Nagekeo – Sebanyak 70 siswa SD Negeri Kaburea, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih mengikuti kegiatan belajar mengajar di tenda darurat setelah bangunan sekolah terdampak gempa. Tenda terpal digunakan sebagai ruang kelas sementara untuk menjaga kegiatan pendidikan tetap berjalan sekaligus mengutamakan keselamatan siswa dan guru.
Kondisi tersebut terlihat pada Rabu, 30 September 2026. Para siswa dan guru tetap menjalankan aktivitas pembelajaran meskipun fasilitas yang tersedia tidak seperti ruang kelas permanen. Pembelajaran di tenda menjadi salah satu bentuk penyesuaian sekolah terhadap kondisi pascabencana.
Bangunan Sekolah Terdampak Gempa
Penggunaan tenda darurat dilakukan karena bangunan SD Negeri Kaburea terdampak gempa. Selain kondisi bangunan yang belum memungkinkan digunakan secara normal, tenda juga menjadi pilihan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya gempa susulan.
Dengan kondisi tersebut, kegiatan belajar dipindahkan sementara ke lokasi yang dianggap lebih aman. Guru tetap mendampingi siswa selama pembelajaran berlangsung sehingga proses pendidikan dapat terus berjalan di tengah situasi pascabencana.
Siswa Tetap Belajar di Tengah Keterbatasan
Tenda terpal yang digunakan sebagai ruang kelas tentu memiliki fasilitas berbeda dibandingkan ruang belajar permanen. Meski demikian, para siswa tetap mengikuti pembelajaran bersama guru.
Kondisi ini menunjukkan bahwa layanan pendidikan tetap diupayakan berjalan meskipun sarana dan prasarana sekolah mengalami dampak bencana. Kegiatan belajar di ruang darurat menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan pendidikan bagi siswa yang terdampak.
Gempa Flores Berdampak pada Ribuan Satuan Pendidikan
Gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores pada 15 Agustus 2026 berdampak luas terhadap sektor pendidikan di NTT. Berdasarkan data Kemendikdasmen hingga 10 September 2026, tercatat 2.447 satuan pendidikan terdampak, dengan 287.864 peserta didik serta 32.585 guru dan tenaga kependidikan terdampak langsung.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.960 satuan pendidikan masih menyelenggarakan pembelajaran dalam mode darurat pada pertengahan September. Kegiatan belajar dilakukan di tenda, ruang terbuka, maupun ruang kelas darurat.
Keselamatan Menjadi Prioritas
Kemendikdasmen sebelumnya mengarahkan sekolah untuk menghentikan sementara penggunaan ruang kelas yang rusak dan memindahkan pembelajaran ke ruang yang aman, tenda belajar, atau menyesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah.
Penilaian terhadap kondisi bangunan dilakukan melalui asesmen keamanan. Ruang kelas yang masuk kategori kuning dan merah tidak digunakan sampai dinyatakan aman. Sekolah yang mengalami kerusakan ringan dapat kembali digunakan setelah bagian yang membahayakan ditangani atau diperbaiki.
Kemendikdasmen Siapkan Tenda Pembelajaran Darurat
Untuk menjaga keberlangsungan pendidikan setelah gempa Flores, Kemendikdasmen sebelumnya menyiapkan 50 tenda ruang kelas darurat untuk wilayah terdampak. Bantuan tersebut juga disertai berbagai perlengkapan sekolah dan kebutuhan pendukung bagi warga satuan pendidikan.
Selain sarana fisik, pemerintah juga menyiapkan dukungan psikososial bagi warga sekolah yang terdampak bencana. Data Kemendikdasmen pada September menunjukkan terdapat 101.888 peserta didik dari 857 satuan pendidikan yang membutuhkan pendampingan psikososial.
Pembelajaran Tetap Berjalan Pascabencana
Kondisi 70 siswa SD Negeri Kaburea yang belajar di tenda darurat menjadi gambaran proses pemulihan pendidikan setelah gempa di NTT. Di tengah kerusakan bangunan dan ancaman gempa susulan, kegiatan belajar tetap dilaksanakan dengan menyesuaikan kondisi lapangan.
Pembelajaran darurat diharapkan menjadi solusi sementara sampai ruang kelas yang terdampak dapat dipastikan aman untuk digunakan kembali. Sementara itu, proses asesmen dan pemulihan sarana pendidikan terus dilakukan di sejumlah wilayah terdampak gempa Flores.








