Dari Menangis hingga Kesulitan Menulis, Guru Diajak Menyesuaikan Pembelajaran dengan Kebutuhan Murid
Jakarta, 21 Agustus 2026 — Pembelajaran Mendalam membantu guru mengubah kesulitan menulis yang dialami peserta didik menjadi pengalaman belajar yang lebih berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.
Hal tersebut terungkap dalam kegiatan bedah buku “Menulis Tanpa Menangis” yang diselenggarakan Pusat Perbukuan, Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi guru untuk berbagi pengalaman sekaligus menemukan strategi yang dapat diterapkan dalam pembelajaran di kelas.
Melalui pendekatan Pembelajaran Mendalam, guru didorong untuk tidak sekadar meminta murid lebih banyak berlatih menulis. Guru perlu terlebih dahulu memahami penyebab kesulitan yang dialami setiap anak, kemudian menyesuaikan proses pembelajaran berdasarkan kebutuhan mereka.
Kesulitan Menulis Tidak Selalu karena Malas
Bagi murid, menulis bukan hanya aktivitas menyusun huruf di atas kertas. Proses tersebut melibatkan kemampuan memahami, berkonsentrasi, mengoordinasikan gerakan, serta membangun kepercayaan diri.
Karena itu, kesulitan menulis tidak seharusnya langsung dianggap sebagai bentuk kemalasan. Guru perlu melihat kondisi setiap peserta didik dan mencari strategi yang paling sesuai.
Pengalaman tersebut diceritakan Redha, guru kelas III sekolah dasar negeri di Depok. Setelah mempelajari buku “Menulis Tanpa Menangis”, ia mulai melihat kesulitan menulis murid dari sudut pandang berbeda.
Salah satu muridnya, Lutfy, membutuhkan waktu lama untuk menulis dan kesulitan memberikan jarak antarkata. Redha kemudian menempatkan Lutfy di bagian depan kelas, mendekatkan materi yang harus disalin, serta memberikan salinan soal agar murid tidak terus-menerus memindahkan pandangan antara papan tulis dan buku.
Untuk membantu Lutfy mengatur jarak antarkata, guru menggunakan stik es krim atau ruas jari sebagai penanda. Waktu pengerjaan juga disesuaikan dengan kebutuhan murid.
Hasilnya, perubahan mulai terlihat. Lutfy yang sebelumnya dapat menangis hingga tiga kali sehari karena tugas menulis dari tiga mata pelajaran, kini tidak lagi menangis ketika menulis. Ia bahkan mampu menyelesaikan setidaknya setengah catatan setiap mata pelajaran, meskipun sebagian dilanjutkan di rumah.
Strategi Sederhana Bisa Membantu Murid
Kasus lainnya dialami Una yang mengeluhkan cepat lelah saat menulis. Setelah diamati, ternyata Una memberikan tekanan pensil terlalu kuat hingga tulisannya menembus beberapa halaman.
Guru kemudian menempatkan Una di depan kelas dan memperbesar ukuran pegangan pensil menggunakan kain perca atau pencil grip. Dalam satu bulan, Una mampu menyelesaikan tugas menulisnya.
Jumlah halaman tulisan yang sebelumnya dapat menembus hingga enam halaman juga berkurang menjadi sekitar tiga halaman.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa mengatasi kesulitan menulis tidak selalu harus dilakukan dengan menambah jumlah latihan. Penyesuaian sederhana yang tepat sasaran justru dapat membantu murid belajar dengan lebih nyaman.
Pembelajaran Mendalam Dorong Murid Memahami dan Merefleksi
Pendekatan tersebut sejalan dengan kerangka Pembelajaran Mendalam yang dikembangkan Kemendikdasmen. Dalam pendekatan ini, guru perlu merancang pengalaman belajar yang memungkinkan peserta didik memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan apa yang dipelajari sesuai tahap perkembangannya.
Kemampuan menulis menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Murid tidak hanya membaca atau menerima informasi, tetapi juga perlu memahami, mengolah, kemudian menuangkan kembali pemahamannya melalui tulisan.
Dengan demikian, kegiatan menulis dapat menjadi salah satu cara bagi guru untuk mengetahui sejauh mana peserta didik memahami materi yang dipelajari.
Guru Perlu Kenali Kebutuhan Setiap Anak
Kegiatan bedah buku tersebut mendapat respons positif dari guru berbagai jenjang. Wahyu Rinaningsih, guru kelas di SLB Negeri 10 Jakarta, menilai buku “Menulis Tanpa Menangis” relevan terutama bagi guru yang mengajar peserta didik kelas I dan II yang baru mulai belajar menulis.
Sementara itu, Nia, guru SD Negeri Katulampa 5 Bogor, menilai buku tersebut memberikan strategi untuk menghadapi berbagai persoalan menulis, termasuk anak yang enggan menulis maupun yang mengalami kesulitan tertentu.
Menurutnya, pengetahuan yang diperoleh dari kegiatan tersebut dapat dibagikan kepada guru lainnya sehingga semakin banyak pendidik yang memiliki strategi dalam mendampingi murid.
Pada akhirnya, penguatan literasi bukan sekadar tentang seberapa banyak anak menulis. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana anak mengalami proses belajar tersebut.
Ketika guru memahami kesulitan murid dan berani menyesuaikan pembelajaran, aktivitas membaca dan menulis yang sebelumnya menjadi sumber tekanan dapat berubah menjadi pengalaman belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.









