Polemik mengenai kesejahteraan dosen kembali menjadi sorotan setelah muncul usulan agar pendapatan dosen di Indonesia ditingkatkan hingga Rp20 juta–Rp50 juta per bulan. Kalangan akademisi menilai peningkatan kesejahteraan diperlukan agar dosen dapat menjalankan tugas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat secara optimal.
Ketua Umum Asosiasi Dosen Akademisi dan Keahlian Seluruh Indonesia (Adaksi), Anggun Gunawan, menjelaskan bahwa angka tersebut bukan sekadar usulan gaji pokok, melainkan total pendapatan yang layak berdasarkan konsep living wage atau penghasilan yang mampu memenuhi kebutuhan hidup dosen beserta keluarganya.
Adaksi mengusulkan besaran pendapatan dosen berdasarkan jenjang jabatan akademik sebagai berikut:
- Asisten Ahli: Rp20 juta per bulan
- Lektor: Rp30 juta per bulan
- Lektor Kepala: Rp40 juta per bulan
- Profesor atau Guru Besar: Rp50 juta per bulan
Menurut Adaksi, peningkatan kesejahteraan dosen memiliki beberapa tujuan utama, antara lain menjaga independensi akademik, mendukung biaya riset dan publikasi ilmiah, membiayai keikutsertaan dalam konferensi akademik, menyediakan akses terhadap literatur ilmiah, serta meningkatkan kualitas lulusan dan daya saing pendidikan tinggi.
Selain itu, pendapatan yang memadai diharapkan dapat mengurangi ketergantungan dosen pada pekerjaan sampingan sehingga mereka dapat lebih fokus menjalankan tridarma perguruan tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Anggun menegaskan bahwa dosen merupakan profesi yang membutuhkan kompetensi tinggi dan memiliki peran strategis dalam mencetak sumber daya manusia berkualitas. Karena itu, menurutnya, sistem penghasilan dosen sebaiknya mengacu pada standar pendapatan yang layak dan bermartabat, bukan hanya berdasarkan upah minimum.
Usulan tersebut menjadi bagian dari diskusi yang lebih luas mengenai peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik di perguruan tinggi. Banyak kalangan berharap perhatian terhadap kesejahteraan dosen dapat berdampak pada meningkatnya mutu pendidikan tinggi, produktivitas riset, serta inovasi yang mendukung pembangunan nasional.










