Jakarta – Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 menunjukkan Singapura menjadi negara dengan skor membaca tertinggi. Capaian tersebut berdasarkan penilaian terhadap kemampuan siswa berusia sekitar 15 tahun dalam memahami dan menggunakan informasi dari berbagai teks.
PISA 2025 melibatkan sekitar 760.000 siswa dari 91 negara dan ekonomi. Selain membaca, PISA juga mengukur kemampuan matematika, sains, serta pemecahan masalah komputasional.
Singapura Raih Skor Membaca Tertinggi
Singapura memperoleh skor rata-rata 535 poin dalam kemampuan membaca PISA 2025. OECD menempatkan Singapura sebagai sistem pendidikan dengan capaian membaca tertinggi dalam penilaian tersebut.
B-S-J-Z (China) berada setelah Singapura dengan skor 527 poin. OECD mencatat kedua sistem pendidikan tersebut menjadi dua yang memiliki performa tertinggi secara keseluruhan pada sejumlah domain PISA 2025.
Asia Mendominasi 10 Besar
Negara dan wilayah Asia mendominasi daftar dengan skor membaca tertinggi. Enam dari 10 posisi teratas ditempati Singapura, China, Taiwan atau Chinese Taipei, Jepang, Makau, dan Korea Selatan.
Sementara itu, Eropa diwakili Irlandia, Estonia, dan Inggris Raya. Selandia Baru menjadi satu-satunya negara di luar Asia dan Eropa yang masuk dalam daftar 10 besar versi DetikEdu.
Daftar 10 Negara dengan Skor Membaca Tertinggi
Berikut daftar skor membaca yang dikutip dari hasil PISA 2025:
- Singapura – 535 poin
- China/B-S-J-Z – 527 poin
- Taiwan/Chinese Taipei – 508 poin
- Jepang – 503 poin
- Makau – 501 poin
- Korea Selatan – 501 poin
- Irlandia – 500 poin
- Estonia – 499 poin
- Selandia Baru – 497 poin
- Inggris Raya (UK) – 494 poin
OECD mengonfirmasi skor Singapura sebesar 535 poin, B-S-J-Z (China) 527 poin, Chinese Taipei 508 poin, Jepang 503 poin, dan Makau 501 poin.
Indonesia Raih 365 Poin
Indonesia memperoleh skor rata-rata 365 poin dalam kemampuan membaca PISA 2025. Angka ini meningkat dibandingkan PISA 2022 yang mencatat skor 359 poin.
Menurut OECD, rata-rata skor membaca negara-negara OECD pada PISA 2025 adalah 461 poin. Dengan demikian, skor Indonesia masih berada di bawah rata-rata OECD.
DetikEdu menyebut skor 365 poin tersebut menempatkan Indonesia di posisi ke-74 dari 90 negara dalam pemeringkatan yang mereka gunakan. Namun, peringkat tersebut perlu dibaca sesuai cakupan negara atau ekonomi yang masuk dalam perbandingan.
Baru 27 Persen Siswa Indonesia Capai Level 2
Data OECD menunjukkan sekitar 27 persen siswa Indonesia mencapai Level 2 atau lebih tinggi dalam kemampuan membaca. Rata-rata OECD berada pada angka 69 persen.
Pada Level 2, siswa setidaknya mampu menemukan gagasan utama dalam teks dengan panjang sedang, mencari informasi berdasarkan kriteria tertentu, serta melakukan refleksi terhadap tujuan dan bentuk teks ketika diarahkan.
Hampir Tidak Ada Siswa Indonesia di Level 5 atau Lebih
Tantangan juga terlihat pada kelompok siswa dengan kemampuan membaca tingkat tinggi. OECD mencatat hampir tidak ada siswa Indonesia yang mencapai Level 5 atau lebih tinggi, sementara rata-rata OECD mencapai sekitar 6 persen.
Siswa pada Level 5 atau lebih tinggi diharapkan mampu memahami teks yang panjang, menangani konsep yang abstrak atau berlawanan dengan intuisi, serta membedakan fakta dan opini berdasarkan petunjuk yang tersirat dalam teks maupun sumber informasi.
Kemampuan Membaca Singapura
Capaian Singapura tidak hanya terlihat dari skor rata-rata. OECD mencatat sekitar 21,9 persen siswa Singapura berada pada Level 5 atau 6 dalam membaca, salah satu proporsi tertinggi di antara peserta PISA 2025.
Sementara itu, proporsi siswa Singapura yang berada di bawah Level 2 hanya sekitar 14,1 persen. Data tersebut menunjukkan distribusi kemampuan membaca siswa di Singapura, selain skor rata-ratanya yang mencapai 535 poin.
Skor Membaca OECD Mengalami Penurunan
Secara keseluruhan, OECD mencatat rata-rata skor membaca negara-negara OECD pada 2025 berada di angka 461 poin. Performa membaca rata-rata OECD turun 14 poin dibandingkan 2022 dan 28 poin dibandingkan 2015.
OECD menyebut PISA 2025 mencatat rata-rata performa membaca, matematika, dan sains terendah yang pernah tercatat untuk negara-negara OECD.
PISA Mengukur Penerapan Pengetahuan
PISA tidak hanya mengukur kemampuan siswa menghafal materi. Asesmen ini dirancang untuk melihat sejauh mana siswa dapat menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh untuk menghadapi berbagai persoalan.
Dalam kemampuan membaca, siswa perlu memahami informasi, menemukan gagasan, menghubungkan informasi, serta mengevaluasi isi teks dan sumbernya. Karena itu, hasil PISA dapat menjadi salah satu sumber informasi untuk melihat kemampuan literasi siswa dalam konteks internasional.








