terhubung dalam satu persoalan yang kontekstual dan dekat dengan kehidupan nyata.
Murid SMA Membuat Prototipe Smart Border
Pembelajaran STEM juga diterapkan pada jenjang SMA melalui proyek “Teknologi Tapal Batas”. Proyek ini memadukan Pendidikan Pancasila, Koding dan Kecerdasan Artifisial, Informatika, serta Fisika.
Murid mempelajari konsep kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), prinsip gelombang ultrasonik, pembuatan pseudocode, hingga pemrograman Arduino.
Hasil pembelajaran tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk prototipe smart border berbasis sensor yang dapat mendeteksi objek secara otomatis dan real time. Proses ini memberikan pengalaman kepada murid untuk menghubungkan konsep yang dipelajari di kelas dengan teknologi yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan tertentu.
Belajar Menganalisis Fenomena Lingkungan
Selain proyek smart border, murid kelas X SNT 7 Bogor juga mengembangkan proyek “Site Plan Ruang Terbuka Adaptif”.
Proyek tersebut menggabungkan IPA, Bahasa Indonesia, Matematika, dan Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK). Murid mempelajari fenomena urban heat island, mengolah data menggunakan diagram pencar, kemudian menyusun laporan multimodal untuk merancang ruang terbuka yang adaptif.
Rancangan tersebut dikaitkan dengan upaya mitigasi krisis iklim sekaligus peningkatan kebugaran jasmani. Pembelajaran menjadi lebih kontekstual karena murid menghubungkan materi berbagai mata pelajaran dengan persoalan lingkungan di sekitar mereka.
STEM Dorong Kemampuan Berpikir Logis dan Sistematis
Fitriyani menjelaskan bahwa penerapan pembelajaran STEM turut terlihat dalam perkembangan kemampuan murid, terutama dalam troubleshooting, berpikir logis dan sistematis, serta menerapkan sistem pengukuran dalam kegiatan ilmiah.
Dalam proyek teknologi, misalnya, murid melakukan perancangan, pengukuran jarak menggunakan sensor ultrasonik, pengujian akurasi, serta menganalisis berbagai faktor yang dapat memengaruhi hasil pengukuran.
Pendekatan tersebut juga membuat murid lebih aktif, eksploratif, inisiatif, inovatif, dan kolaboratif dalam proses pembelajaran.
Pembelajaran Interdisipliner Gunakan Teknologi AI
Selain STEM, SNT 7 Bogor juga menerapkan pembelajaran interdisipliner dengan menggabungkan sejumlah mata pelajaran untuk memahami sebuah persoalan secara lebih utuh.
Salah satunya adalah tema “Bersama Membangun Digital Positif” yang menggabungkan Pendidikan Pancasila, Bahasa Indonesia, Informatika, serta Koding dan Kecerdasan Artifisial. Murid menganalisis persoalan etika digital dan kemudian membuat kampanye positif dalam bentuk poster atau infografis.
Ada pula tema “Bio Detective: Biodiversitas Tersembunyi” yang menggabungkan IPA dan Seni Rupa. Murid berperan sebagai detektif biologi dengan memanfaatkan gawai serta teknologi seperti Gemini, Google Lens, dan Seek by iNaturalist untuk mengamati, mengidentifikasi, dan mengklasifikasikan keanekaragaman hayati di lingkungan sekolah.
Hasil pengamatan kemudian diolah menjadi infografis digital dan dipamerkan melalui kegiatan gallery walk.
STEM Dukung Pembelajaran Mendalam
Menurut Fitriyani, STEM, pembelajaran interdisipliner, dan pembelajaran mendalam memiliki hubungan yang erat. Melalui STEM, persoalan diberikan dalam konteks dunia nyata. Sementara pembelajaran interdisipliner memungkinkan murid menggunakan berbagai disiplin ilmu untuk mencari solusi.
Proses tersebut kemudian mendorong murid berpikir kritis, menguji gagasan, dan menciptakan solusi. Dengan demikian, murid tidak hanya memahami konsep pembelajaran, tetapi juga memperoleh pengalaman menerapkannya dalam persoalan yang nyata.
Penerapan STEM di SNT 7 Bogor menjadi bagian dari upaya menghadirkan pembelajaran yang kontekstual dan bermakna. Berbagai proyek yang dikembangkan memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar melalui proses menemukan masalah, melakukan analisis, mengembangkan ide, menguji solusi, hingga menghasilkan karya.
Pendekatan tersebut sejalan dengan tujuan SNT 7 Bogor untuk menyediakan lingkungan belajar yang dapat mengembangkan potensi akademik maupun nonakademik murid secara lebih optimal. SNT 7 Bogor merupakan salah satu dari 17 Sekolah Nasional Terintegrasi yang mulai memberikan layanan pendidikan pada tahun ajaran 2026/2027.








